Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hubungan Diplomatik Tegang Usai Presiden Korsel Kritik Israel soal HAM
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (이재명, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)
  • Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengkritik Israel atas dugaan pelanggaran HAM setelah menyoroti video viral yang memperlihatkan tentara Israel mendorong seorang anak Palestina dari atap bangunan.
  • Pemerintah Israel menuduh Lee menyebarkan disinformasi dan menggunakan sumber tidak kredibel, sementara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menegaskan pernyataan Lee bersifat universal tentang nilai kemanusiaan.
  • Pernyataan Lee mencerminkan sikap Korea Selatan yang lebih vokal terhadap isu HAM, meski biasanya menjaga posisi seimbang dalam konflik Timur Tengah dan berhati-hati karena kedekatan dengan Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung melontarkan kritik tajam terhadap Israel terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), yang kemudian memicu respons keras dari pemerintah Israel.

Pernyataan tersebut berawal dari unggahan Lee di media sosial yang menyoroti sebuah video viral. Video itu diklaim memperlihatkan tentara Israel menyiksa dan mendorong seorang anak Palestina dari atap bangunan.

Lee menyatakan perlu menelusuri kebenaran video tersebut. “Saya perlu memastikan apakah ini benar, dan jika ya, langkah apa yang telah diambil,” tulisnya di platform X pada Jumat (10/4/2026).

Namun, asal-usul video tersebut tidak dapat segera diverifikasi. AFP melaporkan, video itu kemungkinan merupakan sudut lain dari insiden yang terjadi dua tahun lalu di Tepi Barat.

Dalam rekaman asli, seorang tentara Israel terlihat mendorong tubuh seorang pria dewasa yang tampak sudah meninggal dari atap bangunan.

1. Israel tuduh Lee lakukan penyebaran disinformasi

potret bendera Israel (pexels.com/Andrew Patrick Photo)

Pemerintah Israel merespons keras pernyataan Lee. Kementerian Luar Negeri Israel menuduh presiden Korea Selatan tersebut menyebarkan informasi yang tidak akurat.

Dalam pernyataan resminya, Israel menyebut insiden tersebut telah lama ditangani. “Insiden itu sudah diselidiki dan ditangani,” demikian pernyataan kementerian.

Israel juga menuding Lee menggunakan sumber yang tidak kredibel. “Presiden Lee Jae Myung, untuk alasan yang aneh, memilih mengangkat kembali cerita dari 2024 dan mengutip akun palsu yang secara keliru menyajikannya sebagai peristiwa terkini,” tulis pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, Israel menyebut akun yang dijadikan rujukan sebagai pihak yang kerap menyebarkan informasi yang menyesatkan. “Akun ini dikenal sering menyebarkan disinformasi anti-Israel dan kebohongan tentang Israel,” tambahnya.

2. Lee Jae Myung sebut Israel tak terima kritikan

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (x.com/Jaemyung_Lee)

Di tengah meningkatnya ketegangan, Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mencoba meredakan situasi. Mereka menegaskan, pernyataan Lee tidak dimaksudkan untuk menyerang pihak tertentu.

Dalam klarifikasinya, kementerian menyebut unggahan tersebut merupakan seruan terhadap nilai universal. Pernyataan Lee disebut sebagai ajakan untuk menjunjung tinggi hak asasi manusia secara global.

Meski demikian, Lee kembali menyampaikan kritiknya terhadap Israel dalam unggahan lanjutan. Ia menanggapi reaksi Israel dengan nada yang lebih tegas.

“Sangat disayangkan Anda bahkan tidak sekali pun merefleksikan kritik dari orang-orang di seluruh dunia yang menderita akibat tindakan yang bertentangan dengan hak asasi manusia dan hukum internasional,” tulisnya.

Ia juga menambahkan pernyataan yang menekankan empati global. “Ketika saya merasakan sakit, orang lain juga merasakan sakit yang sama dalamnya,” ujarnya.

3. Posisi Korea Selatan di tengah dinamika global

ilustrasi bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

Selama ini, Korea Selatan dikenal mengambil posisi yang relatif seimbang dalam konflik Timur Tengah. Negara tersebut tidak secara terbuka memihak salah satu pihak.

Sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, yang merupakan pendukung utama Israel, Seoul cenderung berhati-hati dalam menyikapi isu-isu sensitif di kawasan tersebut.

Meski demikian, pernyataan Lee kali ini menunjukkan pendekatan yang lebih vokal terhadap isu hak asasi manusia, meskipun berisiko memicu ketegangan diplomatik.

Editorial Team