Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Nafar Awal Dimulai, 132 Ribu Jemaah Haji Indonesia Geser ke Makkah

Nafar Awal Dimulai, 132 Ribu Jemaah Haji Indonesia Geser ke Makkah
Jemaah bergerak menuju area Jamarat untuk melontar Jumrah (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
Intinya Sih
  • Sebanyak 132.568 jemaah haji Indonesia mulai meninggalkan Mina menuju Makkah untuk mengambil fase Nafar Awal setelah menyelesaikan lontar tiga jumrah dan ibadah mabit.
  • Pergerakan besar jemaah sempat menyebabkan penumpukan di pintu keluar maktab akibat keterlambatan bus, namun situasi segera terurai setelah koordinasi petugas diperketat.
  • Satgas Mina menegaskan seluruh jemaah Nafar Awal wajib keluar dari wilayah Mina sebelum matahari terbenam, sementara sebagian lainnya memilih tetap bermalam untuk Nafar Tsani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Makkah, IDN Times – Sebanyak 132.568 jemaah haji Indonesia mulai bergerak meninggalkan tenda-tenda di Mina menuju Makkah untuk mengambil fase Nafar Awal pada Jumat (29/5/2026) atau 12 Dzulhijah 1447 H. Pergerakan yang dimulai sejak pukul 06.00 Waktu Arab Saudi (WAS) ini mencakup sekitar 68 persen dari total jemaah reguler Indonesia yang telah resmi menyelesaikan seluruh prosesi lontar tiga jumrah serta ibadah mabit.

​Kondisi di kawasan perkemahan Mina terpantau mengalami peningkatan aktivitas yang signifikan sejak dini hari. Gelombang jemaah haji mengalir secara konsisten menuju Jamarat untuk melaksanakan wajib haji melempar tiga jumrah, yakni Ula, Wustha, dan Aqabah. Usai menyelesaikan seluruh rangkaian tersebut, jemaah yang telah merampungkan persiapan di tenda masing-masing langsung bersiap untuk bergeser kembali ke kota Makkah.

1. Suasana dini jari, jemaah padati Jamarat

Ribuan jamaah haji berjalan di jembatan kompleks Jamarat Mina, Makkah, saat matahari terbenam setelah melaksanakan lempar jumrah.
Ribuan jamaah haji dari berbagai negara tampak berjalan pulang di kawasan Jamarat Mina, Makkah, Arab Saudi, seusai melaksanakan ritual lempar jumrah pada musim haji 2026. (Dok. MCH 2026)

​Bagi jemaah yang mengambil pilihan Nafar Awal, kepatuhan terhadap alur dan arahan petugas menjadi faktor krusial kelancaran mobilisasi. Begitu keluar dari kawasan tenda, jemaah langsung diarahkan menuju armada bus yang telah disiapkan untuk mengangkut mereka menuju pemondokan di Makkah. Sementara itu, bagi jemaah yang memilih Nafar Tsani, mereka akan tetap bermalam di Mina untuk melanjutkan ibadah lontar jumrah keesokan harinya.

​Keputusan mengambil Nafar Awal diakui jemaah memberikan kenyamanan tersendiri dalam mengatur ritme stamina pasca-puncak haji.

​"Ya kami merasa nyaman Nafar Awal, jadi setelah sekali lempar jumrah Aqabah dan dua kali lempar tiga jumrah, segera mengikuti arahan petugas menuju ke Makkah untuk tawaf ifadhah, sa’i, dan tahalul," ungkap Dwi Yatmi, jemaah dari Embarkasi Solo Kloter 54 (SOC 54).

​Dwi menuturkan bahwa dirinya bersama seluruh jemaah dalam satu kelompok terbang telah berkomitmen untuk mengambil pilihan ini secara kompak. Ia menilai kedua pilihan ibadah ini sama-sama memiliki keutamaan yang baik. "Nafar Awal dan Nafar Tsani sama baiknya, kita ke Makkah sekarang, yang Nafar Tsani besok karena masih menunaikan lempar jumrah lagi," tambahnya.

2. Sempat terjadi penumpukan jemaah akibat keterlambatan nus

IMG_20260529_212100_619.JPG
Ribuan jamaah haji dari berbagai negara tampak berjalan pulang di kawasan Jamarat Mina, Makkah, Arab Saudi, seusai melaksanakan ritual lempar jumrah pada musim haji 2026. (Dok. MCH 2026)

Pergerakan masif dalam waktu yang bersamaan memicu lonjakan kesibukan yang luar biasa di depan seluruh pintu markaz tenda Mina. Sejak pukul 07.00 WAS hingga menjelang waktu salat Dzuhur, ratusan bus datang dan pergi silih berganti mengejar target evakuasi jemaah. Situasi ini sempat memicu penumpukan jemaah di area pintu keluar maktab karena keterlambatan kedatangan sejumlah armada bus di titik penjemputan.

​Petugas Transportasi, Muhammad Syukron, mengonfirmasi adanya kendala keterlambatan armada tersebut di lapangan yang sempat membuat jemaah harus menunggu dalam kondisi siap berangkat.

​"Seharusnya jemaah dari UPG 27 ini bergeser pukul 08.00, karena bus belum datang, jemaah yang telah siap harus menunggu di pintu keluar," jelas Syukron.

​Kendati sempat terjadi antrean panjang, penumpukan tersebut dilaporkan segera terurai dengan cepat setelah koordinasi diperketat dan armada bus mulai berdatangan secara konsisten ke lokasi maktab.

3. Ingat! Batas Maksimal Keluar Mina Sebelum Matahari Terbenam

Seorang jemaah haji mencukur rambut seorang pria hingga gundul di area terbuka sebagai bagian dari prosesi tahalul setelah ibadah haji.
Jemaah haji mencukur rambut hingga gundul sebagai bagian dari tahalul yaitu prosesi mencukur atau memotong rambut yang menandai telah berakhirnya masa ihram (Dok. MCH 2026)

​Wakil Kepala Satuan Tugas (Wakasatgas) Mina, Zaenal Muttaqin, menyampaikan bahwa pergerakan jemaah haji reguler sudah berjalan intensif sejak pagi hari. "Mulai pukul 06.00 sudah ada pergerakan naik bus, sekitar pukul 06.30 hingga 07.00 jemaah sudah mulai meninggalkan Mina menuju Makkah untuk mengambil Nafar Awal," jelas Zaenal.

​Hingga siang hari, data satgas mencatat sebanyak 424 kloter dari total 527 kloter yang ada telah resmi meninggalkan Mina dan menyelesaikan rangkaian mabit. Proses mobilisasi ini dijadwalkan berlangsung hingga pukul 14.00 WAS, dengan target penyelesaian maksimal di lapangan pada pukul 17.00 WAS.

​Namun, Zaenal memberikan catatan dan peringatan keras bagi jemaah yang merencanakan Nafar Awal agar memperhatikan pergerakan waktu dengan saksama. Secara syariat, seluruh jemaah Nafar Awal harus sudah benar-benar keluar dari batas wilayah Mina sebelum matahari terbenam.

​"Apabila melewati waktu terbenamnya matahari, meskipun direncanakan Nafar Awal, jemaah harus melanjutkan mabit di Mina dan mengambil Nafar Tsani," tegas Zaenal mengingatkan.

​Di sisi lain, sebagian jemaah haji Indonesia memang memilih untuk tetap tinggal dan melanjutkan mabit di Mina guna mengambil pilihan Nafar Tsani. Keputusan tersebut mereka ambil demi mengejar kesempurnaan rangkaian ibadah sesuai dengan rencana manasik yang matang.

​"Kami ingin menyempurnakan dengan Nafar Tsani, sesuai yang kami sepakati saat manasik," pungkas Muhammad, salah seorang jemaah asal Kloter Surabaya 65 (SUB 65), yang mengaku tetap merasa nyaman dan mantap dengan pilihan tersebut.

Share Article
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila

Related Articles

See More