ilustrasi beruang di hutan (pexels.com/JankoFerlic)
Para ahli menjelaskan meningkatnya pertemuan manusia dengan beruang berkaitan dengan kondisi hewan yang keluar dari masa hibernasi dalam keadaan lapar. Pada saat yang sama, ketersediaan sumber makanan alami seperti biji ek mengalami fluktuasi sehingga mendorong beruang mencari makan di area lain.
Faktor demografi turut disebut berperan dalam perubahan tersebut. Berkurangnya populasi di wilayah pedesaan akibat perpindahan generasi muda ke kota membuat sejumlah kawasan pinggiran menjadi lebih menarik bagi satwa liar.
Di Pulau Honshu, populasi beruang hitam Asia diperkirakan berada pada kisaran 12 ribu hingga 42 ribu ekor. Spesies ini dapat tumbuh hingga 1,5 meter dengan berat mencapai 120 kilogram.
Beruang hitam Asia berbeda dengan beruang cokelat yang hanya hidup di Pulau Hokkaido. Beruang cokelat jantan dapat mencapai tinggi sekitar dua meter dengan berat hingga 400 kilogram dan memiliki populasi sekitar 12 ribu ekor.
Kasus di Utsunomiya menonjol karena kota tersebut hanya mencatat dua laporan penampakan beruang yang belum terkonfirmasi pada tahun sebelumnya. Pemerintah daerah kini mulai mempertimbangkan penggunaan CCTV yang dipadukan dengan analisis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau pergerakan hewan tersebut.
Perluasan wilayah jelajah beruang juga terlihat dari sejumlah kejadian lain di Jepang. Di antaranya adalah insiden beruang yang melukai seorang pendaki asal Rusia di Okutama serta kemunculan beruang lainnya di Hachioji.