Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Minyak Global Anjlok usai Iran Buka Selat Hormuz
ilustrasi harga miyak global (pexels.com/Ekaterina Belinskaya)
  • Harga minyak global turun lebih dari 10 persen setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz, memungkinkan pasokan minyak Timur Tengah mengalir lancar ke pasar dunia.
  • Iran menegaskan pembukaan Selat Hormuz hanya berlaku selama masa gencatan senjata dengan AS yang dijadwalkan berakhir pada 22 April mendatang.
  • Presiden AS Donald Trump menyambut langkah Iran dengan ucapan terima kasih, namun tetap mempertahankan blokade terhadap kapal Iran hingga tercapai kesepakatan damai penuh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Harga minyak global dikabarkan menurun lebih dari 10 persen pada Jumat (17/4/2026). Ini terjadi karena Iran kini sudah bersedia membuka Selat Hormuz secara penuh. Pembukaan ini membuat kapal-kapal bisa leluasa untuk memasok minyak dari Timur Tengah ke pasar global.  

Di lain sisi, pembukaan Selat Hormuz juga membuat harga saham global melonjak. Sebagai contoh, harga saham The S&P 500 naik 1,2 persen setelah Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz. Harga saham yang berasal dari AS juga naik 12 persen. Ini merupakan kenaikan tertinggi sejak Maret 2026 lalu. 

1. Iran hanya membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata

ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Pembukaan Selat Hormuz oleh Iran ini resmi dimulai pada Jumat. Langkah ini dilakukan usai Iran menutup Selat Hormuz selama sebulan lebih. 

Meski begitu, Iran menegaskan hanya akan membuka Selat Hormuz sampai gencatan senjata dengan AS usai. Gencatan senjata AS dan Iran sendiri dikabarkan akan rampung pada 22 April mendatang. 

“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka untuk sisa periode gencatan senjata, pada rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Sayyed Abbas Araghchi, dalam sebuah unggahan di laman X pribadinya. 

2. Donald Trump berterima kasih kepada Iran karena sudah membuka Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di kantornya. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Keputusan Iran untuk membuka Selat Hormuz ini diapresiasi oleh Presiden AS, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump berterima kasih kepada Iran karena telah membuka Selat Hormuz sehingga kapal-kapal bisa berlayar di sana dengan bebas. Namun, ia menegaskan blokade tetap akan dilakukan kepada kapal-kapal Iran sebelum mereka menyepakati perdamaian dengan AS.

“Iran baru saja mengumumkan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui sepenuhnya. Terima kasih! Namun, blokade angkatan laut akan tetap berlaku sepenuhnya dan efektif hanya untuk Iran sampai transaksi kita dengan Iran selesai 100 persen,” tulis Trump di Truth Social.

3. Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel

ilustrasi serangan (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Iran sendiri menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran mulai meningkatkan pengamanan dan melarang kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, untuk berlayar di sana. 

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini lantas membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Sebab, banyak kapal yang tertahan di selat tersebut sehingga tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. 

Hambatan ini praktis membuat harga minyak global sempat melambung tinggi. Pada Maret lalu, misalnya, harga minyak global sempat mencapai 120 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel. Itu merupakan kenaikan harga minyak tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team