Comscore Tracker

Konferensi COP24 Sepakat Negara-negara di Dunia Kurangi Gas Karbon

Keputusan ini diambil pada hari Sabtu malam kemarin

Katowice, IDN Times - Setelah 2 minggu lamanya mencari kesepakatan, akhirnya pertemuan konferensi COP24 mendapatkan kesepakatan dengan menerapkan Perjanjian Paris serta menjaga perjanjian iklim yang dibuat tahun 2015 tetap utuh, termasuk mengurangi karbon. Keputusan ini diambil pada hari Sabtu, 15 Desember 2018, malam waktu setempat. Bagaimana awal ceritanya?

1. Lebih dari 190 negara di dunia yang hadir telah menyetujui kesepakatan yang dibuat

Konferensi COP24 Sepakat Negara-negara di Dunia Kurangi Gas Karbontwitter.com/KurtykaMichal

Dilansir dari CNN, setelah perjalanan panjang selama 2 minggu, sebanyak lebih dari 190 negara di dunia yang hadir pada Konferensi COP24 pada hari Sabtu malam, 15 Desember 2018, sepakat mengenai beberapa aturan yang dimaksudkan untuk mengurangi pemanasan global. Pertempuran yang memberikan isyarat tantangan yang akan datang dalam perjuangan global melawan perubahan iklim karena tatanan dunia terus menghadapi gelombang tekanan politik yang telah membebani kerjasama internasional.

"Menyusun program kerja perjanjian Paris adalah tanggung jawab besar. Ini adalah jalan yang panjang. Kami melakukan yang terbaik untuk tidak meninggalkan siapa pun di belakang," ungkap Ketua Konferensi COP24, Michael Kurtyka, seperti yang dikutip dari BBC.

Isu-isu di atas meja pertemuan Katowice sebagian besar merupakan pertanyaan teknis yang berpusat pada akuntansi, keuangan, dan pilihan kata yang tampaknya misterius yang menandai betapa agresifnya negara-negara akan memangkas emisinya. Tetapi secara geopolitik tidak jauh-jauh dari masalah utama dan urgensi perubahan iklim tidak pernah terbukti cukup besar untuk menjaga politik agar tidak meluap dan mengganggu proses.

2. Negara-negara kecil memiliki dampak besar dalam kesepakatan ini

Konferensi COP24 Sepakat Negara-negara di Dunia Kurangi Gas Karbontwitter.com/IYCM

Beberapa negara kecil di dunia memiliki pengaruh besar dalam kesepakatan ini. Pasalnya, ketika kondisi laut sedang naik, negara-negara ini rentan menghilang sehingga mereka sepakat dengan kesepakatan yang dibuat ini. 

"Kami memahami kebutuhan untuk membangun konsensus. Dan untuk negara-negara berkembang pulau kecil kami telah mencapai minimum, kami menanyakan masalah-masalah utama," ungkap Menteri Ketahanan Iklim dan Lingkungan Grenada, Simon Stiell, seperti yang dikutip dari CNN.

Laporan IPCC IIntergovernmental Panel on Climate Change) mengatakan dunia hanya memiliki sekitar 12 tahun untuk menghindari kenaikan suhu pemanasan 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra industri, yang merupakan salah satu tujuan dari Perjanjian Paris.

Salah satu masalah terbesar dari konferensi itu adalah empat negara penghasil minyak, termasuk AS, Rusia, Kuwait, dan Arab Saudi yang mempertanyakan validitas ilmu iklim dan menolak mengakui legitimasi laporan dari IPCC dan badan ilmu iklim PBB. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah berjanji untuk menarik Amerika Serikat, yang telah berbuat lebih banyak untuk menyebabkan perubahan iklim secara historis daripada negara lain dalam Perjanjian Paris.

3. Beberapa masalah yang dihadapi negara-negara di dunia menjadi tantangan besar

Konferensi COP24 Sepakat Negara-negara di Dunia Kurangi Gas Karbontwitter.com/MAC_europa

Mengubah geopolitik bahkan melanda di tempat-tempat di mana pemerintah sangat peduli tentang ancaman perubahan iklim. Gelombang populisme di Uni Eropa memecah blok, melemahkan posisi negosiasinya.

Direktur strategi dan kebijakan di Union of Concerned Scientists dan pakar negosiasi iklim yang lama, Alden Meyer, mengutip perubahan politik di Italia, kegagalan Brexit yang sedang berlangsung dan posisi lemah Kanselir Jerman, Angela Merkel, dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sebagai kontributor ke Uni Eropa dengan berjuang untuk berhadapan dengan negara lain.

Lalu ada hubungan antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, yang berantakan terkait masalah perdagangan yang sedang berlangsung. Kedua negara, meskipun sering berselisih dalam negosiasi sebelumnya, sering bertindak sebagai mediator antara negara berkembang dan negara maju dan membantu menengahi kesepakatan utama.

"Ada kapasitas untuk menjadi penyelenggara, masing-masing dari kita. Itu tidak tersedia sekarang," ungkap Todd Stern yang kinimenjabat sebagai negosiator utama Amerika Serikat dengan Tiongkok di bawah pemerintahan Barack Obama seperti yang dikutip dari BBC.

Satu-satunya masalah yang dihadapi adalah bahwa semua ini tidak bergerak cukup cepat. Banyak pekerjaan yang diperlukan untuk memfasilitasi perubahan semacam itu dan itu akan menjadi tantangan besar selama ketegangan politik masih ada.

Baca Juga: Ini Bahayanya Gas Karbon Monoksida Bagi Kesehatan Manusia

Christ Bastian Waruwu Photo Verified Writer Christ Bastian Waruwu

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya