Hari Kebebasan Sedunia dan Kisah Runtuhnya Tembok Berlin

Jakarta, IDN Times - Masih jarang yang mengetahui bahwa setiap 9 November diperingati sebagai Hari Kebebasan Sedunia. Pada tanggal ini, negara yang secara resmi merayakannya adalah Amerika Serikat (AS) dan menjadi hari libur federal.
Meski AS adalah negara yang secara resmi merayakannya, namun Hari Kebebasan Sedunia sangat penting untuk diingat publik. Perayaan ini memiliki serangkaian catatan kepedihan, kebahagiaan, serta sedikit rasa kejumawaan atas nama kemenangan.
Dasar utama ditetapkannya Hari Kebebasan Sedunia adalah peristiwa penghancuran Tembok Berlin, monumen yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, yang menjadi tanda runtuhnya ideologi komunis secara damai tanpa pertumpahan darah.
Berikut ini adalah fakta-fakta Hari Kebebasan Sedunia yang jatuh pada 9 November.
1. Hari Kebebasan Sedunia ditetapkan oleh George W. Bush

Dalam pandangan negara-negara demokrasi seperti AS, Tembok Berlin merupakan pembagi antara kediktatoran komunisme dengan demokrasi. Karena itu, runtuhnya Tembok Berlin menurut AS adalah simbol persatuan bagi kebebasan manusia.
Sosok yang pertama kali menetapkan runtuhnya Tembok Berlin sebagai Hari Kebebasan Sedunia adalah Presiden George W. Bush pada 9 November 2001.
Dalam laman resmi Bush Center, Presiden Bush mengatakan, "runtuhnya Tembok Berlin pada 9 November 1989, berdiri sebagai titik balik Perang Dingin dan tonggak penting dalam kemenangan kebebasan atas tirani. Tembok itu berdiri sebagai simbol suram pemisahan orang-orang bebas dan mereka yang hidup di bawah kediktatoran."
"Saat kita memperingati 9 November, Hari Kebebasan Sedunia, saya mendorong orang Amerika untuk mendukung mereka yang berusaha memimpin rakyatnya keluar dari penindasan," tambah dia.
2. Apa alasan utama pembangunan Tembok Berlin?

Jika runtuhnya Tembok Berlin dijadikan sebagai tanda runtuhnya kediktatoran komunisme Jerman Timur, tapi apa alasan sebenarnya tembok itu dibangun?
Menurut History, Tembok Berlin dibangun pada 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur/GDR). Tembok itu disebut antifascistischer cchutzwall.
Pemerintah GDR beralasan bahwa tembok itu dibangun untuk mencegah pengaruh Jerman Barat yang demokratis tapi dinilai fasis oleh GDR. Jadi itu adalah tembok "anti-fasisme."
Namun, dibangunnya Tembok Berlin adalah penghalang utama agar tidak terjadi pembelotan massal rakyat dari Timur ke Barat.
3. Fakta konstruksi Tembok Berlin

Tembok Berlin yang dibangun oleh GDR memiliki fakta konstruksi yang mengerikan. Tembok itu dibangun dengan beton setinggi 3,6 meter dan membentang sepanjang 43,4 kilometer.
Menurut CNN, tembok juga dimiliterisasi oleh GDR dengan membangun 302 menara pengawas, dipasangai lebih dari satu juta ranjau darat, dan disiapkan 3.000 anjing penjaga untuk menghalau orang-orang yang ingin membelot.
Untuk mencegah orang-orang melarikan diri dengan cara menggali atau memanjat, tembok juga didukung dengan keberadaan kawat berduri, paku, kisi-kisi logam, bunker serta kendaraan penghalang.
Ada gerbang penyeberangan perbatasan dan yang paling terkenal dari gerbang itu adalah Checkpoint Charlie.
4. Korban tewas yang mencoba menerobos Tembok Berlin

Ada berbagai pendapat mengenai jumlah orang-orang yang tewas ketika ingin menyeberangi Tembok Berlin. Tapi perkiraannya ada sekitar 140 orang yang tewas.
Korban terakhir yang diidentifikasi bernama Chris Gueffroy. Menurut Deutsche Welle, dia mencoba lari ke Jerman Barat dan tewas ditembak pada 5 Februari 1989. Saat itu, Chris sedang berusia 20 tahun.
Antara Tembok Berlin, ada sebuah zona berupa area terbuka tanah berpasir. Di area ini, petugas penjaga dari menara pengawas dapat melihat orang-orang yang mencoba menerobos sehingga dengan leluasa dapat menembaknya.
Zona ini disebut juga zona kematian.
5. Akhir era komunisme Uni Soviet
Sejak 1980-an, Uni Soviet mulai tertatih-tatih dalam mengelola negaranya yang besar. Negara raksasa itu mengalami masalah kekurangan pangan yang akut dan carut-marut ekonomi.
Pada 1986, reaktor nuklir pembangkit listrik Chernobyl meledak dan itu dianggap sebagai simbol keruntuhan blok komunis yang semakin tak sanggup mengelola negaranya.
Mikhail Gorbachev, yang memimpin Soviet pada 1985, mulai memperkenalkan reformasi 'glasnost' dan 'perestroika' yang berarti keterbukaan dan restrukturisasi.
Namun, kebijakan itu bergerak jauh lebih cepat dari yang diramalkan dan gelombang revolusioner muncul menuntut reformasi di dalam blok komunis Soviet.
Secara bertahap, revolusi yang menggoyahkan Soviet terjadi di berbagai wilayah, dari mulai Hongaria, Ceko, dan negara-negara lain. Itu juga menular di Jerman Timur, di mana mulai Oktober 1989 sekitar 70 ribu orang turun ke jalan menuntut kebebasan di kota Leipzig.
Pada November 1989, lima hari sebelum Tembok Berlin diruntuhkan, setengah juta rakyat Jerman Timur melakukan demonstrasi besar. Kegagalan politik turut memperparah keadaan. Pemerintah GDR kewalahan.
Pada akhirnya, Gunter Schabowski, juru bicara pemerintah GDR, pada 9 November melakukan konferensi pers dengan membacakan catatan yang sebelumnya tidak ia periksa.
BBC menjelaskan, dalam catatan itu, ada kalimat yang langsung dibacanya yakni "perjalanan pribadi ke luar negeri sekarang bisa diajukan tanpa prasyarat."
Dia sendiri terkejut dengan kalimat tersebut, apalagi para wartawan yang hadir menyaksikannya. Dia mencoba membalik dan mengacak-acak catatan itu untuk mencari penjelasan, namun siaran itu sudah terlanjur tersiar.
Siaran pers yang juga tayang di televisi itu segera diketahui oleh publik. Ribuan rakyat Jerman Timur segera berbondong-bondong menuju Tembok Berlin, berharap dapat menyeberangi Jerman Barat.
Dengan jumlah penjaga yang tidak sebanding dengan ribuan massa, pada akhirnya penjaga perbatasan memerintahkan untuk membuka gerbang.
Ribuan rakyat Jerman Timur segera mengalir ke Jerman Barat, merayakan kebebasan itu sambil menangis bahagia dan mabuk dengan pesta bir serta sampanye. Banyak juga yang memanjat tembok dan memotong tembok itu sendiri dengan palu dan kapak.
Dengan segera, puluhan kilometer Tembok Berlin segera dihancurkan sampai malam hari.
Seiring keruntuhan Uni Soviet, komunisme juga runtuh di Jerman Timur. Setahun setelah Tembok Berlin runtuh, Jerman Timur dan Jerman Barat bersatu menjadi Republik Federal Jerman.