reruntuhan di Kota Gaza. (unsplash.com/mhmedbardawil)
Angka 71 ribu yang diakui militer Israel dinilai masih di bawah jumlah korban sebenarnya di lapangan. Angka tersebut belum mencakup sekitar 10 ribu orang yang diperkirakan masih hilang dan tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Penghitungan resmi kementerian juga hanya melacak korban akibat tembakan langsung militer, tanpa menghitung kematian tidak langsung akibat kelaparan atau penyakit. Sebuah studi di jurnal medis The Lancet pada Januari 2025 memperkirakan jumlah kematian nyata bisa 40 persen lebih tinggi karena rusaknya sistem pencatatan sipil.
Profesor Michael Spagat dari University of London memproyeksikan angka kematian sebenarnya sudah melampaui 75 ribu pada awal 2025. Padahal, saat itu pencatatan resmi baru menunjukkan angka di kisaran 45.600 jiwa.
Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, bahkan memperingatkan skenario terburuk berdasarkan estimasi para ilmuwan. Ia menyebut total kematian akibat dampak perang di Gaza bisa mencapai angka ratusan ribu.
"Kita harus mulai memikirkan angka 680 ribu, karena inilah jumlah yang diklaim beberapa ilmuwan sebagai angka kematian sebenarnya di Gaza," ujar Albanese dalam sebuah pernyataan pers PBB, dilansir The New Arab.