Perusahaan Asal China, Jepang, dan Prancis Ikut Garap Proyek WTE

- Perusahaan asal Prancis, China, dan Jepang ikut garap proyek WTE di Indonesia
- Perusahaan asing wajib membentuk konsorsium dan memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah
- Indonesia sudah menggunakan teknologi Mitsubishi untuk mengolah sampah menjadi energi listrik sejak 2019
Jakarta, IDN Times - Tahapan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) akan memasuki proses lelang.
Terdapat 24 peserta yang merupakan perusahaan internasional berpengalaman. Dari sejumlah perusahaan yang menjadi peserta tender WTE, tiga di antaranya berasal dari Prancis, China, dan Jepang. Berikut rinciannya.
1. Profil tiga perusahaan asing yang ikut tender WTE

Pertama, ada Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd yang berbasis di Prancis. Veolia Environmental Services Asia Pte Ltd tergabung di dalam grup multinasional Veolia asal Prancis yang bergerak di bidang pengelolaan air, limbah, dan energi. Dalam skala global, mereka hadir di 50 negara dengan jutaan pelanggan di seluruh dunia.
Perusahaan ini mendirikan pabrik daur ulang Polyethylene Terephthalate (PET) berkapasitas 25 ribu ton per tahun di Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan. Pabrik itu memproduksi PET food grade yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Kedua, ada China Conch Venture Holding Limited, yakni perusahaan yang berasal dari Wuhu, Provinsi Anhui, China. Berdiri sejak 2013, perusahaan ini berfokus pada pelestarian energi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan infrastruktur.
Ketiga, Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (Jepang). Mitsubishi Heavy Industries Environmental and Chemical Engineering (MHIECE) adalah pemain lama dalam proyek lingkungan dan energi bersih di dunia. Jejak anak perusahaan ini sudah dikenal di Singapura untuk program Waste-to-Energy (WtE), yakni di Tuas South.
Proyek senilai 750 juta dolar Singapura yang dikenal dengan TuasOne Waste-to-Energy Plant Project itu adalah salah satu contoh bagi sejumlah tempat yang memulai program pengolahan sampah menjadi energi, termasuk Indonesia.
2. Perusahaan asing wajib bentuk konsorsium

Secara keseluruhan, terdapat 24 peserta yang merupakan perusahaan internasional berpengalaman. Perusahaan-perusahaan yang lolos menjadi peserta tender iitu diwajibkan membentuk konsorsium.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, mengatakan konsorsium yang nantinya dibentuk oleh peserta tender ini diharapkan bisa memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda).
Untuk tahap pertama, Danantara Indonesia memfokuskan pengembangan program WTE di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
"Tender ini menunjukkan dalam menjalankan prosesnya Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) transparan dan berbasis mitigasi risiko," kata Fadli dikutip Senin (16/02/2026).
3. Indonesia pakai teknologi Mitsubishi

Indonesia sudah menggunakan mesin pengolah sampah produk MHIECE berkapasitas 100 ton sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sejak 2019 bersama dengan PLN Nusantara Power
Energi listrik yang dihasilkan adalah 750 kilowatt per jam untuk penerangan di sekitar tempat pembuangan.
Metode WtE yang dilakukan MHIECE di lebih dari 300 pabrik seluruh dunia adalah dengan mesin pembakaran atau insinerator tingkat tinggi yang mampu membakar lumpur limbah dengan berbagai berat.



















