Rusia Diduga Rencanakan Upaya Pembunuhan Palsu terhadap PM Hungaria

- Badan Intelijen Rusia diduga merencanakan operasi palsu bertajuk Gamechanger untuk meningkatkan dukungan terhadap PM Hungaria Viktor Orban menjelang pemilu yang ketat.
- Kremlin membantah tuduhan tersebut dan menyebut dokumen rencana pembunuhan palsu sebagai hoaks, sambil menegaskan pentingnya kemenangan Orban bagi pengaruh Rusia di Eropa.
- Uni Eropa tetap berkomitmen melanjutkan pinjaman 90 miliar euro untuk Ukraina meski ditentang Hungaria, sementara para pemimpin UE mengecam sikap Orban yang dianggap menghambat kebijakan bersama.
Jakarta, IDN Times - Badan Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR), pada Sabtu (21/3/2026), disebut merencanakan upaya pembunuhan palsu kepada Perdana Menteri (PM) Hungaria, Viktor Orban. Aksi itu untuk mengubah pandangan publik Hungaria.
Dilansir United24, operasi bertajuk Gamechanger tersebut ditujukan untuk meningkatkan dukungan kepada Orban. Sebab, elektabilitas Orban di mata publik Hungaria kian tergerus imbas tekanan ekonomi.
Menjelang pemilihan umum (pemilu) parlemen, situasi politik di Hungaria semakin panas. Sebab, survei menunjukkan bahwa pemimpin oposisi Hungaria, Peter Magyar berhasil merebut perolehan suara mayoritas.
1. Rusia sebut dokumen itu sebagai informasi palsu
Menanggapi terkuaknya rencana pembunuhan palsu kepada Orban, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov akhirnya buka suara. Menurutnya, dokumen tersebut adalah bagian dari informasi palsu atau hoaks yang beredar.
Rencana ini muncul setelah tingginya upaya Kremlin untuk mendukung terpilihnya Orban dalam pemilu Hungaria. Pekan lalu, muncul kabar bahwa Rusia akan mendukung Orban dalam pemilu pada 12 April mendatang.
Sementara itu, Moskow menganggap pemilu di Hungaria ini penting dan berisiko tinggi. Sebab, jika Orban dan Partai Fidesz kalah, maka Rusia akan kehilangan sekutu dan pengaruhnya di dalam NATO dan Uni Eropa (UE) akan memudar.
2. Rusia dukung pemblokiran Hungaria soal utang dari UE ke Ukraina
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan bahwa UE sudah meneror Hungaria. Menurutnya, UE sudah mengancam pendanaan Hungaria jika tidak menyetujui resolusi pinjaman ke Ukraina.
Dilansir TVP World, Orban berjanji akan memblokir segala proposal pro-Ukraina dalam pertemuan UE. Ia baru bersedia membuka blokir jika Ukraina bersedia mengalirkan minyak mentah dari Rusia ke Hungaria lewat pipa Druzhba.
3. UE sebut Hungaria tidak dapat setop pinjaman untuk Ukraina
Pemimpin UE berjanji akan melanjutkan pinjaman ke Ukraina senilai 90 miliar euro (Rp1.765 triliun) meskipun mendapat penolakan dari Hungaria. Namun, kebijakan ini akan ditunda untuk sementara waktu.
“Pinjaman ini masih ditunda sementara waktu karena salah satu pemimpin tidak menepati kata-katanya, tapi ini akan disetujui lewat satu cara atau cara lainnya,” ungkap Kepala Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dilansir Kyiv Post.
Di sisi lain, Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa mengecam sikap Orban. Menurutnya, tidak ada satu pun orang yang dapat memeras institusi Eropa, termasuk Orban.



















