Jakarta, IDN Times – Sejak memimpin pada Oktober 2025, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menunjukkan pola kerja yang sejalan dengan janji kampanyenya untuk terus bekerja. Memasuki enam bulan masa pemerintahannya, ritme itu mulai memunculkan sorotan terhadap dampaknya bagi kondisi fisiknya.
Kekhawatiran muncul setelah Takaichi menerima politisi senior sekaligus sekutu mendiang Shinzo Abe, Akira Amari, di kantornya pada Kamis (23/4/2026). Dalam pertemuan itu, Amari menyoroti kondisi kesehatan Takaichi, sementara anggota parlemen oposisi ikut mendorong agar pemimpin Jepang tersebut mengambil waktu istirahat.
