Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Drone Rusia Hantam Kapal China Sehari sebelum Putin Bertemu Xi Jinping
ilustrasi kapal (pexels.com/Thomas Parker)
  • Sebuah drone Rusia menghantam kapal kargo China KSL Deyang di Laut Hitam dekat Odesa, sehari sebelum pertemuan Putin dan Xi Jinping, tanpa menimbulkan korban jiwa.
  • Serangan terhadap kapal China terjadi bersamaan dengan operasi udara besar Rusia yang meluncurkan ratusan drone dan puluhan rudal ke berbagai wilayah Ukraina.
  • Insiden ini menarik perhatian diplomatik karena muncul menjelang kunjungan Putin ke Beijing untuk memperingati 25 tahun Traktat Persahabatan Rusia-China di tengah ketegangan global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Sebuah insiden terjadi di Laut Hitam sehari sebelum pertemuan Presiden Rusia, Vladimir Putin, dan Presiden China, Xi Jinping. Angkatan Laut (AL) Ukraina melaporkan sebuah kendaraan udara tak berawak (UAV) Rusia menghantam kapal kargo milik China di lepas pantai Odesa pada Senin (18/5/2026).

Kapal yang terkena serangan adalah KSL Deyang berbendera Kepulauan Marshall dengan seluruh awak berkewarganegaraan China. Menurut AL Ukraina, kapal tersebut sedang kosong dan bergerak menuju Pelabuhan Pivdennyi untuk memuat konsentrat bijih besi, sementara seluruh kru berhasil memadamkan api sendiri sehingga kapal tetap melanjutkan pelayaran dengan kerusakan ringan tanpa korban luka.

1. Ukraina mempertanyakan motif serangan Rusia

Pada tanggal 7-8 Oktober 2020, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengadakan perjalanan kenegaraan resmi ke Britania Raya. (Presidential Office of Ukraine, This file is licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 International license, via Wikimedia Commons)

Menanggapi kejadian itu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyampaikan bahwa salah satu drone dalam serangan malam sebelumnya menghantam kapal milik China di wilayah Odesa. Zelenskyy juga menilai Rusia seharusnya mengetahui identitas kapal yang berada di jalur pelayaran tersebut melalui unggahan media sosialnya pada Senin (18/5/2026).

Pihak militer Ukraina juga menyoroti alasan di balik penggunaan drone Shahed terhadap kapal dagang China. Juru bicara AL Ukraina, Dmytro Pletenchuk, mengaku heran atas keputusan Rusia dalam serangan tersebut.

“Tidak ada korban jiwa tetapi ini adalah sesuatu yang baru. Apakah kesalahan mengerikan telah terjadi, rekan-rekan?” ujar Pletenchuk, dikutip New York Post.

Pletenchuk menjelaskan situasi di kapal berhasil dikendalikan penuh oleh kru tanpa korban cedera. Ia juga menyebut kapal langsung melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan tujuan.

2. Rusia meluncurkan serangan udara besar ke Ukraina

ilustrasi bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

Serangan terhadap KSL Deyang merupakan bagian dari operasi udara besar yang dijalankan Rusia ke berbagai wilayah Ukraina. Dilansir Al Jazeera, otoritas militer Ukraina menyebut Rusia meluncurkan 524 drone serang dan 22 rudal, termasuk rudal balistik serta jelajah, dalam satu malam yang sama.

Kawasan pelabuhan Odesa memang terus menjadi sasaran militer Rusia sejak invasi skala penuh dimulai pada Februari 2022. Area tersebut memiliki peran penting bagi ekonomi Ukraina karena menjadi pusat jalur ekspor komoditas pertanian ke berbagai negara.

3. Hubungan Rusia-China menjadi sorotan diplomatik

ilustrasi peta Rusia, China, dan India (pexels.com/Lara Jamesson)

Peristiwa ini muncul menjelang kunjungan kerja dua hari Putin ke Beijing untuk memperingati 25 tahun Traktat Persahabatan China-Rusia 2001. Rusia diketahui semakin bergantung pada perdagangan dengan Beijing setelah dijatuhi berbagai sanksi ekonomi negara-negara Barat akibat invasi 2022.

Kedekatan hubungan kedua pemimpin sebelumnya terlihat saat kunjungan Putin ke China pada September 2025. Berdasarkan catatan Kremlin, Xi menyambut Putin sebagai teman lama.

Kremlin juga menyatakan kedua pemimpin akan membahas sejumlah isu global, termasuk hasil kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ke Beijing baru-baru ini. Hingga kini, China tetap mengambil posisi netral dengan tak mengecam tindakan Rusia sambil terus mendorong dimulainya perundingan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team