Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Google dan YouTube Didesak Hentikan Konten Video AI untuk Anak
Flow memungkinkan video AI dibuat berurutan per scene (Pixebay.com/StartupStockPhotos)
  • Ratusan pakar dan organisasi mendesak Google serta YouTube menghentikan penayangan video AI untuk anak karena dinilai berisiko merusak perkembangan otak dan kesehatan mental mereka.
  • Koalisi Fairplay menuntut pelabelan jelas pada konten AI, menonaktifkan rekomendasi otomatis bagi pengguna di bawah 18 tahun, serta memberi kontrol penuh kepada orang tua atas tontonan anak.
  • YouTube mengklaim telah membatasi konten AI di YouTube Kids dengan kurasi ketat, namun tekanan publik meningkat setelah pengadilan menyebut desain platform membuat anak kecanduan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ratusan pakar perkembangan anak dan organisasi perlindungan konsumen mengirimkan surat tuntutan kepada pimpinan Google dan YouTube pada Rabu (1/4/2026). Mereka mendesak raksasa teknologi tersebut untuk segera menghentikan penayangan serta rekomendasi video kecerdasan buatan (AI) bagi penonton anak-anak di semua platform mereka.

Langkah tegas ini diambil menyusul kekhawatiran terhadap maraknya konten otomatis atau "AI slop" yang dinilai tidak mendidik dan berisiko merusak kesehatan mental anak. Para ahli menegaskan, kesejahteraan anak harus lebih diutamakan daripada sekadar mengejar keuntungan finansial dari eksploitasi teknologi tersebut.

1. Risiko video AI bagi perkembangan otak balita

Google Chrome (unsplash.com/Solen Feyissa)

Pakar anak, psikiater, dan pendidik memperingatkan bahwa video buatan mesin yang diproduksi secara massal dapat mendistorsi cara anak melihat realitas. Konten ini sering kali mengaburkan batas antara dunia nyata dan khayalan bagi anak-anak.

Video berkualitas rendah ini umumnya menggunakan pergerakan gambar yang terlampau cepat, warna-warna mencolok, dan efek suara bising untuk memancing atensi balita secara paksa. Kebiasaan mengonsumsi konten semacam ini berisiko memperpendek rentang fokus anak dan mengganggu proses belajar alami mereka.

"Konten ini muncul saat otak anak sedang berkembang pesat untuk masa depan mereka. Menonton video AI yang buruk bukan sekadar hiburan biasa, tapi bisa mengancam pertumbuhan saraf anak secara permanen," kata Dana Suskind, Profesor Bedah dan Pediatri sekaligus Kodirektur TMW Center for Early Learning di Universitas Chicago.

Ia menyebut video yang penuh logika cacat dan visual aneh sebagai bentuk misinformasi yang berbahaya bagi balita.

2. Desakan pembatasan fitur rekomendasi otomatis

Google Chrome (unsplash.com/Zulfugar Karimov)

Koalisi yang dipimpin oleh organisasi nirlaba Fairplay bersama lebih dari 200 pakar menuntut Google memberikan label yang jelas pada konten AI. Mereka juga mendesak agar fitur rekomendasi video otomatis dimatikan sepenuhnya bagi pengguna di bawah usia 18 tahun.

Selain itu, koalisi meminta Google berhenti mengucurkan dana besar kepada studio animasi eksternal yang memproduksi konten menggunakan AI. Orang tua juga harus diberikan kontrol penuh untuk memblokir konten otomatis tersebut dari perangkat anak mereka.

Rachel Franz, Direktur Program Young Children Thrive Offline, menilai sistem YouTube saat ini sengaja dirancang untuk menjebak anak-anak agar terus menonton demi mendongkrak pendapatan iklan.

"YouTube harus segera berhenti menyuguhkan video AI yang tidak bermutu kepada anak-anak. Teknologi ini bisa merusak kemampuan mereka dalam bersosialisasi dan beraktivitas fisik yang sangat penting di dunia nyata," ujar Franz.

3. Tanggapan YouTube terkait keamanan konten anak

ilustrasi YouTube (pexels.com/Zulfugar Karimov)

Menanggapi gelombang kritik tersebut, pihak YouTube menyatakan bahwa mereka telah membatasi penyebaran konten AI, khususnya di aplikasi YouTube Kids. Mereka mengklaim hanya saluran berkualitas tinggi yang telah melewati proses kurasi ketat yang diizinkan tayang di platform tersebut.

Tekanan terhadap YouTube semakin menguat setelah juri pengadilan di Los Angeles baru-baru ini menyatakan desain platform YouTube terbukti membuat pengguna muda kecanduan, tanpa memedulikan dampak kesehatan mental mereka. Menjawab hal ini, Juru Bicara YouTube, Boot Bullwinkle, menegaskan transparansi tetap menjadi prioritas utama perusahaan.

"Kami memiliki standar yang sangat tinggi untuk konten di YouTube Kids. Kami juga membatasi video buatan AI, dan hanya menayangkannya dari saluran mitra yang terbukti memberikan nilai edukasi bagi keluarga," kata Bullwinkle, dikutip dari Newsday.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team