Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gaza Memilih, Pemilu Pertama Sejak 2006 Digelar
Petugas pemilu Palestina menghitung suara di TPS darurat di Deir el-Balah, di Jalur Gaza tengah (AFP/Eyad Baba)
  • Warga Gaza mengikuti pemilu pertama sejak 2006 di Deir al-Balah, dengan partisipasi sekitar 70.000 orang meski banyak lokasi rusak akibat konflik.
  • Otoritas Palestina menyelenggarakan pemilu dengan syarat pengakuan terhadap Israel dan solusi dua negara, membuat Hamas tidak dapat berpartisipasi.
  • Hamas mendukung pelaksanaan pemilu meski tak ikut serta, sementara hasilnya dianggap sebagai langkah awal menghidupkan kembali demokrasi di Palestina.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2006

Pemilu terakhir di Gaza digelar sebelum wilayah tersebut dikuasai oleh Hamas. Setelah kemenangan Hamas, konflik internal dengan Fatah membuat tidak ada lagi pemilihan yang berlangsung di Gaza.

7 Oktober 2023

Terjadi peristiwa yang memicu dua tahun serangan udara Israel terhadap Gaza, menyebabkan banyak kerusakan infrastruktur termasuk lokasi pemungutan suara.

25 April 2026

Pemungutan suara pertama dalam dua dekade digelar di Gaza, berpusat di Deir al-Balah dan bersamaan dengan pemilu lokal di Tepi Barat. Sekitar 70.000 warga berpartisipasi meski dalam keterbatasan akibat kerusakan pascakonflik.

26 April 2026

Warga seperti Salama Badwan menyampaikan pandangannya kepada media internasional tentang pentingnya pemilu sebagai simbol harapan dan perubahan melalui mekanisme demokrasi.

kini

Hasil pemilu diperkirakan akan diumumkan pada Sabtu malam atau Minggu, menandai kemungkinan terbukanya kembali ruang demokrasi di Palestina meski tantangan politik masih besar.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemilu pertama di Gaza sejak tahun 2006 digelar, dengan pemungutan suara terbatas untuk memilih anggota dewan kota dan desa di wilayah yang dikoordinasikan oleh Otoritas Palestina.
  • Who?
    Warga Palestina di Gaza berpartisipasi dalam pemilu yang diselenggarakan oleh Otoritas Palestina. Hamas tidak ikut serta, sementara partai Fatah mendominasi proses pemilihan.
  • Where?
    Pemungutan suara berlangsung di Deir al-Balah, Gaza tengah, serta sejumlah wilayah Tepi Barat. Beberapa daerah lain tidak mengadakan pemilihan langsung.
  • When?
    Pemilu dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, dan hasilnya diperkirakan diumumkan pada malam hari atau keesokan harinya, Minggu, 26 April 2026.
  • Why?
    Pemilu ini digelar untuk menghidupkan kembali proses demokrasi di Palestina setelah dua dekade tanpa pemilihan akibat konflik politik antara Hamas dan Fatah.
  • How?
    Pemilu dilakukan secara terbatas karena banyak fasilitas rusak akibat konflik. Sekitar 70.000 warga memberikan suara menggunakan perlengkapan seadanya di lokasi yang masih layak digunakan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Orang-orang di Gaza akhirnya bisa pilih pemimpin lagi setelah lama banget, dari tahun 2006 belum pernah. Mereka pilih di kota Deir al-Balah karena tempat lain banyak yang rusak. Cuma sedikit orang yang bisa ikut karena kotak suara dan gedung banyak hancur. Pemilu ini dibuat oleh Otoritas Palestina, dan Hamas tidak boleh ikut. Sekarang semua orang tunggu hasilnya, dan mereka berharap bisa hidup lebih baik nanti.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Warga Palestina di Gaza akhirnya mengikuti pemilu untuk pertama kalinya dalam dua dekade terakhir. Pemungutan suara digelar pada Sabtu (25/4/2026), bersamaan dengan pemilu lokal di sejumlah wilayah Tepi Barat.

Pemilu ini menjadi momen langka bagi warga Gaza, yang terakhir kali mengikuti pemilu pada 2006 sebelum wilayah tersebut dikuasai Hamas. Sejak saat itu, tidak ada pemilihan yang digelar di wilayah tersebut.

Kali ini, pemungutan suara difokuskan di Deir al-Balah, sebuah kota di Gaza tengah yang relatif paling sedikit mengalami kerusakan dibanding wilayah lain setelah dua tahun serangan udara Israel pasca peristiwa 7 Oktober 2023.

Meski dilakukan dalam keterbatasan, pemilu ini tetap dianggap sebagai langkah penting dalam upaya menghidupkan kembali proses demokrasi di wilayah Palestina.

1. Pemilu digelar di tengah keterbatasan

ilustrasi kelompok pro-Palestina (pexels.com/Abdulmomen Bsruki)

Pelaksanaan pemilu di Gaza tidak berlangsung secara menyeluruh. Hanya sekitar 70.000 warga atau sekitar 5 persen dari total populasi Gaza yang dapat memberikan suara di Deir al-Balah.

Keterbatasan ini terjadi karena banyak lokasi yang biasanya digunakan sebagai tempat pemungutan suara telah hancur akibat konflik. Selain itu, perlengkapan pemilu seperti kotak suara juga mengalami kerusakan.

Meski begitu, warga yang berpartisipasi tetap memanfaatkan kesempatan ini untuk menyuarakan pilihan mereka. Bagi sebagian warga, pemilu ini menjadi simbol harapan di tengah situasi sulit.

Salama Badwan, salah satu pemilih yang datang bersama keluarganya, menyebut pemilu ini sebagai momen penting. “Ini adalah perayaan demokrasi Palestina yang sesungguhnya,” ujarnya kepada Al Jazeera, Minggu (26/4/2026).

Ia juga menegaskan pentingnya perubahan melalui mekanisme demokrasi. “Kita harus mengubah segalanya melalui kotak suara. Siapa pun yang menang, itu adalah hak mereka, tetapi bukan melalui warisan… perubahan harus melalui tangan rakyat,” kata Badwan.

2. Syarat politik dan peran Otoritas Palestina

Petugas pemilu Palestina menghitung suara di TPS darurat di Deir el-Balah, di Jalur Gaza tengah (AFP/Eyad Baba)

Pemilu ini diselenggarakan oleh Otoritas Palestina, yang juga menetapkan sejumlah syarat bagi para kandidat. Salah satu syarat utama adalah kesediaan untuk mengakui negara Israel serta mendukung solusi dua negara.

Kondisi ini membuat Hamas tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam pemilu. Padahal, kelompok tersebut telah menguasai Gaza sejak lebih dari 20 tahun lalu.

Di sisi lain, partai Fatah yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina mendominasi proses pemilu. Pemungutan suara dilakukan untuk memilih anggota di 90 dewan kota dan 93 dewan desa.

Sementara itu, sejumlah wilayah lain tidak melalui proses pemungutan suara. Sebanyak 42 dewan kota dan 155 dewan desa ditentukan tanpa pemilihan langsung.

3. Dinamika politik dan harapan ke depan

ilustrasi bendera Palestina (pexels.com/Pok Rie)

Meski tidak ikut serta, Hamas menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan pemilu di Gaza. Mereka juga berharap wilayah lain dapat memiliki kesempatan yang sama untuk memilih pemimpin mereka.

Namun, dinamika politik antara Hamas dan Fatah masih menjadi latar belakang penting dalam pemilu ini. Setelah kemenangan Hamas pada 2006, konflik internal sempat terjadi hingga Fatah tersingkir dari Gaza.

Sejak saat itu, tidak ada pemilu yang digelar di wilayah tersebut. Kondisi ini membuat pemilu kali ini menjadi peristiwa yang sangat signifikan, meski dilakukan secara terbatas.

Hasil pemilu diperkirakan akan diumumkan pada Sabtu malam atau Minggu. Pemilu ini menjadi penanda awal kemungkinan terbukanya kembali ruang demokrasi, meski tantangan politik dan kondisi lapangan masih membayangi.

Editorial Team