Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Seorang Staf Bulan Sabit Merah Tewas dalam Kerusuhan Iran

bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
Intinya sih...
  • IFRC menyerukan perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan di Iran
  • Demonstrasi di Iran juga menewaskan seorang warga Kanada
  • Kehidupan mulai kembali berjalan normal di Teheran setelah ancaman Trump
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), pada Kamis (15/1/2026), melaporkan bahwa seorang staf Bulan Sabit Merah Iran tewas selama kerusuhan yang berlangsung di negara tersebut.

Dalam pernyataan di media sosial X, IFRC mengatakan bahwa Amir Ali Latifi tewas saat bertugas di provinsi Gilan, barat laut Iran, pada Sabtu (10/1/2026). Lima rekan lainnya juga dilaporkan terluka. Kelompok itu tidak memberikan informasi lebih rinci, mengingat sulitnya memverifikasi laporan dari dalam Iran di tengah pemadaman internet yang berlangsung di seluruh negeri.

“Kami menyatakan solidaritas dengan Bulan Sabit Merah Iran serta seluruh tenaga medis dan pekerja kemanusiaan yang memberikan bantuan penyelamatan jiwa di tengah masa sulit ini,” bunyi pernyataan tersebut.

1. IFRC serukan perlindungan bagi para pekerja kemanusiaan

IFRC mengatakan Bulan Sabit Merah Iran merupakan organisasi kemanusiaan dan bagian dari Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yang beroperasi sesuai dengan Prinsip-Prinsip Dasar Kemanusiaan, Netralitas, Ketidakberpihakan, dan Kemandirian.

“Keselamatan dan perlindungan personel kemanusiaan, serta penghormatan terhadap lambang Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, sangat penting untuk memastikan kelanjutan pemberian bantuan yang tidak memihak dan menyelamatkan jiwa kepada orang-orang yang membutuhkan,” katanya.

Federasi itu juga mengaku sangat prihatin atas dampak kerusuhan yang masih berlangsung terhadap masyarakat Iran. Pihaknya mengatakan akan terus memantau perkembangan situasi secara saksama dengan berkoordinasi dengan Bulan Sabit Merah Iran, dikutip dari Anadolu.

2. Demonstrasi di Iran juga tewaskan seorang warga Kanada

Demonstrasi di Iran pertama kali meletus di ibu kota, Teheran, pada 28 Desember, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi. Aksi protes kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh negeri, didorong oleh ketidakpuasan yang meluas terhadap rezim pemerintahan ulama.

Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS, setidaknya 2.400 pengunjuk rasa tewas akibat tindakan keras aparat keamanan. Mengingat sebagian besar wilayah Iran masih terputus dari akses internet, hanya sebagian kecil kematian yang dapat dikonfirmasi, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

Pada Kamis, Kanada juga mengumumkan bahwa seorang warga negaranya di Iran tewas di tangan aparat keamanan. Pihaknya tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut, termasuk identitas korban atau kapan ia meninggal.

“Pejabat konsuler kami sedang menghubungi keluarga korban di Kanada dan saya turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya kepada mereka saat ini,” tulis Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, di X.

3. Kehidupan mulai kembali berjalan normal di Teheran

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengisyaratkan bahwa pemerintahannya tengah mempertimbangkan kemungkinan respons militer terhadap Iran sebagai respons atas tindakan keras terhadap pengunjuk rasa. Namun, sikapnya melunak pekan ini, setelah mengklaim telah menerima informasi bahwa pembunuhan di Iran telah berhenti dan tidak ada rencana eksekusi.

Seorang warga Teheran bernama Abolfazi mengatakan bahwa masyarakat Iran tidak akan terintimidasi oleh ancaman Trump.

“Dia berusaha membuat rakyat Iran bertekuk lutut. Itu sebuah kesalahan. Kami akan melawannya dengan seluruh kemampuan yang kami miliki," ujarnya.

Warga lainnya, Mohammad Haeri, mengatakan bahwa kehidupan sehari-hari di Teheran mulai kembali normal setelah demonstrasi besar-besaran. Meski demikian, kesulitan ekonomi masih berlanjut.

“Orang-orang lebih banyak datang untuk berbelanja. Tetapi kondisi biaya hidup masyarakat secara keseluruhan (masih) lemah, terutama dalam hal belanja," ungkapnya, dikutip dari CNN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri WEF 2026 di Davos

17 Jan 2026, 09:39 WIBNews