ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)
Data dari Lloyd’s List menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai meningkat dengan sedikitnya 54 kapal melintas pekan lalu, atau dua kali lebih banyak dibandingkan pekan sebelumnya. Meski begitu, jumlah tersebut masih jauh dari kondisi normal sebelum perang yang mencapai 140 kapal per hari.
Laporan Bloomberg dan Reuters menyebut India sedang menyiapkan kapal tanker kosong menuju kawasan Teluk untuk mengangkut minyak. Di sisi lain, fokus utama mereka masih tertuju pada evakuasi kapal-kapal yang sebelumnya terjebak di area konflik.
Pergerakan harga energi global juga mulai memberi tekanan terhadap politik domestik AS menjelang pemilu kongres November mendatang. Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menyebut investor sedang mengawasi secara ketat peluang Washington dan Teheran mencapai kesepakatan di tengah perubahan sikap politik yang terus bergeser setiap hari.
Harga minyak mentah Brent berjangka (Brent crude futures) satu bulan dilaporkan turun sekitar 2,75 persen hingga mendekati 108 dolar AS (setara Rp1,9 juta) per barel dalam laporan pasar pertama. Sementara laporan pasar lainnya mencatat penurunan sekitar 1,5 persen dengan posisi harga sedikit di bawah 110 dolar AS (setara Rp1,95 juta) per barel.
Gencatan senjata yang berlaku sejak April disebut masih bertahan walau disertai berbagai pelanggaran. Serangan terhadap jalur pelayaran sempat meningkat pada awal Mei setelah rencana misi angkatan laut AS untuk membuka paksa selat dibatalkan dalam waktu 48 jam.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan drone dari milisi pro-Iran yang berbasis di Irak. Sementara itu, Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh sebuah drone pada pekan ini.
Target awal kampanye AS-Israel untuk mengurangi dukungan Iran terhadap kelompok milisi regional, menghancurkan kemampuan misil, membongkar program nuklir, serta mendorong tekanan politik dalam negeri Iran disebut belum sepenuhnya tercapai. Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menghadapi kondisi ketika Iran mempertahankan stok uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata, sekaligus tetap menguasai jaringan misil dan kelompok milisinya.