Uni Eropa Desak Transisi Demokrasi di Venezuela usai Diserang AS

- Uni Eropa desak AS untuk menghormati hukum internasional
- Italia mendukung intervensi AS di Venezuela
- Spanyol dan Slovakia kritik keras serangan AS di Venezuela
Jakarta, IDN Times - Komisi Eropa, pada Senin (5/1/2026), menyerukan transisi demokratik di Venezuela. Brussels meminta agar proses transisi ini juga melibatkan pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado dan Edmundo Gonzalez Urrutia.
“Langkah selanjutnya adalah dialog untuk mencapai sebuah transisi demokrasi yang harus melibatkan Edmundo Gonzalez Urrutia dan Maria Corina Machado,” ungkap Juru Bicara Komisi Eropa, Anitta Hipper, dikutip dari EFE.
Pada awal 2025, Gonzalez Urrutia akhirnya memilih untuk mengasingkan diri ke Spanyol usai pemilihan presiden. Keputusan ini disebabkan ancaman penangkapan selama di bawah pemerintahan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
1. Uni Eropa desak AS untuk menghormati hukum internasional
Kepala Wakil Luar Negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas menghimbau agar semua pihak tetap tenang di tengah ketidakpastian rencana transisi di Venezuela. Ia mendesak AS agar menghormati hukum internasional.
“UE menyerukan di bawah semua situasi, prinsip hukum internasional dan Piagam PBB harus dipertahankan. UE mendorong untuk tetap tenang dan menghindari dari segala eskalasi lanjutan dan memastikan solusi damai di tengah krisis di Venezuela,” ujarnya, dikutip dari Euronews.
Brussels mendesak semua pihak untuk menghormati keinginan dari rakyat Venezuela. Dengan ini, Venezuela dapat bertransisi ke arah demokrasi dan menyelesaikan krisis saat ini sesuai harapan dari rakyatnya.
2. Italia mendukung intervensi AS di Venezuela
Perdana Menteri (PM) Italia, Giorgia Meloni mengatakan bahwa narasi pemerintah AS untuk mengintervensi Venezuela sah. Menurutnya, pejabat Venezuela saat ini sudah terlibat dalam penyelundupan narkoba.
“Aksi militer eksternal bukanlah pola untuk mengakhiri rezim totaliter. Namun, terdapat legitimasi untuk intervensi defensif terhadap serangan hybrid dari penyelundup narkoba,” terangnya.
Di sisi lain, Prancis tidak banyak bersuara mengenai detail dari operasi AS di Venezuela. Namun, ia mengakui adanya kebahagiaan dari rakyat Venezuela usai lengsernya Maduro dari kursi orang nomor satu.
3. Spanyol dan Slovakia kritik keras serangan AS di Venezuela
Pada saat yang sama, PM Spanyol, Pedro Sanchez dan lima pemimpin negara Amerika Latin menjadi penentang keras serangan AS di Venezuela. Mereka menyebut bahwa Washington sudah jelas melanggar kedaulatan suatu negara merdeka.
Tak hanya Sanchez, PM Slovakia, Robert Fico ikut menentang serangan AS di Venezuela. Ia menilai bahwa negara-negara berkekuatan besar dapat melakukan seenak mereka, tapi PBB juga mengalami masalah tersendiri.



















