Serangan udara dan darat Israel di wilayah Gaza, telah menghancurkan wilayah kantong tersebut sejak perang Israel-Hamas meletus pada 7 Oktober 2023. Pihaknya juga terus mengendalikan semua akses ke Gaza. (x.com/UNLazzarini)
Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza masih rapuh. Mereka terus hidup di bawah ancaman serangan Israel, pengungsian, dan tantangan ketahanan pangan yang terjadi secara berkala.
Dilansir BBC, gencatan senjata yang dimulai pada Oktober 2025 telah menghentikan pemboman berskala besar, tetapi serangan harian dan pembunuhan yang dilakukan oleh Israel terus berlanjut. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas akibat serangan Israel dalam kurun waktu satu tahun terakhir setelah gencatan senjata berlaku.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat merupakan tahap pertama dari kesepakatan untuk mengakhiri eskalasi konflik, yang pecah setelah meletusnya perang pada 7 Oktober 2023. Namun, perundingan untuk melanjutkan kesepakatan ke tahap berikutnya masih terhambat oleh tuduhan saling melanggar ketentuan antara Israel dan Hamas.
Tiga tahun serangan Israel telah menewaskan setidaknya 74 ribu warga Palestina, termasuk 21 ribu anak-anak. Angka tersebut sekitar 1 dari setiap 30 orang, atau 3 persen dari populasi sebelum perang. Otoritas Palestina hanya menghitung kematian yang tercatat di rumah sakit atau yang terdaftar secara resmi. Jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi karena tidak termasuk orang yang masih terkubur di bawah reruntuhan atau hilang, Al Jazeera melaporkan.