Dialog Iran-AS Berlangsung 20 Jam Tanpa Hasil, Apa Sebabnya?

- Perundingan damai Iran-AS selama lebih dari 20 jam berakhir tanpa kesepakatan, dengan kedua pihak masih berselisih soal sejumlah syarat penting yang diajukan Amerika Serikat.
- Tuntutan Iran seperti pencairan aset beku, kendali atas Selat Hormuz, dan kompensasi perang menjadi hambatan utama dalam negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan.
- Selat Hormuz tetap jadi isu paling sensitif karena perbedaan klaim antara AS dan Iran terkait aktivitas militer di jalur strategis tersebut, memperumit upaya menuju perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung intens selama lebih dari 20 jam belum menghasilkan kesepakatan konkret. Wakil Presiden AS JD Vance mengakui perundingan tersebut masih menemui jalan buntu.
Berbicara kepada wartawan di Pakistan pada Minggu (12/4/2026), Vance menyampaikan, delegasi Amerika Serikat telah meninggalkan ruang negosiasi dan bersiap kembali ke Washington.
Ia menegaskan, masih terdapat sejumlah perbedaan mendasar antara kedua pihak. Menurutnya, Iran belum bersedia menerima sejumlah syarat yang diajukan oleh Amerika Serikat.
“Masih ada kekurangan dalam pembicaraan dan Iran memilih untuk tidak menerima syarat dari AS,” kata Vance, dilansir dari Al Jazeera.
Perundingan ini sendiri menjadi momen penting karena merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam Iran pada 1979.
1. Dinamika negosiasi yang beragam

Pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan ini awalnya berlangsung dalam suasana yang dinilai positif. Seorang pejabat Pakistan bahkan sempat menggambarkan jalannya diskusi sebagai konstruktif.
“Saya dapat mengatakan bahwa diskusi berjalan positif dan suasana secara keseluruhan ramah,” ujarnya.
Namun, suasana tersebut tidak bertahan lama. Setelah jeda, dinamika perundingan disebut berubah menjadi lebih tegang.
Sumber lain dari Pakistan mengatakan, terjadi fluktuasi dalam suasana pertemuan. “Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Suhu naik turun selama pertemuan,” ujarnya.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh JD Vance, sementara Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
2. Tuntutan Iran dianggap jadi batu sandungan

Sejumlah tuntutan Iran disebut menjadi hambatan utama dalam negosiasi. Salah satu yang paling menonjol adalah permintaan pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Sumber senior Iran menyebut pencairan dana yang tersimpan di Qatar menjadi salah satu poin penting dalam pembicaraan.
Selain itu, Iran juga menuntut kendali atas Selat Hormuz, kompensasi atas kerugian perang, serta penerapan gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon.
Teheran juga mengusulkan rencana untuk mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan, pembicaraan belum sepenuhnya gagal dan masih akan berlanjut.
“Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan,” demikian pernyataan pemerintah Iran melalui platform X.
3. Selat Hormuz terus jadi isu kunci dalam perundingan

Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling krusial dalam negosiasi ini. Jalur tersebut telah ditutup oleh Iran sejak konflik dengan AS dan Israel pecah, memicu gangguan besar pada distribusi energi global.
Militer Amerika Serikat sebelumnya mengklaim, dua kapal perangnya telah melintasi selat tersebut dan tengah bersiap untuk membersihkan ranjau yang diduga dipasang Iran.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh media pemerintah Iran yang menyatakan kapal-kapal AS tidak melintasi jalur tersebut.
Perbedaan informasi ini semakin menunjukkan kompleksitas situasi di lapangan, sekaligus mempertegas betapa sensitifnya isu Selat Hormuz dalam hubungan kedua negara.
Dengan masih adanya perbedaan tajam, kelanjutan negosiasi akan menjadi penentu apakah gencatan senjata yang telah disepakati dapat berkembang menjadi perdamaian yang lebih permanen.

















