Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hadiri Debat Terbuka, Menlu RI Bawa Isu Reformasi PBB
Menteri Luar Negeri RI Sugiono di Dewan Keamanan PBB. (IDN Times/Sonya Michaella)
  • Menlu RI Sugiono menghadiri debat terbuka DK PBB di New York, menyoroti pentingnya reformasi sistem multilateral agar relevan dengan dinamika global saat ini.
  • Indonesia menegaskan perlunya reformasi PBB yang lebih demokratis, transparan, dan representatif untuk mengakomodasi suara negara-negara berkembang dari Global South.
  • Sugiono menekankan penghormatan terhadap hukum internasional dan UNCLOS guna menjaga stabilitas perdamaian serta mencegah konflik di wilayah laut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

New York, IDN Times - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menghadiri Open Debate (debat terbuka) di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) di New York, Amerika Serikat (AS), pada Selasa 26 Mei 2026, waktu setempat. Debat terbuka ini digelar di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dan krisis kepercayaan terhadap tatanan global saat ini.

Tema dari Open Debate itu sendiri adalah "Upholding the Purposes and Principles of the UN Charter and Strengthening the UN-Centred International System". Sidang ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi di mana China adalah Presiden DK PBB bulan ini.

“Kita menganggap bahwa releavansi dari PBB ini harus disesuaikan dengan keadaan dan zaman saat ini. Karena kita ketahui bersama, ketika (PBB) didirikan situasinya itu pasca Perang Dunia II. Dan 80 tahun kemudian, sudah banyak perubahan yang terjadi,” kata Sugiono, dalam konferensi pers di PBB, New York, AS, Selasa (26/5/2026).

“Semacam evaluasi dalam rangka memperkuat PBB dan mereformasi sistem multilateral,” lanjut dia.

Kehadiran Indonesia dalam forum DK PBB tersebut juga mencerminkan posisi diplomasi Indonesia yang selama ini menekankan pentingnya multilateralisme dan penghormatan terhadap hukum internasional.

1. Banyak suara dari Global South yang tidak terwakili

Dalam pernyataannya, Sugiono menegaskan bahwa Indonesia sepakat pentingnya mereformasi sistem multilateral yang ada, mereformasi PBB serta DK PBB.

“Karena banyak suara-suara yang berasal dari Global South itu tidak terwakili. Dan juga tadi beberapa negara menyampaikan banyak concern yang kemudian diveto di DK PB dan ini juga perlu mendapatkan representasi yang baik di DK PBB,” tutur Sugiono.

“Kita tidak ingin PBB kehilangan relevansinya, tapi kita semua ingin PBB semakin kuat menghadapi dinamika yang terjadi secara global. Kita paham ada tantangan baru di dunia saat ini terus berkembang, seperti kecerdasan buatan, isu lingkungan. Belum lagi perang yang terjadi di banyak tempat,” ungkap dia.

2. Dorong reformasi PBB yang demokratis dan transparan

Menteri Luar Negeri RI Sugiono di Dewan Keamanan PBB. (IDN Times/Sonya Michaella)

Selain itu, Sugiono juga menegaskan bahwa Indonesia sangat mendorong adanya reformasi PBB yang demokratis dan transparan di era saat ini.

“Saya kira itu yang kita sampaikan bahwa kita mendorong reformasi PBB yang lebih representatif, demokratis, transparan dan lebih mewakili suara-suara berkembang sehingga cita-cita dan tujuan dibentuknya PBB ini dalam rangka bisa mencapai perdamaian antar bangsa-bangsa itu bisa dicapai dan bisa dilaksanakan,” tegas Sugiono.

3. ⁠Penghormatan terhadap hukum internasional dan UNCLOS

Menteri Luar Negeri RI Sugiono di PBB. (IDN Times/Sonya Michaella)

Sugiono menambahkan, hukum internasional dan UNCLOS pun harus dihormati.

“Pentingnya penghormattan terhadap hukum-hukum internasional dan UNCLOS, dalam rangka menciptakan stabilitas perdamaian dan tidak menjadikan laut atau alur laut sebagai daerah konflik atau tekanan atau sebagai lahan untuk kepentingan-kepentingan politik,” ujar dia.

Editorial Team

Related Article