Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gedung Pusat Kebudayaan Rusia di Praha Diserang Bom Molotov
Bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)
  • Gedung Pusat Sains dan Kebudayaan Rusia di Praha diserang enam bom molotov, tiga di antaranya meledak dan menyebabkan kerusakan pada bagian luar bangunan tanpa korban jiwa.
  • Pemerintah Ceko menolak memberi status perlindungan diplomatik bagi Rumah Rusia karena dianggap berperan dalam penyebaran propaganda Kremlin terkait konflik Ukraina.
  • Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam keras serangan tersebut dan menuntut jaminan keamanan lebih bagi aset serta staf diplomatiknya di Republik Ceko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gedung Pusat Sains dan Kebudayaan Rusia di distrik Praha 6, Republik Ceko, menjadi sasaran serangan bom molotov pada Kamis (26/3/2026) malam. Insiden di kawasan misi diplomatik tersebut memicu respons cepat dari kepolisian dan tim layanan darurat guna mengamankan lokasi.

Peristiwa ini menambah ketegangan geopolitik di Eropa Tengah. Gedung yang dikenal sebagai "Rumah Rusia" itu mengalami vandalisme yang mengancam struktur bangunan serta keselamatan staf dan warga sekitar.

Kepolisian Republik Ceko pada Jumat (27/3/2026) menyatakan tengah melakukan pengejaran intensif terhadap pelaku yang melarikan diri dari lokasi kejadian di Jalan Na Zatorce. Investigasi forensik saat ini difokuskan pada pengumpulan bukti di tempat kejadian perkara (TKP) dan analisis rekaman kamera pengawas (CCTV).

1. Pelaku lempar enam bom molotov ke arah gedung Rumah Rusia

ilustrasi Ceko atau Czech Republic (pexels.com/JÉSHOOTS)

Pelaku melempar enam botol bom molotov ke arah fasad utama gedung, namun hanya tiga yang meledak saat mengenai bangunan. Ledakan tersebut menyebabkan kerusakan pada bagian luar gedung, termasuk pecahnya jendela dan noda hitam bekas pembakaran pada dinding.

Tim penjinak bom telah mengamankan sisa botol yang tidak meledak sebagai bukti penyelidikan. Direktur Pusat Sains dan Kebudayaan Rusia di Praha, Igor Girenko, mengonfirmasi bahwa api tidak sampai merambat ke bagian interior gedung.

"Tiga dari enam botol bom molotov tidak menyala karena sebuah kebetulan yang beruntung," ujar Igor Girenko dalam pernyataan resminya, dilansir Pravda.

2. Ceko menolak memberikan status perlindungan diplomatik pada gedung Rumah Rusia

ilustrasi Ceko (unsplash.com/Paxton Tomko)

Institusi Pusat Sains dan Kebudayaan Rusia di Praha dikelola oleh Rossotrudnichestvo, badan federal Rusia yang masuk dalam daftar sanksi Uni Eropa sejak 2022. Otoritas keamanan menuduh lembaga tersebut sebagai instrumen penyebar narasi politik Kremlin dan disinformasi terkait agresi militer di Ukraina.

Hingga saat ini, Pemerintah Republik Ceko menolak memberikan status perlindungan diplomatik kepada gedung Rumah Rusia. Aktivitas di dalamnya dinilai melampaui batas diplomasi budaya dan lebih condong pada propaganda negara.

Wakil Kepala Rossotrudnichestvo, Pavel Shevtsov, menilai serangan fisik tersebut sebagai ancaman keamanan yang serius dan terencana.

"Saya memandang serangan terhadap Rumah Rusia di Praha sebagai sebuah tindakan terorisme," ujar Pavel Shevtsov, dilansir The Moscow Times.

3. Rusia tuntut jaminan keamanan bagi diplomat di Republik Ceko

Momen senja di Praha, ibu kota Republik Ceko, dengan siluet Kastil Praha yang menonjol. (unsplash.com/František Zelinka)

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam keras insiden ini dan menuntut peningkatan standar keamanan bagi aset serta staf Rusia di Praha. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengkritik situasi keamanan di ibu kota Ceko tersebut.

"Serangan bom molotov ini adalah sebuah tindakan biadab yang mencerminkan atmosfer kebencian terhadap kehadiran Rusia di wilayah tersebut," kata Maria Zakharova.

Menanggapi hal itu, Menteri Dalam Negeri Ceko, Lubomír Metnar, menyatakan komitmennya untuk mengusut tuntas kasus ini berdasarkan hukum pidana yang berlaku. Ia menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan fisik merupakan pelanggaran hukum.

"Serangan tersebut tidak dapat diterima. Kepolisian akan bekerja secara profesional untuk menangkap pelaku tanpa terpengaruh oleh dinamika politik luar negeri yang sedang memanas," ujar Lubomír Metnar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team