Mengapa Pakistan Dipilih Jadi Penengah AS-Iran?

- Perundingan AS-Iran di Islamabad belum capai kesepakatan, namun Pakistan muncul sebagai mediator utama yang menjaga komunikasi kedua pihak tetap terbuka.
- Pakistan dipilih karena posisi geografis strategis, hubungan baik dengan AS dan Iran, serta dukungan diplomatik dari China yang memperkuat perannya di kawasan.
- Keberhasilan Pakistan memfasilitasi gencatan senjata sementara meningkatkan kredibilitas globalnya, meski tantangan besar masih menghadang di tengah situasi regional yang rapuh.
Jakarta, IDN Times - Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah pertemuan panjang selama 21 jam yang digelar di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan final. Meski sempat disebut berlangsung positif, kedua pihak masih memiliki perbedaan mendasar, terutama terkait tuntutan Iran.
Di tengah kebuntuan tersebut, perhatian dunia justru tertuju pada Pakistan sebagai tuan rumah sekaligus mediator utama dalam perundingan ini. Peran Islamabad dinilai krusial dalam menjaga komunikasi antara Washington dan Teheran tetap terbuka.
Situasi ini menjadi titik balik bagi Pakistan, yang sebelumnya lebih sering dikaitkan dengan isu keamanan dan ketidakstabilan ekonomi. Kini, negara tersebut justru tampil sebagai aktor penting dalam upaya meredakan konflik global.
Seiring berjalannya waktu, pertanyaan besar pun muncul, mengapa Pakistan yang dipilih menjadi penengah dalam salah satu konflik paling sensitif di dunia saat ini?
Para analis menilai, keputusan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kombinasi faktor strategis, diplomasi aktif, dan perubahan dinamika hubungan internasional.
1. Rekam jejak Pakistan
Selama bertahun-tahun, Pakistan kerap dipandang sebagai mitra yang tidak sepenuhnya dapat diandalkan oleh Amerika Serikat. Tuduhan terkait dukungan ganda dalam konflik Afghanistan hingga kasus Osama bin Laden pada 2011 sempat merusak hubungan kedua negara.
Bahkan, Presiden Donald Trump pada masa jabatan pertamanya pernah menuduh Pakistan memberikan ‘tidak lain selain kebohongan dan tipu daya’ kepada Washington.
Di era Presiden Joe Biden, hubungan kedua negara juga tidak menunjukkan kemajuan signifikan. “Pakistan benar-benar semacam negara paria,” kata ilmuwan politik Aqil Shah, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (12/4/2026).
Ia menambahkan, “Pemerintahan Biden tidak benar-benar melibatkan Pakistan; tidak ada kepentingan strategis yang konkret.”
Namun, dinamika berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pakistan mulai aktif memperbaiki hubungan dengan AS, termasuk dengan menunjukkan dukungan terhadap upaya deeskalasi konflik global.
Menurut analis Fahd Humayun, terdapat keinginan kuat dari Islamabad untuk memperluas hubungan dengan Washington. “Ada keinginan yang sangat nyata di Pakistan untuk mencoba memperluas hubungan dengan Washington,” ujarnya.
Langkah-langkah ini perlahan mengubah persepsi terhadap Pakistan, dari negara yang dihindari menjadi mitra yang mulai diperhitungkan.
2. Posisi strategis Pakistan dan prinsip diplomasi menjadi kunci

Selain perubahan hubungan dengan AS, posisi geografis Pakistan menjadi faktor penting dalam perannya sebagai mediator. Negara ini berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer, serta memiliki hubungan historis dan sosial yang kompleks di kawasan tersebut.
Pakistan juga berada dalam posisi unik karena memiliki hubungan baik dengan kedua pihak yang berkonflik. “Pakistan menemukan dirinya berada di posisi unik dengan hubungan baik dengan Teheran dan Washington,” kata Farwa Aamer dari Asia Society Policy Institute.
Tidak hanya itu, kedekatan Pakistan dengan China turut memperkuat perannya. Hubungan erat dengan Beijing dinilai membantu membuka jalur komunikasi tambahan yang berpengaruh terhadap Iran.
“Iran kemungkinan terpengaruh oleh kombinasi komunikasi Pakistan dan keterlibatan China,” kata Humayun.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kepentingan domestik Pakistan. Negara ini sangat terdampak oleh krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz, mengingat ketergantungannya pada impor minyak dan gas dari Timur Tengah.
“Pakistan memiliki kepentingan yang sangat besar, mungkin lebih besar dari negara mana pun di sebelah timur Iran dalam konflik ini,” ujar Humayun.
3. Peran baru Pakistan di tengah gencatan senjata rapuh

Peran Pakistan sebagai mediator semakin terlihat saat negara tersebut berhasil memfasilitasi gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Keberhasilan ini dinilai meningkatkan kredibilitas Islamabad di panggung global.
“Fakta bahwa Pakistan mampu mendorong terobosan diplomatik ini di saat terakhir jelas memberinya banyak kredibilitas,” kata Aamer. Ia menambahkan, langkah tersebut menempatkan Pakistan sebagai “pemain yang menunjukkan kapasitasnya” dalam menentukan arah kawasan.
Namun, tantangan masih besar. Gencatan senjata yang ada saat ini dinilai rapuh dan terus diuji oleh berbagai insiden di lapangan, termasuk ketegangan di Lebanon dan Selat Hormuz.
Pakistan sendiri juga menghadapi tekanan untuk tetap menjaga keseimbangan. Negara ini tidak memiliki pangkalan militer AS dan bukan bagian dari koalisi anti-Iran, namun tetap memiliki hubungan erat dengan Washington dan sekutunya.
Di tengah situasi tersebut, Islamabad berupaya mempertahankan peran sebagai mediator netral. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bahkan mengecam eskalasi terbaru dengan menyatakan, “Tindakan Israel merusak upaya internasional untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas di kawasan.”
Dengan posisi yang semakin strategis, Pakistan kini tidak hanya menjadi tuan rumah perundingan, tetapi juga aktor penting dalam menentukan arah diplomasi global—meski hasil akhir negosiasi masih belum pasti.

















