Gelombang panas menghantam sebagian wilayah AS dan Kanada mulai minggu ini. (Pexels.com/Archie Binamira)
Steve McCullough, pengelola hotel lokal di Hopetoun, mengatakan warga di daerah pertanian tersebut terbiasa menghadapi panas ekstrem, meski kali ini terasa jauh lebih parah.
“Kami membuka pintu dan memberi tahu siapa pun yang kepanasan bisa masuk dan duduk tanpa kewajiban membeli apa pun,” ujarnya kepada CNN, Kamis (30/1/2026).
Hotel tersebut menjadi tempat berlindung bagi warga yang menghindari penggunaan pendingin ruangan karena biaya listrik yang melonjak. Ia menambahkan, “Begitu suhu lewat 40 derajat, entah itu 42 atau 49 derajat, rasanya sama-sama panas luar biasa. Kita harus bisa menyesuaikan diri.”
Otoritas kesehatan Victoria mengimbau masyarakat untuk tetap terhidrasi dan memeriksa kondisi kelompok rentan. “Tanda-tanda sengatan panas adalah kehilangan kesadaran, kebingungan, dan kejang,” kata Michael Georgiou dari Ambulance Victoria.
Ia menegaskan kondisi tersebut merupakan keadaan darurat yang mengancam nyawa.
Suhu ekstrem turut memperparah kebakaran hutan di Victoria, memicu evakuasi dan membuat petugas pemadam kebakaran sukarela berjuang menahan api di sekitar permukiman. Status bencana masih diberlakukan saat sedikitnya lima kebakaran besar terus berlangsung.
Lebih dari 100 ribu rumah sempat kehilangan pasokan listrik akibat kerusakan jaringan dan tekanan pada sistem listrik, membuat banyak warga harus bertahan tanpa pendingin udara di tengah panas ekstrem.
Kyla Beale, warga Gellibrand, mengatakan sebagian besar warga telah dievakuasi sejak Sabtu pekan lalu. “Sangat menakutkan meninggalkan suami saya sendirian menghadapi angin dan api,” katanya.
Para ahli iklim memperingatkan bahwa kondisi ekstrem ini merupakan darurat kesehatan publik. “Panas adalah pembunuh senyap. Panas telah merenggut lebih banyak nyawa di Australia dibandingkan semua bencana cuaca ekstrem lainnya,” kata Dr Kate Charlesworth dari Australian Climate Council.