Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Sanksi Pejabat Iran karena Perintahkan Kekerasan ke Pengunjuk Rasa

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
Intinya sih...
  • AS tingkatkan sanksi ekonomi terhadap Iran, termasuk 18 individu dan entitas yang terlibat dalam jaringan "perbankan bayangan"
  • Lebih dari 1.000 pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi di Iran, pemerintah Iran menggambarkan para demonstran sebagai perusuh bersenjata
  • Trump sebut pembunuhan terhadap para demonstran telah dihentikan setelah sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Teheran
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS), pada Kamis (15/1/2026), mengumumkan sanksi baru terhadap Iran, yang menargetkan sejumlah pejabat politik dan keamanan. Langkah ini diambil sehubungan dengan tindakan keras pemerintah terhadap para pengunjuk rasa dalam gelombang protes di Iran.

Di antara pejabat yang dikenai sanksi adalah Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, yang dituduh Washington mengoordinasikan tindakan keras dan menyerukan penggunaan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa. Larijani merupakan penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

“Atas arahan Presiden (Donald) Trump, Departemen Keuangan memberikan sanksi kepada para pemimpin penting Iran yang terlibat dalam tindakan keras brutal terhadap rakyat Iran. Departemen Keuangan akan menggunakan segala cara untuk menargetkan mereka yang berada di balik penindasan kejam rezim terhadap hak asasi manusia," kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera.

1. AS juga tingkatkan sanksi ekonomi terhadap Iran

Selain itu, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap 18 individu dan entitas yang dituduh mengoperasikan jaringan “perbankan bayangan” untuk mencuci hasil penjualan minyak Iran ke pasar luar negeri. Menurut Departemen Keuangan, jaringan tersebut menyalurkan miliaran dolar setiap tahun dengan memanfaatkan perusahaan kedok dan rumah penukaran uang, sementara warga Iran tengah menghadapi kesulitan ekonomi.

Sanksi tersebut membekukan seluruh aset pihak-pihak yang dikenai sanksi di AS dan melarang warga negara AS melakukan transaksi bisnis dengan mereka. Namun, langkah terbaru ini dinilai sebagian besar bersifat simbolis karena Iran sudah lama berada di bawah sanksi ketat. Kendati demikian, kebijakan tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan AS terhadap Iran.

2. Lebih dari 1.000 pengunjuk rasa tewas dalam demonstrasi di Iran

Demonstrasi di Iran dimulai pada 28 Desember, dipicu oleh lonjakan inflasi dan merosotnya nilai mata uang lokal. Protes ini dengan cepat meluas ke berbagai kota dan wilayah di seluruh Iran, dengan kelompok aktivis mengklaim lebih dari 1.000 pengunjuk rasa tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

Sementara itu, pemerintah Iran menggambarkan para demonstran sebagai perusuh bersenjata yang diprovokasi oleh AS dan Israel untuk menyebarkan kekacauan. Mereka menyebutkan bahwa lebih dari 100 aparat keamanan tewas selama demonstrasi berlangsung.

Pihak berwenang juga memberlakukan pemadaman internet di seluruh negeri, sehingga menyulitkan verifikasi jumlah korban tewas dan klaim dari kedua belah pihak.

3. Trump sebut pembunuhan terhadap para demonstran telah dihentikan

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah memperingatkan bahwa Washington akan mengambil tindakan militer terhadap Teheran jika tindakan keras terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut. Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan memberikan balasan keras atas setiap serangan dari AS.

Kekhawatiran akan terjadinya serangan AS meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Iran menutup wilayah udaranya, sejumlah kota di Israel membuka tempat perlindungan bom, dan AS menarik beberapa personelnya dari kawasan tersebut.

Namun, setelah berhari-hari penuh ketegangan, Trump melunakkan sikapnya dengan mengatakan telah menerima informasi bahwa pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa di Iran telah dihentikan dan tidak ada eksekusi yang direncanakan.

“Mereka (pejabat Iran) mengatakan orang-orang menembaki mereka dengan senjata, dan mereka membalasnya. Dan tahukah Anda, itu salah satunya, tapi mereka mengatakan kepada saya bahwa tidak akan ada eksekusi, jadi saya harap itu benar," kata Trump di Gedung Putih pada Rabu (14/1/2026) malam.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga membantah bahwa Teheran berencana mengeksekusi pengunjuk rasa yang ditangkap.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Kenapa Ukraina Tetapkan Darurat Energi Nasional?

17 Jan 2026, 07:09 WIBNews