Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Iran Peringatkan Konflik Bisa Meluas ke Luar Timur Tengah
Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Iran memperingatkan bahwa konflik dengan AS bisa meluas ke luar Timur Tengah setelah pernyataan keras dari Korps Pengawal Revolusi Islam menanggapi potensi serangan baru Washington.
  • Ketegangan meningkat usai Trump hampir memutuskan opsi militer terhadap Iran di tengah kebuntuan diplomasi, sementara Teheran tetap menutup sebagian akses Selat Hormuz bagi kapal asing.
  • Situasi energi global terguncang akibat pembatasan Selat Hormuz, dengan lalu lintas kapal belum pulih dan harga minyak berfluktuasi, menambah tekanan politik menjelang pemilu kongres AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) menyampaikan peringatan keras melalui media pemerintah pada Rabu (20/5/2026). Militer Iran menyatakan serangan baru dari Washington berpotensi memicu perang yang meluas hingga ke luar kawasan Timur Tengah.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan perubahan nada dari Teheran. Jika sebelumnya ancaman Iran berfokus pada pangkalan militer AS di Timur Tengah, kini mereka memberi sinyal bahwa sasaran di luar kawasan juga dapat menjadi target bila konflik bersenjata kembali pecah.

“Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional yang dijanjikan kali ini akan meluas di luar wilayah,” kata Pengawal Revolusi, dikutip CNA.

1. Trump menanggapi kebuntuan jalur diplomasi

Pada 19 Maret 2016, Donald Trump mengadakan rapat umum di Fountain Park, Fountain Hills, Arizona. (Gage Skidmore, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Ancaman dari pihak Iran muncul setelah Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Selasa (19/5/2026). Trump mengaku berada sangat dekat dengan keputusan untuk kembali menjalankan opsi militer terhadap Iran.

“Saya berada satu jam lagi dari membuat keputusan untuk maju hari ini,” ujar Trump yang juga menyatakan optimisme bahwa perang bisa berakhir sangat cepat, dikutip NBC News.

Enam pekan setelah Trump menghentikan Operasi Epic Fury demi membuka jalan gencatan senjata, pembicaraan diplomatik justru belum menghasilkan kemajuan. Proposal baru dari Iran dinilai masih memuat tuntutan lama yang sebelumnya sudah ditolak pemerintahan Trump, yakni kendali penuh atas Selat Hormuz, kompensasi perang, pencabutan sanksi ekonomi global, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penarikan seluruh pasukan AS dari Timur Tengah.

Di tengah situasi tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance yang memimpin delegasi dalam satu-satunya putaran negosiasi damai bulan lalu tetap menyampaikan pandangan optimistis mengenai kondisi perundingan.

2. Iran membatasi jalur Selat Hormuz

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Sejak operasi militer gabungan AS-Israel dimulai pada Februari, Iran menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar kapal asing. Kebijakan itu memicu gangguan besar pada pasokan energi global, sementara AS merespons dengan menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Teheran menyatakan jalur tersebut hanya dibuka untuk negara yang dianggap bersahabat dan bersedia menerima syarat mereka, termasuk kemungkinan pembayaran biaya akses. Kebijakan itu mendapat penolakan dari Washington, meski aturan khusus mulai dilonggarkan setelah tercapai kesepakatan saat Trump menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Beijing pekan lalu.

Dua kapal tanker besar asal China yang membawa sekitar 4 juta barel minyak dilaporkan berhasil keluar dari selat. Pada saat yang sama, Menteri Luar Negeri Korea Selatan menyebut satu kapal tanker milik negaranya juga dapat melintas setelah adanya kerja sama dengan Iran.

3. Gejolak energi menekan situasi global

ilustrasi kapal pengangkut minyak (unsplash.com/Fredick F.)

Data dari Lloyd’s List menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai meningkat dengan sedikitnya 54 kapal melintas pekan lalu, atau dua kali lebih banyak dibandingkan pekan sebelumnya. Meski begitu, jumlah tersebut masih jauh dari kondisi normal sebelum perang yang mencapai 140 kapal per hari.

Laporan Bloomberg dan Reuters menyebut India sedang menyiapkan kapal tanker kosong menuju kawasan Teluk untuk mengangkut minyak. Di sisi lain, fokus utama mereka masih tertuju pada evakuasi kapal-kapal yang sebelumnya terjebak di area konflik.

Pergerakan harga energi global juga mulai memberi tekanan terhadap politik domestik AS menjelang pemilu kongres November mendatang. Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menyebut investor sedang mengawasi secara ketat peluang Washington dan Teheran mencapai kesepakatan di tengah perubahan sikap politik yang terus bergeser setiap hari.

Harga minyak mentah Brent berjangka (Brent crude futures) satu bulan dilaporkan turun sekitar 2,75 persen hingga mendekati 108 dolar AS (setara Rp1,9 juta) per barel dalam laporan pasar pertama. Sementara laporan pasar lainnya mencatat penurunan sekitar 1,5 persen dengan posisi harga sedikit di bawah 110 dolar AS (setara Rp1,95 juta) per barel.

Gencatan senjata yang berlaku sejak April disebut masih bertahan walau disertai berbagai pelanggaran. Serangan terhadap jalur pelayaran sempat meningkat pada awal Mei setelah rencana misi angkatan laut AS untuk membuka paksa selat dibatalkan dalam waktu 48 jam.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga melaporkan serangan drone dari milisi pro-Iran yang berbasis di Irak. Sementara itu, Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh sebuah drone pada pekan ini.

Target awal kampanye AS-Israel untuk mengurangi dukungan Iran terhadap kelompok milisi regional, menghancurkan kemampuan misil, membongkar program nuklir, serta mendorong tekanan politik dalam negeri Iran disebut belum sepenuhnya tercapai. Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih menghadapi kondisi ketika Iran mempertahankan stok uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata, sekaligus tetap menguasai jaringan misil dan kelompok milisinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team