Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pengeboman Kota Gaza
pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Intinya sih...

  • IDF akui jumlah korban tewas Gaza mencapai 71.667 jiwa, termasuk kombatan dan warga sipil.

  • Angka korban tewas diprediksi lebih tinggi dari 71 ribu, belum termasuk yang hilang dan tertimbun.

  • Mayoritas korban adalah wanita dan anak-anak, dengan 171 ribu orang luka-luka dan 90% infrastruktur hancur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Israel (IDF) untuk pertama kalinya mengakui validitas data jumlah korban tewas yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza. Berdasarkan laporan surat kabar Haaretz pada Kamis (29/1/2026), pejabat militer Israel kini menerima estimasi kematian sekitar 71 ribu jiwa di Gaza.

Sebelumnya, IDF kerap menolak angka dari otoritas Gaza karena dinilai tidak dapat dipercaya atau menyesatkan. Kini, intelijen militer Israel sedang menilai dampak serangan mereka di wilayah Palestina itu.

1. IDF analisis rasio warga sipil dan kombatan

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total kematian mencapai 71.667 jiwa sejak serangan Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. IDF dilaporkan telah menerima angka tersebut, tetapi mencatat bahwa jumlah itu mencakup kombatan dan warga sipil.

"IDF telah menerima perkiraan Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas bahwa sekitar 71 ribu warga Palestina tewas selama perang," tulis laporan Haaretz.

Militer Israel saat ini sedang menganalisis data untuk memisahkan kategori korban antara anggota militan dan warga biasa. Walau mengakui jumlah total tersebut, Israel berkilah rasio kematian warga sipil berbanding kombatan di Gaza masih lebih rendah dibandingkan konflik lainnya.

Berbagai organisasi internasional termasuk PBB telah berulang kali memverifikasi data kesehatan Gaza. Hingga saat ini, IDF belum memberikan komentar publik terkait pengakuan ini.

2. Jumlah korban tewas diprediksi jauh lebih tinggi

reruntuhan di Kota Gaza. (unsplash.com/mhmedbardawil)

Angka 71 ribu yang diakui militer Israel dinilai masih di bawah jumlah korban sebenarnya di lapangan. Angka tersebut belum mencakup sekitar 10 ribu orang yang diperkirakan masih hilang dan tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.

Penghitungan resmi kementerian juga hanya melacak korban akibat tembakan langsung militer, tanpa menghitung kematian tidak langsung akibat kelaparan atau penyakit. Sebuah studi di jurnal medis The Lancet pada Januari 2025 memperkirakan jumlah kematian nyata bisa 40 persen lebih tinggi karena rusaknya sistem pencatatan sipil.

Profesor Michael Spagat dari University of London memproyeksikan angka kematian sebenarnya sudah melampaui 75 ribu pada awal 2025. Padahal, saat itu pencatatan resmi baru menunjukkan angka di kisaran 45.600 jiwa.

Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, bahkan memperingatkan skenario terburuk berdasarkan estimasi para ilmuwan. Ia menyebut total kematian akibat dampak perang di Gaza bisa mencapai angka ratusan ribu.

"Kita harus mulai memikirkan angka 680 ribu, karena inilah jumlah yang diklaim beberapa ilmuwan sebagai angka kematian sebenarnya di Gaza," ujar Albanese dalam sebuah pernyataan pers PBB, dilansir The New Arab.

3. Mayoritas korban wanita dan anak-anak

anak-anak Gaza. (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Data menunjukkan mayoritas korban tewas adalah kelompok rentan, yakni wanita dan anak-anak. Jika angka yang diajukan Albanese terbukti, sekitar 380 ribu dari total kematian tersebut adalah balita di bawah usia lima tahun.

Selain korban jiwa, serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 171 ribu orang menderita luka-luka. Jumlah korban luka yang sangat besar ini setara dengan sekitar 8 persen dari total populasi Gaza sebelum perang meletus.

Tingginya korban jiwa sejalan dengan laporan kerusakan masif di mana 90 persen infrastruktur sipil Gaza telah hancur total. PBB memperkirakan biaya pembangunan kembali wilayah tersebut membutuhkan dana sedikitnya 7 miliar dolar AS (sekitar Rp117 triliun), dilansir TRT World.

Kondisi kemanusiaan diperparah dengan pelanggaran gencatan senjata yang masih terus terjadi di lapangan. Sedikitnya 492 warga Palestina dilaporkan tewas setelah gencatan disepakati pada Oktober tahun lalu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team