Presiden AS Donald Trump berbicara di CPAC Februari 2011. (Mark Taylor from Rockville, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Pekan lalu, Trump kembali menyerukan dukungan kepada warga Iran untuk melanjutkan protes dan mengambil alih institusi negara. Seruan itu disampaikan bersamaan dengan kabar mengenai kemungkinan serangan AS yang disebut semakin dekat.
AS dilaporkan sempat berada di ambang peluncuran operasi militer terhadap Iran. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah muncul tekanan dari negara-negara tetangga serta jalur diplomasi.
Axios mengungkapkan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Trump soal kesiapan Israel menghadapi potensi serangan balasan Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman juga meminta semua pihak menahan diri demi menjaga stabilitas kawasan.
Trump kemudian mengunggah pesan di media sosial untuk menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Teheran karena membatalkan eksekusi terhadap 800 orang. Di antara mereka terdapat Erfan Soltani, demonstran berusia 26 tahun yang divonis hukuman mati, sementara keluarganya memastikan ia masih hidup meski ada laporan penyiksaan di tahanan.
Seorang pejabat Iran menyatakan sedikitnya 5 ribu orang tewas dalam rangkaian protes, termasuk sekitar 500 personel keamanan. Ia menuding kelompok teroris dan perusuh bersenjata sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Dalam pidato terbarunya, Khamenei untuk pertama kalinya mengakui adanya ribuan korban jiwa dan menuding Trump sebagai pihak yang memperparah situasi. Badan berita Human Rights Activists mencatat 24.348 demonstran telah ditangkap. Bentrokan juga paling keras terjadi di wilayah Kurdi barat laut Iran.