Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Intinya sih...

  • Beijing menolak konsep polisi dunia tunggal, menegaskan tatanan global tak boleh dikuasai satu kekuatan saja.

  • China menegaskan perbedaan kasus Venezuela dan Taiwan, tetap memprioritaskan pendekatan damai dalam menangani isu Taiwan.

  • Peran ekonomi China di tengah krisis Venezuela, menjadi penopang utama perekonomian Venezuela yang tertekan sanksi berat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah China melontarkan kecaman atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Beijing menilai langkah tersebut melanggar hukum internasional dan berisiko mengguncang stabilitas perdamaian di kawasan Amerika Latin.

Selain itu, China mendesak Washington segera membebaskan Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, serta menghentikan upaya menggulingkan pemerintahan Venezuela dan kembali menempuh jalur dialog serta negosiasi. Pasangan itu dijadwalkan menjalani proses hukum di pengadilan federal New York terkait tuduhan perdagangan narkoba dan dakwaan lainnya.

Pada Senin (6/1/2026), Presiden China Xi Jinping menggambarkan kondisi global tengah berada dalam fase gejolak besar. Ia menegaskan bahwa tindakan intimidatif dari satu pihak saja sudah cukup untuk merusak tatanan internasional secara serius.

“Semua negara harus menghormati jalur pembangunan yang dipilih oleh rakyat negara lain, dan mematuhi hukum internasional, serta tujuan dan prinsip Piagam PBB, dengan negara-negara besar memimpin dalam melakukannya,” ujarnya, dikutip dari Times of India.

1. Beijing menolak konsep polisi dunia tunggal

ilustrasi beberapa bendera negara di dunia (pexels.com/Paresh Patil)

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan tak ada satu negara pun yang berhak bertindak sebagai polisi dunia. Beijing juga menolak sikap sepihak negara mana pun yang mengangkat diri sebagai hakim internasional.

Menurut Wang, tatanan global tak boleh dikuasai satu kekuatan saja, sementara kedaulatan serta keamanan setiap negara wajib dilindungi penuh melalui hukum internasional. Pernyataan itu ia sampaikan saat menghadiri Putaran Ketujuh Dialog Strategis Menteri Luar Negeri China–Pakistan di Beijing.

Sejumlah pengamat menilai Beijing justru memandang tindakan AS terhadap Maduro sebagai peluang untuk mengikis dominasi global Washington, bukan sebagai lampu hijau bagi China untuk bertindak di Taiwan. Di tengah langkah pemerintahan Donald Trump yang menarik diri dari berbagai lembaga internasional dan merombak aturan lama, China berupaya tampil sebagai pembela utama tatanan dunia berbasis aturan.

Media resmi China juga menyebut aksi AS di Venezuela telah menggerus tingkat kepercayaan terhadap Washington di seluruh kawasan Amerika Latin.

Wu Xinbo, dekan Institute of International Studies Universitas Fudan di Shanghai, menyatakan AS baru saja bertindak layaknya hegemon dan sulit dipercaya karena memperlakukan negara tetangganya yang lebih lemah dengan cara tersebut. Invasi ke Venezuela, lokasi investasi perusahaan-perusahaan China senilai miliaran dolar AS, memicu kegelisahan mendalam di kalangan pejabat dan pelaku usaha China.

2. China menegaskan perbedaan kasus Venezuela dan Taiwan

ilustrasi bendera Taiwan

Xinbo menegaskan persoalan Venezuela dan Taiwan merupakan dua isu yang sama sekali berbeda. Ia juga menyampaikan bahwa Beijing tetap memprioritaskan pendekatan damai dalam menangani isu Taiwan.

“Venezuela adalah negara berdaulat yang merdeka, dan Taiwan adalah bagian dari China,” katanya, dikutip dari NBC News.

Peristiwa di Venezuela dinilai tak akan mengubah secara drastis strategi Beijing dalam menyikapi Taiwan.

Ryan Hass, direktur John L. Thornton China Center di Brookings Institution, mengamati bahwa operasi AS kemungkinan mendorong China menunda rencana serangan terhadap Taiwan.

Di sisi lain, situasi tersebut juga memperbesar keraguan publik Taiwan terhadap keseriusan komitmen pertahanan Washington. Keberhasilan militer AS melumpuhkan sistem pertahanan Venezuela yang mayoritas menggunakan peralatan buatan China dapat membuat Beijing lebih berhati-hati sebelum menguji kekuatan militernya berhadapan langsung dengan AS.

3. Peran ekonomi China di tengah krisis Venezuela

ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)

China selama ini menjadi penopang utama perekonomian Venezuela yang tertekan sanksi berat. Beijing tercatat sebagai pembeli terbesar minyak mentah Venezuela.

Dalam beberapa waktu terakhir, China terus menyuarakan dukungan kepada Caracas di tengah penumpukan pasukan yang dilakukan Trump, meski kedua negara tak terikat komitmen pertahanan resmi. Maduro ditangkap hanya beberapa jam setelah pertemuan publik terakhirnya di Caracas dengan Qiu Xiaoqi, utusan khusus Beijing untuk urusan Amerika Latin.

Maduro ditangkap pasukan AS melalui operasi militer yang digelar sebelum fajar pada akhir pekan. Ia kini ditahan di AS bersama istrinya yang langsung diterbangkan ke New York. Setelah penangkapan tersebut, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengambil alih kepemimpinan negara sebagai presiden sementara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team