Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. (x.com/Secretary Marco Rubio)
Tragedi yang menewaskan ratusan hingga ribuan orang ini kembali memicu ketegangan diplomatik. Pada Rabu (3/6/2026), Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio, mengkritik keras upaya Beijing yang menghapus sejarah atas penindakan berdarah tersebut.
"Tidak ada jumlah sensor yang dapat menghapus masa lalu. Mereka yang berkorban untuk menegakkan hak-hak mereka yang tidak dapat dicabut, yaitu kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai, akan dibenarkan suatu hari nanti," tegasnya.
Di Taiwan, Presiden Lai Ching-te mendesak China untuk berani menghadapi sejarahnya sendiri dan merangkul perbedaan suara. Serta, menegaskan bahwa Taipei akan selalu berdiri bersama mereka yang berjuang untuk kebebasan.
Sementara itu, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara menekanan pentingnya jaminan kebebasan, penghormatan terhadap HAM, dan supremasi hukum di China.
Kedutaan Besar Kanada di Beijing melakukan aksi solidaritas dengan menampilkan gambar lilin peringatan di layar luar gedungnya sebagai simbol penghormatan kepada para korban.