Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wapres AS: Perang dengan Iran Tidak Akan Selamanya

Wapres AS: Perang dengan Iran Tidak Akan Selamanya
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, sedang berpidato di acara AmericaFest 2025 di Phoenix Convention Center, Arizona. (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya Sih
  • Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan perang dengan Iran tidak akan berlangsung selamanya dan menyebut kesepakatan damai segera tercapai.
  • Presiden Donald Trump menyatakan Iran sudah kewalahan berperang dan berharap perdamaian bisa dicapai tanpa Iran memiliki senjata nuklir.
  • Iran mengirim proposal perdamaian baru melalui Pakistan, meminta ganti rugi, pencabutan sanksi ekonomi, serta penghentian serangan Israel ke Lebanon.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan perang dengan Iran tidak akan berjalan selamanya. Sebab, menurutnya, AS akan segera menyepakati perdamaian dengan Iran. 

"Ini bukan perang selamanya. Kita akan menyelesaikan urusan ini dan pulang," ujar Vance dalam acara konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (19/5/2026), seperti dilansir Jerusalem Post.

1. Presiden Donald Trump juga mengatakan hal serupa

Donald Trump sedang berada di sebuah acara.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Pernyataan tadi dilontarkan Vance tidak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, juga berkomentar soal perang dengan Iran. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa AS akan segera mengakhiri perang dengan Iran. Sebab, menurutnya, Iran kini sudah kewalahan berperang dengan AS.

"Kita akan mengakhiri perang itu dengan sangat cepat. Mereka (Iran) sangat ingin membuat kesepakatan (damai dengan AS),” kata Trump di Gedung Putih pada Selasa dilansir Anadolu Agency

“Mereka sudah lelah dengan ini. Saya pikir, kita akan segera menyelesaikan itu dan mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Mudah-mudahan, kita akan menyelesaikannya dengan cara yang sangat baik," lanjut Trump. 

2. Iran sudah memberikan proposal baru ke AS

Bendera Iran sedang berkibar.
potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Saat ini, Iran juga sudah memberikan proposal perdamaian terbaru ke AS. Sama seperti sebelumnya, Iran mengirim proposal tersebut lewat perantara Pakistan. Sebab, Pakistan berperan sebagai mediator dalam negosiasi perdamaian antara AS dan Iran.

Dalam proposal itu, Iran mengajukan sejumlah syarat ke AS agar perdamaian segera tercipta. Salah satunya adalah ganti rugi biaya kerusakan akibat serangan yang dilakukan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu. Selain itu, Iran juga meminta AS untuk menghentikan sanksi ekonomi terhadap mereka dan meminta Israel berhenti menyerang Lebanon.   

3. Proposal Iran sebelumnya kerap ditolak oleh Trump

Donald Trump sedang berjoget di atas panggung.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Ini merupakan ke sekian kalinya Iran mengirim proposal perdamaian baru ke AS. Sebab, sebelumnya, Iran tercatat sudah beberapa kali mengirim proposal ke AS. Namun, semua proposal tersebut kerap ditolak mentah-mentah oleh Trump. 

Pada 3 Mei lalu, misalnya, Iran mengirim proposal perdamaian ke AS lewat perantara Pakistan. Dalam proposal tersebut, Iran mengajukan 14 tuntutan yang harus dipatuhi oleh AS. Salah satunya adalah penghentian perang dalam waktu 30 hari. Selain itu, Iran juga meminta AS mencabut sanksi ekonomi yang diberikan terhadapnya.  

Menurut salah satu negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, semua tuntutan tadi diajukan karena menyangkut nasib seluruh warga Iran. Oleh karena itu, Iran mendesak AS untuk segera menyetujui semua tuntutan tersebut agar perang bisa berakhir.    

Sayangnya, proposal perdamaian dari Iran tadi ditolak mentah-mentah oleh Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal tersebut sama sekali tidak dapat diterima.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More