potret demo di Kota Lisbon, Portugal (pexels.com/Pedro Rebelo Pereira)
Di Portugal, puluhan ribu orang diperkirakan mengikuti demonstrasi di Lisbon untuk memprotes kenaikan biaya hidup, rendahnya upah, dan semakin sulitnya mengakses hunian di kota-kota besar. Sebagian demonstran mendirikan tenda sebagai bentuk protes terhadap krisis perumahan yang semakin membebani masyarakat.
Persoalan perumahan menjadi salah satu pemicu utama ketidakpuasan warga. Harga rumah di Portugal dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Sementara itu, harga sewa untuk kontrak baru juga mengalami kenaikan yang hampir sebanding.
Menteri Urusan Parlemen Portugal, Carlos Abreu Amorim, sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah tidak akan tunduk pada tekanan demonstrasi. Pernyataan tersebut mendapat tanggapan dari para demonstran yang menilai para pemimpin negara tidak memahami kesulitan yang mereka hadapi.
Menurut Alberto Alemanno, profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris Business School, demonstrasi di Prancis berpotensi menjadi pusat gerakan yang menyebar ke negara-negara Eropa lainnya.
“Prancis adalah pusat gerakan ini,dan sekarang ada tanda-tanda bahwa gerakan ini menyebar ke luar Prancis,” ujar Alemanno kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan, gelombang demonstrasi tersebut bukanlah satu gerakan terpadu, melainkan sejumlah aksi yang berlangsung bersamaan dengan keluhan serupa. Di antaranya adalah persoalan pendanaan pendidikan, kenaikan biaya hidup, serta ketidakpastian prospek pekerjaan bagi mahasiswa setelah lulus.
Situasi ini menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah Eropa karena kawasan tersebut akan menghadapi periode pemilihan umum nasional yang padat dalam 12 bulan mendatang, termasuk di Spanyol, Prancis, Italia, dan Polandia. Ia menilai demonstrasi dan mobilisasi masyarakat akan menjadi bagian penting dari percakapan politik di Eropa menjelang rangkaian pemilu tersebut.