Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Deretan Tujuan China Terapkan Bebas Tarif untuk Afrika, Apa Saja?

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Intinya sih...
  • Kebijakan memperluas akses ekspor Afrika ke pasar China.
  • Langkah memperkuat kerja sama ekonomi China dan Afrika.
  • Kebijakan menjaga pasokan bahan baku strategis bagi industri China.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - China menetapkan kebijakan bebas tarif atau zero-tariff treatment bagi hampir seluruh barang dari 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Beijing. Kebijakan ini tak berlaku untuk Eswatini karena negara tersebut masih menjalin relasi diplomatik dengan Taiwan.

Aturan itu mulai efektif pada 1 Mei 2026 dan memperluas skema preferensi yang telah berjalan sebelumnya. Sejak 2024, negara kurang berkembang di Afrika sudah memperoleh akses bebas bea untuk 97–98 persen pos tarif, dan kini fasilitas tersebut diperluas ke lebih banyak negara.

Lalu, apa saja sasaran utama di balik kebijakan tersebut?

1. Kebijakan memperluas akses ekspor Afrika ke pasar China

ilustrasi ekspor (pexels.com/Mark Stebnicki)
ilustrasi ekspor (pexels.com/Mark Stebnicki)

Melalui skema ini, hampir seluruh produk dari 53 negara Afrika dapat memasuki pasar China tanpa dikenai bea masuk. Sebelumnya, fasilitas serupa hanya dinikmati negara-negara kurang berkembang. Dengan aturan baru, cakupan penerima manfaat menjadi lebih luas.

Dampak awal terlihat di sektor pertanian. Dilansir dari Business Insider Africa, Kepala Eksekutif Dewan Teh Kenya, Willy Mutai, menyebut penghapusan tarif sebagai dorongan besar bagi ekspor teh Kenya ke China. Ia memproyeksikan volume ekspor meningkat dari 4 juta kilogram pada tahun lalu menjadi 20 juta kilogram pada 2027, bahkan berpotensi mencapai 50 juta kilogram pada 2030.

Mutai juga menilai pertumbuhan tersebut akan memicu kompetisi yang lebih ketat. Petani berpeluang memperoleh harga lebih baik dalam lelang teh jenis crush, tear, curl, sementara produsen teh orthodox bisa menambah pendapatan minimal 1 dolar AS (setara Rp16,84 ribu) per kilogram, sekitar 35 persen di atas rata-rata harga lelang saat ini yang berkisar 2 dolar AS (setara Rp33,68 ribu).

Organisasi alpukat Kenya turut menyambut kebijakan itu. Mereka melihat peluang untuk meningkatkan ekspor sekaligus mendongkrak pendapatan petani. Saat ini, penyesuaian standar produksi tengah dilakukan agar alpukat memenuhi persyaratan ketat China terkait pengendalian hama dan kadar bahan kering.

2. Langkah memperkuat kerja sama ekonomi China dan Afrika

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)
ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Beijing menempatkan kebijakan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang guna memperbesar nilai perdagangan serta mempererat kolaborasi ekonomi dengan Afrika. Ke depan, rencana tersebut akan diiringi pembentukan perjanjian kemitraan ekonomi bersama dan berbagai inisiatif untuk mempermudah proses perdagangan.

Interaksi pejabat tinggi terus berlangsung. Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa berkunjung ke China untuk membahas isu perdagangan. Menteri Perdagangan, Industri dan Persaingan Afrika Selatan Parks Tau bersama Menteri Perdagangan China Wang Wentao kemudian menandatangani kerangka kerja sama non-binding dalam pertemuan Komisi Bersama Ekonomi dan Perdagangan, menjadikan Afrika Selatan negara Afrika ke-33 yang menyelesaikan kerangka serupa.

Di sisi lain, negosiasi Perjanjian Panen Awal ditargetkan tuntas pada Maret 2026. Setelah disepakati, ekspor Afrika Selatan akan langsung memperoleh fasilitas bebas tarif ke pasar China.

3. Kebijakan menjaga pasokan bahan baku strategis bagi industri China

ilustrasi pengeboran minyak di laut (pexels.com/GANESH RAMSUMAIR)
ilustrasi pengeboran minyak di laut (pexels.com/GANESH RAMSUMAIR)

Afrika masih menjadi sumber utama bahan mentah bagi China, termasuk minyak mentah, tembaga, kobalt, hingga bijih besi. Pada 2023, komoditas tersebut menyumbang sekitar 40 persen dari total impor China dari negara kurang berkembang di Afrika, diikuti bahan baku non-makanan serta barang setengah jadi.

Dengan fasilitas bebas tarif, arus bahan mentah ke China berjalan tanpa tambahan bea masuk. Dalam periode Januari hingga Agustus 2025, impor China dari Afrika naik 2,3 persen menjadi 81,25 miliar dolar AS (setara Rp1.368,65 triliun), sementara ekspor China ke Afrika melonjak 24,7 persen hingga 140,79 miliar dolar AS (setara Rp2.371,90 triliun).

Selain itu, China meningkatkan pemasokan panel surya ke Afrika. Sepanjang Juli 2024 sampai Juni 2025, kapasitas panel surya China yang dikirim ke Afrika mencapai 15.032 megawatt, meningkat 60 persen dibanding periode sebelumnya.

4. Strategi memperkuat posisi geopolitik China di Global South

ilustrasi peta Afrika
ilustrasi peta Afrika (pexels.com/Nothing Ahead)

Pendekatan bebas tarif China berbeda dari program perdagangan negara Barat. Skema Everything But Arms milik Uni Eropa hanya memberikan pembebasan bea bagi negara kurang berkembang, sedangkan negara lain harus melalui negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi.

Sementara itu, Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA) dari Amerika Serikat menyediakan akses bebas bea dengan cakupan selektif, bersifat sementara, dan dapat dihentikan sewaktu-waktu. Tawaran China mencakup lebih banyak negara dan tak disertai persyaratan serupa, di tengah tren proteksionisme global.

China juga berencana memperluas green channel atau saluran hijau untuk menyederhanakan prosedur kepabeanan serta memangkas hambatan logistik bagi eksportir Afrika. Langkah ini memperkuat kehadiran Beijing di kalangan negara Global South.

5. Upaya mendorong pembangunan bersama dan menekan defisit perdagangan

ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)
ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/Tiger Lily)

Pemerintah China menyatakan kebijakan ini membantu negara Afrika meningkatkan ekspor, memperdalam partisipasi dalam rantai nilai global, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Beijing juga menegaskan komitmen menyediakan dana khusus dan berbagai produk keuangan bagi perusahaan yang beroperasi di Afrika.

Selama delapan bulan pertama 2025, defisit perdagangan Afrika terhadap China tercatat 59,55 miliar dolar AS (setara Rp1.002 triliun), mendekati angka sepanjang 2024 yang mencapai 61,93 miliar dolar AS (setara Rp1.042 triliun). Penghapusan tarif diharapkan mendorong peningkatan ekspor Afrika sehingga selisih tersebut dapat berkurang.

Pendiri sekaligus direktur Jaringan Ekonomi Antar Wilayah di Kenya, James Shikwati, menyatakan kebijakan tersebut mengirimkan pesan penting bagi negara-negara Afrika terkait arah pasar global.

“Ini mengirimkan sinyal jelas ke Afrika bahwa, meskipun proteksionisme meningkat di tempat lain, pasar China tetap terbuka dengan tarif nol,” katanya, dikutip dari China Daily.

Ia menyebut keberhasilan kebijakan itu bergantung pada kesiapan, termasuk pemahaman terhadap struktur dan permintaan pasar China serta partisipasi dalam pameran di negara tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

4 Faktor Penentu Kinerja Saham dalam Jangka Panjang

16 Feb 2026, 08:03 WIBBusiness