Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gagalnya Perundingan AS-Iran, Ini yang Harus Kamu Tahu!
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. (Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Perundingan damai AS-Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam, meski sempat disepakati gencatan senjata dua pekan untuk memberi ruang diplomasi.
  • Negosiasi buntu karena perbedaan pandangan soal program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz, sementara ketegangan militer tetap tinggi di kawasan tersebut.
  • Iran dan AS membawa proposal berbeda—Iran menuntut pencabutan sanksi serta hak nuklir damai, sedangkan AS fokus pada pembatasan militer dan pembukaan jalur perdagangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026) pagi setelah berlangsung lebih dari 21 jam. Pembicaraan ini menjadi yang pertama sejak perang pecah enam minggu lalu dan menjadi kontak tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979.

Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington menyatakan, Iran menolak syarat yang diajukan Amerika Serikat. Ia menyampaikan hal tersebut kepada wartawan sebelum meninggalkan Pakistan menuju Washington.

“Iran telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” kata Vance, dikutip dari Time Magazine, Minggu (12/4/2026).

Ia menambahkan, “Saya pikir itu kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat.”

Meski negosiasi berakhir tanpa hasil, kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan untuk memberi ruang bagi diplomasi. Namun, perbedaan mendasar kembali menghambat tercapainya kesepakatan.

1. Isu nuklir dan Selat Hormuz jadi penghalang keberhasilan

ilustrasi Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/U.S. Energy Information Administration)

Salah satu poin utama yang membuat negosiasi buntu adalah tuntutan Amerika Serikat agar Iran memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Washington menilai hal ini sebagai syarat utama untuk mencapai perdamaian.

“Kita perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan berupaya memiliki senjata nuklir dan tidak akan berupaya mendapatkan alat untuk mencapainya dengan cepat,” ujar Vance.

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan pembicaraan juga tersendat pada isu kendali atas Selat Hormuz serta hak Iran untuk mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai.

Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik ini. Jalur strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, namun kini praktis diblokade Iran sejak perang dimulai.

Amerika Serikat menuntut agar jalur tersebut segera dibuka kembali. Pentagon bahkan menyatakan pasukannya telah mulai “menyiapkan kondisi untuk membersihkan ranjau” di wilayah tersebut.

2. Ketegangan militer dan pernyataan Trump

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Di tengah negosiasi, ketegangan militer di Selat Hormuz tetap tinggi. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi dua kapal perang telah melintasi selat tersebut untuk membuka jalur baru dan mendorong kelancaran perdagangan.

Namun, pejabat militer Iran mengklaim kapal tersebut berbalik arah setelah menerima peringatan. Perbedaan klaim ini menunjukkan situasi di lapangan masih belum stabil meski ada gencatan senjata.

Presiden AS Donald Trump juga memberikan pernyataan yang cenderung meremehkan pentingnya negosiasi. Ia menyatakan, Amerika Serikat tetap akan bertindak di Selat Hormuz terlepas dari hasil pembicaraan.

“Kami sedang membersihkan selat. Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, itu tidak ada bedanya bagi saya,” kata Trump.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan konflik belum berakhir. Ia mengatakan kepada publik “pertempuran belum berakhir,” sembari mengklaim Israel telah melemahkan kemampuan nuklir dan militer Iran.

3. Tuntutan berbeda buat jalan damai makin panjang

Perundingan damai Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang ditengahi Pakistan (Pakistan Prime Minister Office / AFP)

Iran membawa proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi, yang mencakup pencabutan sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, kendali atas Selat Hormuz, serta hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Selain itu, Iran juga menuntut penghentian serangan Israel di Lebanon. Tuntutan ini menjadi salah satu poin sensitif karena berkaitan dengan dinamika konflik yang lebih luas di kawasan.

Sementara itu, Amerika Serikat mengajukan proposal 15 poin yang berfokus pada pembatasan kemampuan militer dan nuklir Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz untuk perdagangan global.

Meski Presiden Trump sempat menyebut proposal Iran sebagai dasar yang bisa digunakan untuk bernegosiasi, pejabat Gedung Putih menyatakan tuntutan yang diajukan Teheran tidak sepenuhnya sesuai dengan yang dimaksud Trump.

Dengan perbedaan yang masih tajam, peluang kesepakatan dalam waktu dekat dinilai masih terbatas. Namun, kedua pihak tetap membuka kemungkinan melanjutkan negosiasi di masa mendatang, seiring tekanan global untuk mengakhiri konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa.

Editorial Team