Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 Ini Daftar Calon Sekretaris Jenderal PBB yang Baru, Siapa Saja?
potret logo PBB (unsplash.com/padrinan)
  • Dewan Keamanan PBB mulai menyiapkan pengganti Antonio Guterres yang akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Sekjen PBB pada 31 Desember 2026.
  • Tiga calon utama yang telah diajukan adalah Macky Sall dari Senegal, Rafael Grossi dari Argentina, dan Carolyn Rodrigues-Birkett dari Guyana.
  • Ketiga kandidat telah menjalani dialog dengan DK PBB untuk memaparkan strategi kepemimpinan mereka, dan Sekjen baru dijadwalkan mulai bertugas pada 1 Januari 2027.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Antonio Guterres bakal mengakhiri masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 31 Desember 2026 mendatang. Oleh karena itu, Dewan Keamanan (DK) PBB sudah mulai menyiapkan calon-calon kompeten yang cocok menggantikan Guterres untuk memimpin PBB. 

Sejauh ini, sudah ada tiga calon Sekjen PBB yang diusulkan oleh DK PBB. Ketiganya juga sudah melakukan dialog langsung dengan DK PBB pada Jumat (10/7/2026) lalu. Langkah ini dilakukan sebagai tahap awal pencalonan Sekjen PBB. Lantas, siapa saja mereka? Berikut daftar dan profil singkatnya. 

1. Eks Presiden Senegal Macky Sall jadi salah satu calon Sekjen PBB

potret eks Presiden Senegal, Macky Sall (flickr.com/IAEA Imagebank via commons.wikimedia.org/IAEA Imagebank)

Calon pertama ada eks Presiden Senegal, Macky Sall. Sall dicalonkan menjadi Sekjen PBB oleh Republik Burundi. Sall sendiri lahir pada 11 Desember 1961 di Kota Fatick, Senegal. Sall merupakan sosok yang sangat mementingkan pendidikan. Ia tercatat pernah mengenyam pendidikan S1 di Cheikh Anta Diop University. Belum puas, ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 di kampus yang sama dengan mengambil Jurusan Geologi dan berhasil lulus pada 1988.   

Sebagai ahli Geologi, Sall memulai kariernya sebagai profesional di perusahaan swasta yang bergerak di bidang energi sebelum akhirnya masuk ke ranah politik pada 2004. Kala itu, ia terpilih menjadi Wali Kota Fatick, kota kelahirannya. Pada 2007, Sall terpilih menjadi Ketua Majelis Nasional Senegal. Karier politik Sall terus menanjak hingga akhirnya berhasil mendirikan partai politiknya sendiri, Alliance for the Republic (APR), pada 2008. 

Dilansir laman Presidency of Senegal, Sall pernah menjabat di sejumlah posisi menteri pada era kepemimpinan Presiden Abdoulaye Wade, termasuk Menteri Energi dan Hidrolik, sebelum terpilih menjadi Presiden Senegal pada 2012. Sall menjabat sebagai presiden sampai 2024 sebelum digantikan oleh Bassirou Diomaye Faye.

2. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi dicalonkan Argentina untuk jadi Sekjen PBB

potret Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi (flickr.com/IAEA Imagebank via commons.wikimedia.org/IAEA Imagebank)

Calon selanjutnya ada Direktur Jenderal (Dirjen) International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi. Grossi merupakan diplomat ulung asal Argentina. Dilansir laman resmi IAEA, ia sudah melanglang buana di dunia diplomasi dan hubungan internasional selama kurang lebih 40 tahun.

Grossi sendiri lahir pada 29 Januari 1961. Grossi mulai menjabat sebagai Dirjen IAEA pada 3 Desember 2019. Sebelum terpilih menjadi pemimpin IAEA, ia pernah menjabat sebagai Presiden Review Conference of the Parties to the Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) dan Presiden Nuclear Suppliers Group (NSG). Pada 2013, ia juga pernah menjadi Duta Besar Argentina untuk Republik Austria. 

Grossi ditunjuk menjadi calon Sekjen PBB untuk menggantikan Guterres oleh Argentina. Argentina memutuskan untuk menunjuk Grossi karena pengalaman panjangnya dalam memimpin sejumlah organisasi internasional di bidang energi. Sepak terjang ini dianggap sebagai modal kuat untuk memimpin organisasi internasional sekaliber PBB.  

3. Eks Menteri Luar Negeri Guyana Carolyn Rodrigues-Birkett jadi calon Sekjen PBB yang ketiga

potret eks Menteri Luar Negeri Guyana, Carolyn Rodrigues-Birkett (flickr.com/Comision Interamericana de Derechos Humanos via commons.wikimedia.org/Comision Interamericana de Derechos Humanos)

Terakhir, ada eks Menteri Luar Negeri Guyana, Carolyn Rodrigues-Birkett. Guyana menunjuk Birkett menjadi calon Sekjen PBB bukan tanpa sebab. Guyana mencalonkan Birkett karena pengalamannya yang mentereng di bidang diplomasi dan hubungan internasional. 

Birkett sendiri memulai kariernya sebagai guru di sekolah yang ada di Moruka, Guyana, pada 1989. Kemudian, ia menjadi koordinator di program sosial bernama Social Impact Amelioration Programme (SIMAP) pada 1995. Karier politik Birkett dimulai pada 2001 hingga 2015. Selama itu, Birkett pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Warga Pribumi (April 2001–April 2008) serta Menteri Urusan Luar Negeri, Perdagangan Luar Negeri, dan Kerja Sama Internasional Guyana (April 2008–Mei 2015). 

Pada 2015, Birkett bergabung dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Di organisasi tersebut, ia menjabat sebagai Koordinator Aliansi Parlementer di Divisi Kemitraan, Advokasi, dan Pengembangan Kapasitas (OPC). 

4. Sekjen PBB yang baru akan mulai bertugas untuk menggantikan Guterres pada 1 Januari 2027

potret Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres (flickr.com/IAEA Imagebank via commons.wikimedia.org/IAEA Imagebank)

Sebetulnya, DK PBB masih ingin mengusulkan satu calon lagi untuk menjadi Sekjen PBB. Jika tidak ada halangan, DK PBB akan mengumumkan calon keempat pada Juli ini. Namun, mereka belum memberikan waktu pasti kapan calon sekjen keempat akan diumumkan ke publik. 

Sebagai calon Sekjen PBB, Sall, Grossi, dan Birkett sudah diuji pada Jumat lalu. Kala itu, ketiganya diminta untuk mempresentasikan strategi mereka jika terpilih menjadi Sekjen PBB yang baru. Dalam kesempatan itu, para penguji juga diberikan kesempatan bertanya kepada para kandidat untuk mengetahui strategi kepemimpinan mereka.

Pemilihan Sekjen PBB sendiri akan dilakukan di Majelis Umum PBB. Sekjen PBB terpilih nantinya akan langsung bertugas untuk menggantikan Guterres pada 1 Januari 2027 mendatang.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article