Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Digempur Israel, RS Lebanon Mulai Kehabisan Pasokan Medis Penting
ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)
  • WHO memperingatkan rumah sakit di Lebanon terancam kehabisan pasokan medis penting akibat serangan besar-besaran Israel yang menewaskan ratusan orang dan melukai lebih dari seribu korban.
  • Serangan udara Israel menghantam lebih dari 100 lokasi dalam waktu singkat, membuat pasokan medis untuk tiga pekan habis hanya dalam sehari dan mayoritas korban adalah warga sipil.
  • Serangan tersebut terjadi sesaat setelah kesepakatan gencatan senjata AS-Iran diumumkan, memicu kekhawatiran bahwa perundingan damai bisa runtuh sebelum dimulai di Islamabad.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Kamis (9/4/2026), memperingatkan bahwa beberapa rumah sakit di Lebanon kemungkinan akan kehabisan pasokan medis penting dalam beberapa hari kedepan. Kondisi ini terjadi akibat banyaknya korban jiwa imbas serangan besar-besaran Israel selama beberapa hari terakhir.

“Sebagian perlengkapan penanganan trauma sudah dalam kondisi terbatas, dan kami bisa kehabisan dalam beberapa hari,” kata Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, dikutip dari The Straits Times.

Perlengkapan yang dimaksud mencakup perban, antibiotik dan anestesi untuk merawat pasien yang mengalami cedera akibat perang.

1. Pasokan medis untuk 3 pekan habis dalam waktu 1 hari

serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)

Pada Rabu (8/4/2026), Israel melancarkan serangan terbesarnya di Lebanon sejak perang dengan Hizbullah kembali meletus pada awal Maret. Israel mengebom lebih dari 100 sasaran di seluruh negeri hanya dalam waktu 10 menit, menewaskan 303 orang dan melukai 1.150 lainnya.

“Jika ada korban massal lagi, seperti yang terjadi kemarin, itu akan menjadi bencana. Mungkin kita akan kehilangan lebih banyak nyawa hanya karena kita tidak memiliki cukup persediaan,” ujar Abu Bakar.

Ia menambahkan bahwa saking banyaknya jumlah korban belakangan ini, pasokan medis yang seharusnya cukup untuk sekitar 3 pekan habis hanya dalam 1 hari. Selain itu, obat-obatan untuk pasien dengan penyakit kronis, seperti insulin bagi penderita diabetes, juga diperkirakan akan habis dalam beberapa pekan ke depan setelah rantai pasokan terganggu akibat perang di kawasan Teluk dan penutupan Selat Hormuz.

2. Banyak korban merupakan warga sipil

ilustrasi ambulans (unsplash.com/Jiachen Lin)

Lebanon tidaklah asing dengan perang atau serangan udara dari Israel. Tenaga medis di negara tersebut telah menghadapi berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama perang dengan Israel pada 2023-2024. Namun, Salah Zeineldine, kepala petugas medis Rumah Sakit Universitas Amerika Beirut (AUB), mengatakan serangan pada Rabu sangat berbeda dari situasi sebelumnya.

“Itu merupakan tantangan besar bagi kami, terutama di Beirut. Kami belum pernah kehilangan begitu banyak orang dalam satu hari. Intensitas seperti ini belum pernah kami alami sebelumnya,” ujarnya, dilansir dari Al Jazeera.

Meskipun Israel mengklaim bahwa mereka menyasar kelompok Hizbullah yang didukung Iran, Zeineldine mengatakan bahwa serangan pada Rabu sangat acak dan tidak menargetkan lokasi atau kelompok tertentu. Ia menambahkan bahwa seluruh pasien yang tiba di Rumah Sakit Universitas Amerika Beirut (AUB) merupakan warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan dan lansia.

3. Serangan Israel terhadap Lebanon berisiko runtuhkan gencatan senjata AS-Iran

protes solidaritas terhadap Iran (Matt Hrkac from Geelong / Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Serangan pada Rabu terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, yang menurut banyak pihak juga mencakup Lebanon. Namun, Israel dan AS bersikeras bahwa penghentian permusuhan tersebut hanya berlaku untuk AS, Israel dan Iran.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sendiri menyatakan bahwa serangan Israel di Lebanon melanggar kesepakatan gencatan senjata dan berisiko membuat perundingan menjadi tidak berarti. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan meninggalkan rakyat Lebanon.

Perbedaan tajam terkait cakupan gencatan senjata ini memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut bisa runtuh bahkan sebelum perundingan untuk penyelesaian konflik secara permanen dimulai. Perundingan dijadwalkan akan dimulai di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team