Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Diduga Siksa Warga AS, Nicolas Maduro Hadapi Dakwaan Pidana Baru
Mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Jaksa federal New York dijadwalkan mengajukan dakwaan baru terhadap Nicolas Maduro dan Cilia Flores atas dugaan penyiksaan serta kekerasan terhadap warga AS yang ditahan di Venezuela.
  • Maduro dan Flores ditangkap pasukan khusus AS di Caracas pada 3 Januari 2026, lalu ditahan tanpa jaminan di Brooklyn terkait tuduhan terorisme narkotika dan penyelundupan kokain.
  • Sidang pokok perkara dijadwalkan berlangsung 1 Juni 2027 di pengadilan federal Manhattan; pembelaan imunitas kepala negara ditolak jaksa karena status kekebalan Maduro tidak diakui pemerintah Venezuela.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, segera menghadapi proses hukum pidana baru dari penegak hukum Amerika Serikat. Perkara tambahan ini berkaitan dengan dugaan penyiksaan dan kekerasan fisik terhadap sejumlah tahanan di Caracas.

Langkah hukum lanjutan tersebut diperkirakan semakin memperberat posisi mantan pemimpin Venezuela itu di peradilan internasional. Penuntutan ini sekaligus menegaskan komitmen Washington untuk menindak tegas berbagai kejahatan yang merugikan keselamatan warga negaranya di luar negeri.

1. Rencana pelimpahan berkas dakwaan baru oleh jaksa federal New York

Ilustrasi palu hukum (magnific.com)

Jaksa penuntut federal New York dijadwalkan mendaftarkan berkas dakwaan baru ini paling lambat pada Kamis (8/10/2026). Tuduhan tersebut berfokus pada dugaan kekerasan fisik dan perlakuan tidak manusiawi terhadap warga negara AS di penjara Venezuela, sedangkan identitas korban masih dirahasiakan untuk kepentingan penyidikan.

Pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk mengadili setiap pelanggaran hak asasi terhadap warganya.

"Mereka akan segera menghadapi keadilan Amerika sepenuhnya di tanah dan pengadilan Amerika," ujar Jaksa Agung AS, Pam Bondi, dilansir DW.

Hingga saat ini, tim penasihat hukum terdakwa mengaku belum menerima pemberitahuan resmi mengenai materi dakwaan baru tersebut. Sementara itu, Kantor Kejaksaan Federal Distrik Selatan New York enggan memberikan komentar lebih lanjut kepada media.

2. Penangkapan Maduro dan penahanannya di Brooklyn tanpa hak jaminan

protes operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di New York, AS (SWinxy, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Sebelum perkara penyiksaan ini mencuat, pasukan khusus AS telah menangkap Maduro dan Flores di Caracas melalui operasi taktis pada 3 Januari 2026. Keduanya langsung diterbangkan ke New York untuk menghadapi tuduhan terorisme narkotika serta penyelundupan kokain lintas negara.

Dalam persidangan pendahuluan, tokoh yang memimpin Venezuela selama 13 tahun itu secara tegas membantah keterlibatannya dalam jaringan perdagangan obat terlarang.

"Saya tidak bersalah. Saya bukan pelaku kejahatan. Saya orang yang terhormat dan masih presiden sah negara saya," ujar Maduro.

Saat ini, Maduro bersama sang istri ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan (MDC) Brooklyn tanpa hak jaminan penangguhan. Pihak rumah tahanan memberlakukan prosedur pengamanan super ketat guna memastikan kelancaran proses peradilan.

3. Jadwal persidangan pokok perkara

Mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. (Joka Madruga, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Hakim Pengadilan Distrik AS, Alvin Hellerstein, menetapkan sidang pokok perkara Maduro dan Flores akan dimulai pada 1 Juni 2027. Jadwal ini disepakati bersama agar jaksa dan tim pembela memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari seluruh dokumen bukti. Tim kuasa hukum menyatakan kesiapannya untuk menghadapi pembuktian di pengadilan federal Manhattan sesuai jadwal tersebut.

"Semua pihak sepakat ini adalah jadwal yang realistis dan tidak akan bergeser, tetapi kami akan melapor jika ada kendala," ujar pengacara pembela, Barry Pollack.

Di sisi lain, kubu pembela sempat mengajukan permohonan pembatalan dakwaan dengan alasan hak imunitas kepala negara asing. Namun, jaksa penuntut menolak argumen tersebut karena pemerintah Venezuela saat ini tidak lagi mengakui status kekebalan hukum Maduro.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article