Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CAMS: Nyaris 40 Persen Warga Dunia Terpapar Polusi Ozon pada 2026
ilustrasi polusi udara kota (unsplash.com/Alex Gindin)
  • CAMS melaporkan hampir 40 persen populasi dunia terpapar ozon permukaan berbahaya selama delapan bulan pertama 2026, dipicu panas ekstrem dan polusi aktivitas manusia.
  • Asia menjadi kawasan paling terdampak, dengan 90 persen penduduk terpapar ozon buruk hingga sangat amat buruk; Eropa dan Amerika Utara juga mencatat paparan tinggi.
  • Asap kebakaran serta debu gurun menyebar lintas benua, sementara ozon dari pembakaran fosil dan suhu tinggi mengancam kesehatan, ekosistem, serta hasil panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Hampir 40 persen populasi dunia terpapar polusi ozon permukaan pada tingkat yang membahayakan sepanjang delapan bulan pertama 2026. Temuan ini dipublikasikan oleh Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) pada Rabu (30/9/2026) dalam laporan bertajuk CAMS Atmosphere Watch. Tingginya paparan tersebut didorong oleh kombinasi antara panas ekstrem dan polusi udara akibat aktivitas manusia di berbagai belahan dunia.

Menurut CAMS, hanya sekitar lima persen penduduk global yang terpapar kadar ozon berkategori baik menurut pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Wilayah Asia tercatat sebagai kawasan yang paling terdampak oleh paparan ozon tersebut, disusul oleh Eropa dan Amerika Utara.

1. Populasi Asia dan Eropa hadapi paparan tingkat ozon buruk

ilustrasi kabut polusi perkotaan (unsplash.com/Rynco Maekawa)

Di Asia, sekitar 60 persen penduduk terpapar ozon berkategori sangat amat buruk sepanjang 2026. Angka keterpaparan tersebut melonjak menjadi 90 persen jika digabungkan dengan populasi yang terpapar kadar ozon berkategori buruk dan sangat buruk. Catatan ini menempatkan Asia sebagai kawasan dengan dampak paparan ozon terparah di dunia.

Di Eropa, sebanyak 50 persen populasi mengalami paparan ozon berkategori buruk, sangat buruk, atau sangat amat buruk. Rangkaian gelombang panas berulang antara Juni hingga Agustus 2026 berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi ozon di kawasan tersebut. Sementara itu, lebih dari dua pertiga populasi Amerika Utara mengalami tingkat paparan serupa, dengan emisi dari kebakaran hutan besar yang turut mendongkrak konsentrasi ozon.

2. Asap kebakaran dan debu gurun melintasi batas benua

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Atlantic Ambience)

Laporan CAMS menyoroti polusi udara lintas batas yang mampu menempuh jarak ribuan kilometer melintasi perbatasan negara dan samudra. Di Amerika Utara, kebakaran hutan hebat menghasilkan kepulan asap yang bergerak hingga ke beberapa bagian Eropa serta berkontribusi secara lokal menaikkan konsentrasi partikel halus PM2.5. Kebakaran besar di Prancis, Spanyol, Belgia, dan Inggris juga memicu sebaran asap pekat yang berdampak pada kualitas udara ratusan kilometer dari sumber api.

Debu dari wilayah gurun dunia turut menjadi sumber pencemaran udara yang berulang kali tercatat sepanjang 2026. Emisi debu dari Gurun Sahara terbawa dari Afrika Utara melintasi Samudra Atlantik atau Laut Mediterania menuju Eropa, Karibia, dan kawasan lainnya. Sebaliknya, Oseania mencatatkan paparan ozon terendah dengan seluruh populasinya berada di kategori baik atau sedang, disusul Amerika Selatan sebesar 81 persen dan Afrika sebesar 56 persen.

3. Ozon permukaan terkait erat dengan iklim dan kesehatan

ilustrasi cahaya matahari (pexels.com/Lukas)

Ozon permukaan terbentuk dari ribuan reaksi kimia antara senyawa organik volatil dan gas nitrogen oksida yang terutama dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Reaksi kimia ini dipicu oleh radiasi sinar matahari dan suhu tinggi, serta membahayakan kesehatan manusia, ekosistem, hingga hasil panen pertanian. Ozon tergolong gas rumah kaca, dan temperatur yang lebih tinggi menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan ozon sehingga memicu fenomena penalti iklim-ozon.

Direktur Jenderal ECMWF Florian Pappenberger menegaskan bahwa polusi udara bergerak tanpa memedulikan batas teritorial negara. "Atmosphere Watch menunjukkan bahwa polusi udara tidak mengenal batas. Asap kebakaran hutan, ozon, dan debu dapat menyebar hingga ribuan kilometer, sehingga berdampak pada masyarakat yang berada jauh dari sumbernya," ujar Pappenberger. Manajer Program di WHO European Centre for Environment, Climate Change and Health Dorota Jarosińska menambahkan bahwa polusi udara di Eropa terkait dengan penyakit jantung, strok, kanker paru-paru, dan penyakit pernapasan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article