Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel Bahas Rencana Pengiriman 450 Ribu Tentara Cadangan ke Lebanon
ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)
  • Pemerintah Israel mempertimbangkan mobilisasi hingga 450 ribu tentara cadangan untuk mendukung kemungkinan operasi darat di Lebanon, melampaui batas resmi 260 ribu personel yang berlaku sejak Januari.
  • Militer Israel melancarkan operasi darat terbatas di Lebanon selatan, menargetkan benteng Hizbullah dan infrastruktur teroris sambil memperkuat pertahanan serta berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait situasi perbatasan.
  • Hizbullah membalas dengan menyerang pos militer Israel, memicu eskalasi konflik yang menewaskan ratusan warga sipil dan menyebabkan lebih dari 800 ribu orang mengungsi dari Lebanon selatan dan Beirut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Penyiar publik Israel KAN melaporkan pemerintah Israel tengah mempertimbangkan persetujuan pengiriman hingga 450 ribu prajurit cadangan untuk mendukung kemungkinan operasi darat di Lebanon. Langkah tersebut disebut sebagai bagian dari persiapan militer jika konflik dengan kelompok Hizbullah berkembang menjadi perang terbuka.

Menurut laporan KAN, jumlah personel dalam skala besar itu diproyeksikan untuk menunjang rencana militer yang berkaitan dengan potensi invasi darat ke wilayah Lebanon. Laporan itu juga menyebut sumber informasi tidak diungkapkan.

Dilansir dari Yeni Safak, usulan mobilisasi tersebut akan dibahas oleh para menteri serta Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset guna memperoleh persetujuan. Saat ini batas resmi pemanggilan cadangan berada di kisaran 260 ribu orang berdasarkan keputusan pemerintah pada Januari, sehingga rencana baru tersebut berarti penambahan hampir 190 ribu personel.

1. Militer Israel tingkatkan operasi di wilayah Lebanon selatan

ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler)

Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon terus meningkat seiring rangkaian serangan militer Israel terhadap berbagai fasilitas di wilayah selatan Lebanon. Salah satu sasaran yang dihantam adalah jembatan di atas Sungai Litani yang menurut Israel digunakan pejuang Hizbullah untuk berpindah antarwilayah.

Selain itu Israel juga mempertimbangkan perluasan zona penyangga di Lebanon selatan sambil melakukan koordinasi dengan Amerika Serikat (AS) terkait kondisi di kawasan perbatasan utara. Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut operasi yang berlangsung sebagai tindakan darat terbatas dan terarah.

Militer menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir Divisi ke-91 telah memulai operasi darat terbatas yang menargetkan benteng utama Hizbullah di Lebanon selatan untuk memperkuat posisi pertahanan ke depan.

“Operasi ini merupakan bagian dari upaya untuk membentuk pertahanan ke depan, yang mencakup penghancuran infrastruktur teroris dan penghilangan teroris,” lanjut pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

2. Pertempuran sengit berlangsung di kota strategis Khiam

ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim

Pertarungan paling berat dilaporkan terjadi di sekitar kota Khiam yang dikenal sebagai salah satu basis penting Hizbullah. Kota tersebut berada di dataran tinggi beberapa kilometer dari perbatasan Israel dan dekat Sungai Litani sehingga memiliki pandangan luas ke wilayah Israel utara serta dataran Lebanon di sekitarnya.

Koresponden Al Jazeera Zeina Khodr melaporkan pertempuran besar sedang berlangsung di dalam dan sekitar kawasan Khiam. Ia juga menyebut posisi kota itu memberi keuntungan strategis bagi kedua pihak yang bertempur.

Khodr menjelaskan Khiam berada pada jalur persimpangan penting yang menghubungkan sektor timur dan barat Lebanon selatan. Salah satu rute dari wilayah itu juga mengarah langsung menuju Lembah Bekaa di Lebanon timur yang berada dalam pengaruh Hizbullah.

Menurut Khodr, strategi Israel saat ini berfokus memutus jalur pasokan kelompok tersebut. Langkah itu ditujukan untuk menghalangi Hizbullah membawa senjata maupun pejuang tambahan ke wilayah selatan Sungai Litani.

3. Serangan balasan Hizbullah picu eskalasi konflik

ilustrasi perang (pexels.com/Beyzanur K.)

Dilansir dari TRT World, pada 2 Maret 2026, Hizbullah mulai menyerang sejumlah pos militer Israel sebagai balasan atas operasi Israel di wilayah Lebanon. Serangan itu terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak sebenarnya sudah berlaku sejak November 2024 dan meskipun pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei baru saja terjadi.

Pada hari yang sama Israel memperluas serangan udara hingga mencapai pinggiran selatan Beirut serta sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan timur. Serangan tersebut kemudian diikuti serbuan darat pasukan Israel ke Lebanon selatan pada hari berikutnya.

Perintah evakuasi yang dikeluarkan Israel memaksa lebih dari 800 ribu warga, termasuk perempuan dan anak-anak, meninggalkan rumah mereka di berbagai kawasan Lebanon selatan serta sebagian wilayah Beirut. Perpindahan penduduk terjadi di banyak area yang terdampak operasi militer.

Otoritas Lebanon menyatakan serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 850 orang, termasuk 107 anak-anak dan 66 perempuan. Selain itu 1.933 orang dilaporkan terluka serta sekitar 822 ribu orang mengungsi, dengan jumlah korban diperkirakan masih dapat meningkat jika operasi darat berubah menjadi serbuan skala besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team