Ribuan Warga Venezuela Demo Tuntut Pembebasan Maduro

- Demonstrasi ini merupakan bagian dari aksi global untuk menuntut pembebasan Maduro
- Venezuela mulai bebaskan sejumlah tahanan politik atas tekanan AS
- Mahasiswa dan keluarga tahanan politik juga gelar unjuk rasa di Caracas
Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Venezuela memadati jalan-jalan di ibu kota, Caracas, pada Selasa (3/2/2026) untuk menuntut pembebasan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Aksi ini digelar tepat sebulan sejak pasukan Amerika Serikat (AS) menculik pasangan tersebut untuk diadili atas tuduhan narkoba di New York.
Dilansir Al Jazeera, demonstrasi bertajuk “Gran Marcha” (Unjuk Rasa Akbar) ini diinisiasi oleh pemerintah dan diikuti oleh banyak pekerja sektor publik. Para peserta membawa spanduk dan mengenakan kaos yang menyerukan pembebasan Maduro dan istrinya dari tahanan AS.
“Venezuela membutuhkan Nicolas!” demikian teriak massa yang memadati jalan hingga ratusan meter panjangnya.
1. Demonstrasi ini merupakan bagian dari aksi global untuk menuntut pembebasan Maduro

Berdiri di atas panggung, putra Maduro sekaligus anggota Majelis Nasional Venezuela, Nicolas Maduro Guerra, mengatakan bahwa penculikan ayahnya pada 3 Januari 2026 lalu akan terus membekas seperti luka di wajah rakyat Venezuela selamanya.
“Tanah air kami telah dinodai oleh tentara asing,” kata Maduro Guerra, merujuk pada hari ketika pasukan AS menculik ayahnya.
Media lokal Venezuela News menyebut unjuk rasa ini merupakan bagian dari aksi global untuk menuntut pembebasan Maduro dan Flores. Aksi tersebut melibatkan orang-orang dari berbagai latar belakang ideologi politik, yang sepakat bahwa penahanan keduanya merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan preseden berbahaya bagi kedaulatan negara.
"Kami merasa bingung, sedih, marah. Ada banyak emosi. Cepat atau lambat, mereka harus membebaskan presiden kami”, kata Jose Perdomo, seorang pegawai kota berusia 58 tahun, yang ikut serta dalam demonstrasi di Caracas. Ia menambahkan bahwa dirinya juga mendukung pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez
2. Venezuela mulai bebaskan sejumlah tahanan politik atas tekanan AS

Rodriguez berada dalam posisi sulit sejak menjabat sebagai presiden sementara. Ia harus menenangkan para pendukung Maduro di pemerintahan sekaligus mengakomodasi tuntutan yang diajukan Presiden AS, Donald Trump, kepada Caracas.
Trump telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan Rodriguez, selama Caracas memenuhi tuntutannya, terutama terkait keinginan AS untuk mengambil kendali atas cadangan minyak Venezuela yang melimpah.
Di bawah tekanan Washington, Rodriguez juga mulai membebaskan tahanan politik dan membuka industri hidrokarbon nasional Venezuela untuk investasi swasta. Hubungan diplomatik kedua negara, yang terputus pada 2019 setelah Maduro dituduh mencurangi pemilihan ulang pertamanya, kembali terjalin dengan kedatangan utusan AS, Laura Dogu, di Caracas pada Sabtu (31/1/2026).
3. Mahasiswa dan keluarga tahanan politik juga gelar unjuk rasa di Caracas

Sebelumnya, ratusan mahasiswa dan keluarga tahanan politik juga melakukan unjuk rasa di ibu kota pada Selasa. Mereka menuntut agar undang-undang amnesti yang dijanjikan oleh Rodriguez segera disahkan guna membebaskan para tahanan dari penjara-penjara di negara tersebut.
Undang-undang tersebut belum diajukan ke parlemen, yang dipimpin oleh saudara laki-laki Rodriguez, Jorge Rodriguez, yang merupakan pendukung setia Maduro. Wakil oposisi, Stalin Gonzalez, mengatakan ia memperkirakan debat pertama mengenai amnesti akan digelar di parlemen pada Kamis (5/2/2026).
“Saya berharap amnesti ini membuka pintu bagi rekonsiliasi, koeksistensi, perdamaian, dan demokrasi,” ujar Gonzales, dikutip dari France24.

















