Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Kirim 15 Ribu Ton Beras ke Kuba
sudut Kota Havana, Kuba (unsplash.com/JF Martin)
  • Pemerintah China mengirim 15 ribu ton beras ke Kuba sebagai tahap awal dari total 60 ribu ton bantuan untuk membantu warga menghadapi krisis ekonomi.
  • Kuba tengah mengalami krisis energi parah yang menyebabkan pemadaman listrik luas, memengaruhi layanan publik dan kehidupan sehari-hari warga di berbagai wilayah.
  • Blokade energi Amerika Serikat memperburuk kelangkaan bahan bakar di Kuba, sementara China menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan dan martabat bangsa Kuba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah China mengirimkan bantuan berupa 15 ribu ton beras ke Kuba. Kapal yang mengangkut beras tersebut telah bersandar di pelabuhan ibu kota Havana pada Sabtu (23/5/2026).

Kiriman ini merupakan tahap pertama dari total 60 ribu ton beras yang dijanjikan oleh Beijing. Bantuan pangan ini diharapkan mampu meringankan beban warga Kuba yang sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi.

1. Kuba apresiasi bantuan beras dari China

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel (Kremlin.ru, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengonfirmasi kedatangan pasokan beras tersebut melalui unggahan di media sosial. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan berkelanjutan dari China.

"Gestur solidaritas yang mulia ini akan menjangkau jutaan konsumen di seluruh provinsi dan kota madya khusus Isla de la Juventud. Bantuan ini juga akan disalurkan ke berbagai institusi kesehatan dan pendidikan kami," ujar Diaz-Canel, dilansir South China Morning Post.

Duta Besar China Hua Xin menyatakan pengiriman ini adalah bantuan makanan terbesar dari negaranya untuk Kuba dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, pemerintah China juga telah menyumbangkan panel surya untuk membantu sistem kelistrikan di sana.

Dukungan dari negara lain juga mengalir untuk membantu Havana melewati krisis. Sebuah kapal kargo pembawa bantuan dari Meksiko dilaporkan telah tiba di Kuba sepekan sebelumnya.

2. Krisis energi picu pemadaman listrik di Kuba

ilustrasi unjuk rasa di Kuba. (unsplash.com/Ricardo IV Tamayo)

Selain kekurangan pasokan makanan, Kuba juga sedang bergulat dengan krisis energi yang parah. Negara kepulauan di Karibia ini mengandalkan impor untuk memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan minyak domestiknya.

Data dari perusahaan listrik negara menunjukkan sekitar 64 persen wilayah Kuba terkena dampak pemadaman. Situasi ini melumpuhkan berbagai layanan publik utama seperti transportasi umum dan perawatan medis dasar.

Pemerintah setempat mengakui bahwa kondisi energi nasional saat ini sangat kritis. Warga yang tinggal di Havana bahkan harus hidup tanpa aliran listrik selama 22 jam sehari.

Krisis energi semakin memburuk setelah negara tersebut kehabisan cadangan minyak pada awal bulan ini. Beberapa kajian independen menaksir Kuba butuh dana hingga 10 miliar dolar AS (sekitar Rp177 triliun) untuk memulihkan infrastruktur energinya.

3. Amerika Serikat perketat blokade atas Kuba

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kelangkaan bahan bakar di Kuba terjadi akibat blokade energi yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS). Pemerintahan Presiden Donald Trump telah melarang segala bentuk pengiriman minyak menuju Kuba. AS menuntut pemerintah Kuba untuk melakukan reformasi berarti dengan imbalan penyaluran bantuan.

AS mengancam akan memberikan sanksi ekonomi kepada negara yang memasok minyak ke pulau tersebut. Diaz-Canel mengecam taktik blokade ini dan menyebutnya sebagai bentuk hukuman kolektif yang menyerupai genosida.

Sementara itu, China menentang campur tangan pihak asing yang mencoba mengganggu Kuba.

"China dengan teguh mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasional serta martabat bangsa mereka. Kami menentang keras intervensi dari kekuatan eksternal," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun, dilansir The Guardian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team

Related Article