Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Era Middle Powers Bangkit, Perang Iran-AS Jadi Buktinya
Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka Middle Powers Conference 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • Dino Patti Djalal menyoroti kebangkitan negara-negara ‘middle powers’ yang kini memainkan peran lebih besar dalam membentuk arah hubungan internasional dan dinamika global.
  • Perang antara Amerika Serikat dan Iran disebut sebagai contoh nyata bagaimana middle power seperti Iran dapat menantang superpower, dengan keterlibatan mediator seperti Pakistan.
  • Dino menegaskan Indonesia termasuk middle power dan perlu strategi jelas untuk memaksimalkan peran globalnya melalui kerja sama dengan negara sekelas seperti Australia, India, dan Korea Selatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
14 April 2026

Dino Patti Djalal membuka Middle Powers Conference di Jakarta dan menjelaskan tren meningkatnya peran negara-negara middle power dalam hubungan internasional.

kini

Perang antara Amerika Serikat dan Iran dijadikan contoh konflik yang menunjukkan pengaruh middle powers, sementara Indonesia didorong menyusun strategi untuk memaksimalkan perannya sebagai kekuatan menengah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dino Patti Djalal menyoroti meningkatnya peran negara-negara kekuatan menengah atau middle powers dalam membentuk arah hubungan internasional, termasuk pengaruhnya terhadap dinamika perang dan perdamaian dunia.
  • Who?
    Pernyataan disampaikan oleh Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dalam forum Middle Powers Conference di Jakarta.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di Jakarta, Indonesia, dengan pembahasan mencakup peran global berbagai negara dari kawasan utara dan selatan dunia.
  • When?
    Pemaparan dilakukan pada Selasa, 14 April 2026, saat pembukaan Middle Powers Conference yang digelar di ibu kota.
  • Why?
    Dino menilai tren ini penting karena negara berkapasitas menengah kini memiliki ambisi dan kemampuan signifikan untuk memengaruhi tatanan global di luar dominasi kekuatan besar tradisional.
  • How?
    Dino menjelaskan fenomena tersebut melalui contoh konflik Iran–Amerika Serikat serta mendorong Indonesia menyusun strategi middle power dan memperkuat kerja sama bilateral dengan negara sekelasnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada Pak Dino yang bilang sekarang banyak negara jadi lebih kuat, namanya negara kelas tengah. Mereka bukan yang paling besar, tapi juga bukan yang kecil. Contohnya Iran, bisa lawan Amerika di perang dan malah kelihatan unggul. Ada juga Pakistan yang bantu jadi penengah. Indonesia juga termasuk dan harus punya rencana supaya makin hebat kerja sama dengan teman-teman negaranya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Dino Patti Djalal menyoroti sisi positif dari perubahan lanskap global, di mana negara-negara berkapasitas menengah kini tampil lebih percaya diri dan berpengaruh. Fenomena ini mencerminkan distribusi kekuatan yang lebih seimbang, membuka ruang bagi kolaborasi lintas kawasan, serta memberi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi dan memainkan peran konstruktif dalam tatanan dunia yang sedang bertransisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menyoroti munculnya fenomena baru dalam hubungan internasional, yakni meningkatnya peran negara-negara yang disebut sebagai ‘kekuatan menengah’ atau middle powers.

Menurut Dino, tren ini sebenarnya sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, ketika sejumlah negara dengan kapasitas tertentu mulai memainkan peran lebih besar dalam membentuk arah dunia.

“Kita melihat tren dalam hubungan internasional di mana sekelompok negara dengan ukuran, bobot, dan ambisi tertentu… memainkan peran yang lebih signifikan dalam membentuk arah hubungan internasional,” ujarnya dalam pembukaan Middle Powers Conference di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ia menyebut ada sekitar 20 negara yang masuk dalam kategori tersebut, baik dari kawasan utara maupun selatan global, yang kini mulai berpengaruh dalam dinamika global, termasuk dalam isu perang dan perdamaian.

1. Apa itu “Middle Powers” dan kenapa penting

Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka Middle Powers Conference 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Dino menjelaskan istilah middle powers merujuk pada negara-negara yang tidak termasuk kekuatan besar (superpower), namun memiliki kapasitas signifikan di berbagai bidang.

“Metriknya adalah ukuran populasi atau geografi, bobot ekonomi, militer, teknologi, dan ambisi,” kata Dino.

Ia menekankan selain kapasitas, faktor ambisi juga menjadi penentu penting. Negara yang memiliki visi dan kebijakan luar negeri aktif dapat bermain di atas kelasnya.

“Apakah mereka punya ambisi kebijakan luar negeri atau diplomatik yang membuat mereka tampil di atas bobotnya,” ujarnya.

Untuk mempermudah pemahaman, Dino mengibaratkan middle powers seperti kelas menengah dalam masyarakat atau kelas menengah dalam olahraga tinju.

“Bukan kelas berat, bukan kelas ringan, tapi kelas menengah,” katanya.

2. Perang AS-Iran jadi contoh nyata

potret bendera Iran yang rusak (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Fenomena peran middle powers terlihat jelas dalam konflik global saat ini, termasuk perang antara Amerika Serikat dan Iran.

“Apa itu? Itu adalah perang antara sebuah superpower dan sebuah middle power. Dan Amerika Serikat tidak memenangkan perang itu,” kata Dino.

Ia bahkan menyebut dalam beberapa penilaian, Iran justru tampak memiliki keunggulan dalam konflik tersebut. “Faktanya, Iran tampaknya memiliki posisi lebih unggul,” ujarnya.

Selain itu, dinamika konflik juga menunjukkan keterlibatan negara-negara lain dengan status serupa. Dino mencontohkan Pakistan sebagai mediator dan potensi keterlibatan Arab Saudi.

“Mediatornya adalah middle power lain, yaitu Pakistan,” katanya.

Hal ini, menurut Dino, menunjukkan arah perang dan perdamaian dunia kini semakin dipengaruhi oleh negara-negara di luar kekuatan besar tradisional.

3. Indonesia diminta susun strategi “Middle Power”

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam penandatanganan Board of Peace Charter. (Dok. The White House)

Dalam konteks ini, Dino menegaskan Indonesia juga termasuk dalam kategori middle power dan perlu menyusun strategi yang jelas untuk memaksimalkan perannya.

“Kita jelas merupakan middle power sekarang. Dan sangat penting bagi kita untuk mengembangkan strategi middle power,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya Indonesia memahami posisi, aset, dan ambisi dalam tatanan dunia yang terus berubah. “Mengetahui apa ambisi kita, mengetahui apa aset kita, mengetahui posisi kita dalam tatanan dunia yang berkembang,” kata Dino.

Selain itu, Indonesia juga didorong untuk memperkuat hubungan dengan sesama negara middle power, termasuk melalui kerja sama bilateral dan koalisi.

Dino mencontohkan sejumlah hubungan yang telah berkembang dalam beberapa waktu terakhir, seperti dengan Australia, Prancis, India, Korea Selatan, dan Turki.

“Kita melihat banyak hubungan bilateral yang diperkuat Indonesia-Australia, Indonesia-Prancis, Indonesia-India, Indonesia-Korea Selatan, Indonesia-Turki,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peran middle powers belum sepenuhnya pasti dan masih menyisakan banyak pertanyaan, termasuk soal kemampuan mereka bekerja sama dan memimpin.

“Peran middle powers tidak ditentukan sebelumnya masih banyak tanda tanya,” kata Dino.

Namun satu hal yang menurutnya jelas, dunia sedang berada dalam fase transisi, dan negara-negara kekuatan menengah akan menjadi salah satu aktor penting dalam membentuk tatanan global berikutnya.

Editorial Team