Drone Rusia Sasar Pelabuhan Ukraina di Odessa

- Rusia menyerang Pelabuhan Izmail di Odessa menggunakan drone, melukai satu orang serta merusak infrastruktur energi dan industri penting di kawasan Sungai Danube.
- Pada hari yang sama, Rusia juga menggempur Kharkiv dengan drone, menewaskan dua orang dan melukai sembilan lainnya sebagai balasan atas serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia.
- Upaya diplomasi Ukraina melalui empat pertemuan trilateral dengan Rusia dan AS gagal mencapai gencatan senjata, sementara situasi geopolitik global memperlambat proses perdamaian.
Jakarta, IDN Times - Rusia dilaporkan menyerang pelabuhan Ukraina yang ada di Kota Izmail, Negara Bagian Odessa, pada Rabu (25/3/2026) malam waktu setempat. Menurut keterangan otoritas setempat pada Kamis (26/3/2026), serangan tersebut melukai satu orang dan merusak infrastruktur energi dan industri yang ada di pelabuhan.
Sebagai informasi, Pelabuhan Izmail sendiri terletak di Sungai Danube, sungai terbesar ke-2 yang ada di Ukraina. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan industri kerap digunakan oleh Ukraina untuk melakukan kegiatan perdagangan internasional, seperti ekspor dan impor.
1. Rusia juga menyerang Kharkiv pada hari yang sama

Sebelum melancarkan serangan ke Pelabuhan Izmail, Rusia sudah terlebih dahulu menyerang Negara Bagian Kharkiv menggunakan drone. Serangan tersebut juga terjadi pada hari yang sama.
Menurut otoritas Kharkiv, serangan tersebut menewaskan 2 orang dan melukai 9 lainnya. Seluruh korban luka kini sudah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit terdekat.
Menurut keterangan sumber anonim dari Rusia, serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan Ukraina. Sebab, dalam beberapa hari terakhir, pasukan Ukraina sedang gencar melancarkan serangan ke kilang minyak Rusia.
2. Ukraina sudah berupaya mengakhiri serangan dari Rusia

Untuk mengakhiri serangan-serangan tadi, Ukraina sebetulnya sudah beberapa kali menggelar pertemuan trilateral dengan Rusia dan Amerika Serikat sebagai mediator. Namun, semua pertemuan itu berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti.
Pertemuan pertama dan kedua dihelat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Januari dan awal Februari 2026 lalu. Namun, kedua pertemuan tersebut gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
Pertemuan ketiga digelar di Jenewa, Swiss, pada 17 dan 18 Februari. Sayangnya, pertemuan tersebut lagi-lagi gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.
3. Proses negosiasi terakhir juga berakhir nihil

Pertemuan ke-4 juga sudah digelar beberapa waktu lalu. Namun, pertemuan tersebut juga berakhir nihil tanpa kesepakatan berarti. Tidak ada kesepakatan gencatan senjata di antara Rusia dan Ukraina.
Dalam pernyataannya, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengatakan, perang yang terjadi antara Iran dengan AS dan Israel di Timur Tengah turut memperlambat proses perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Sebab, fokus negara-negara kini sedang tertuju pada konflik tersebut.
“Situasi geopolitik menjadi lebih rumit karena perang melawan Iran. Ini, sayangnya, meningkatkan kepercayaan diri Rusia,” kata Zelenskyy, seperti dilansir Euro News.
Kebuntuan ini membuat konflik antara Rusia dan Ukraina jadi makin alot. Padahal, per 24 Februari lalu, perang antara kedua pihak sudah memasuki tahun ke-4. Namun, hingga kini, belum ada tanda-tanda kapan perang akan berakhir.



















