Israel Masih Bombardir Gaza, Total 71.657 Warga Palestina Tewas

- Lebih dari 400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata pada Oktober 2025, menambah total 71.657 warga Palestina yang terbunuh dan melukai 171.400 lainnya sejak perang Israel meletus pada 7 Oktober 2023.
- Krisis kesehatan dan lingkungan akibat runtuhnya insfrastruktur dan sanitasi di Gaza berdampak mengerikan pada penduduknya, dengan hancurnya pabrik desalinasi air dan penumpukan sampah padat di Jalur Gaza.
- Harapan dan kekhawatiran soal rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump, memberi peluang bagi warga Gaza untuk bersatu kembali, namun
Jakarta, IDN Times - Sebanyak tiga warga Palestina tewas dan enam lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza pada Minggu (25/1/2026). Insiden ini menandai pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025, yang didukung oleh Amerika Serikat (AS).
Sumber medis mengatakan pasukan Israel menewaskan 2 warga Palestina dalam serangan terpisah, satu di KhanYounis di Gaza selatan dan satu lagi di daerah Shujaiya-Tuffah di sebelah timur kota Gaza. Israel juga menyerang sebuah bangunan milik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Jabalia, Gaza utara, dan melukai dua warga Palestina.
Sebelumnya, sebuah sumber medis melaporkan bahwa seorang laki-laki tewas akibat tembakan Israel di lingkungan Tuffah. Para saksi mengatakan pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah tenda-tenda yang menampung warga sipil pengungsi di lingkungan tersebut, yang menyebabkan korban jiwa, dilansir Anadolu Agency.
1. Lebih dari 400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata pada Oktober 2025
Sebuah drone Israel juga menghantam menara komunikasi di Jalan Al-Wehda dan melukai empat orang. Gedung tersebut menampung beberapa kantor pers di pusat kota Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setidaknya 484 orang tewas dan 1.321 lainnya terluka sejak gencatan senjata. Jumlah tersebut menambah total 71.657 warga Palestina yang terbunuh dan melukai 171.400 lainnya sejak perang Israel meletus pada 7 Oktober 2023. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Terlepas dari pengumuman fase kedua gencatan senjata, para pejabat Gaza mengatakan bahwa otoritas Israel terus menghalangi upaya rekonstruksi. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan runtuhnya sistem air dan sanitasi secara total, serta ketidaklayakan permanen seluruh lingkungan di wilayah kantong tersebut. Ini berarti keadaan tidak akan membaik dalam waktu dekat bagi warga Palestina yang terpaksa hidup dalam kondisi tidak sehat.
2. Krisis kesehatan dan lingkungan akibat runtuhnya insfrastruktur dan sanitasi

Genosida Israel di Gaza berdampak mengerikan pada penduduknya, di mana perang itu telah menghancurkan dan merusak sebagian besar bangunan di Gaza. Warga Palestina menyebut kampanye itu sebagai upaya sistematis untuk membuat wilayah kantong tersebut tidak layak huni.
Pejabat kota Gaza menggambarkan situasi saat ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan dan lingkungan terberatnya.
"Lebih dari 150 ribu meter pipa dan sekitar 85 persen sumur air di dalam kota Gaza hancur, di samping hancurnya total pabrik desalinasi air," kata Ahmed Driemly, kepala hubungan masyarakat di kota Gaza, dikutip dari Al Jazeera.
Blokade Israel terhadap tempat pembuangan sampah akhir (TPA) utama mengakibatkan penumpukan 700 ribu ton sampah padat di Jalur Gaza, setengahnya berada di kota Gaza.
"Lahan bekas Pasar Firas terpaksa dijadikan pembuangan sementara. Hal ini memicu krisis kesehatan dan lingkungan dengan penyebaran serangga dan tikus, serta kebocoran air limbah ke dalam tangki air tanah yang diperparah saat hujan," kata juru bicara kota, Husni Muhanna.
3. Harapan dan kekhawatiran soal rencana pembukaan kembali perbatasan Rafah

Perbatasan Rafah dengan Mesir, direncanakan buka kembali dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump. Dampak kemanusiaannya memberi peluang bagi warga Gaza yang terpisah dari keluarga selama setahun lebih akibat perang untuk bersatu kembali.
"Pembukaan Rafah menandakan bahwa Gaza tidak lagi tertutup bagi masa depan dan perang," kata Ali Shaath, kepala komite tenokrat Gaza di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Akan tetapi, rencana ini menimbulkan kekhawatiran dari rakyat Palestina bahwa Israel akan menggunakan Rafah sebagai jalan keluar satu arah yang akan membantu pembersihan etnis. Di sisi lain, Tel Aviv menuntut pelucutan senjata Hamas dan pengembalian jenazah tawanan sebagai syarat pembukaan penuh.

















