ilustrasi dekorasi emas untuk tahun baru China (freepik.com/freepik)
Untuk mendukung peningkatan belanja, pemerintah pusat menyatakan akan menerbitkan lebih dari 360 juta yuan atau sekitar Rp876,6 triliun dalam bentuk voucher konsumen pada Februari.
George Magnus, peneliti di Pusat Studi China Universitas Oxford, mengatakan bahwa momentum Imlek memang berdampak signifikan bagi sektor ritel “Tidak diragukan lagi bahwa (Tahun Baru Imlek) memberikan dorongan besar bagi peritel dan penyedia layanan konsumen yang jika tidak mungkin akan mengalami Februari yang cukup sepi,” ujarnya.
Namun secara makro, ekonomi China masih menghadapi tantangan struktural. Rumah tangga China menyimpan sekitar sepertiga dari pendapatan mereka—angka yang tergolong tinggi—sementara pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) masih banyak ditopang oleh ekspor.
Pada tahun lalu, penjualan ritel nasional—yang menjadi indikator belanja konsumen—tumbuh 3,7 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDB keseluruhan sebesar 5 persen.
Peningkatan permintaan domestik akan menjadi prioritas dalam rencana pembangunan lima tahun berikutnya yang akan disetujui parlemen China pada Maret.
Partai Komunis telah menyatakan akan fokus pada upaya untuk secara kuat meningkatkan konsumsi. Pada Januari, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional menyampaikan mereka akan merumuskan rencana aksi untuk memperluas permintaan domestik dalam lima tahun ke depan.
Salah satu peluang pertumbuhan berada di sektor jasa seperti perawatan lansia, hiburan, dan layanan kesehatan, yang tumbuh 5,5 persen tahun lalu dan dinilai masih memiliki ruang ekspansi lebih besar dibandingkan sektor barang konsumsi.