Israel Ancam Serang Fasilitas Medis dan Ambulans di Lebanon

- Militer Israel mengancam akan menyerang fasilitas medis dan ambulans di Lebanon, menuduh Hizbullah memanfaatkannya untuk kepentingan militer.
- Serangan Israel sejak awal Maret telah menewaskan sedikitnya 26 paramedis dan melukai puluhan lainnya, sementara Hizbullah menyatakan siap menghadapi konfrontasi panjang.
- Presiden Prancis Emmanuel Macron menawarkan diri sebagai mediator gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, didukung oleh seruan Sekjen PBB untuk menghentikan perang.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel, pada Sabtu (14/3/2026), mengancam akan menargetkan fasilitas medis dan ambulans di Lebanon, dengan alasan fasilitas tersebut digunakan oleh kelompok Hizbullah untuk tujuan militer.
“Kami memperingatkan bahwa penggunaan fasilitas medis dan ambulans oleh militer harus segera dihentikan, dan kami menekankan bahwa jika pendekatan ini tidak dihentikan, Israel akan bertindak sesuai dengan hukum internasional terhadap aktivitas militer apa pun yang dilakukan oleh organisasi teror Hizbullah yang menggunakan fasilitas dan ambulans tersebut,” kata juru bicara militer Israel, Avichay Adraee.
Hizbullah belum memberikan tanggapan terkait ancaman tersebut.
1. 26 paramedis tewas akibat serangan Israel di Lebanon

Sebelumnya, pada Jumat (13/3/2026), serangan Israel menghantam sebuah pusat kesehatan di desa Burj Qalaouiyah, Lebanon selatan. Akibatnya, 12 tenaga medis tewas, termasuk dokter, paramedis, dan perawat. Serangan lainnya di desa Souaneh juga menewaskan dua paramedis.
Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon, sedikitnya 26 paramedis tewas dan 51 lainnya terluka akibat serangan Israel di negara itu sejak 2 Maret. Kementerian mengatakan militer Israel telah berulang kali menargetkan tim ambulans saat mereka sedang melakukan misi penyelamatan, dilansir dari Al Jazeera.
2. Hizbullah siap hadapi konfrontasi panjang dengan Israel

Lebanon kembali terseret ke dalam perang Timur Tengah ketika Hizbullah menyerang Israel pada 2 Maret sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari. Serangan balasan Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 733 orang dan memaksa 822 ribu warga mengungsi di Lebanon.
Dalam pidato terbarunya, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa kelompoknya siap menghadapi konfrontasi jangka panjang dengan Israel.
“Kami telah mempersiapkan diri untuk konfrontasi panjang, dan Insya Allah mereka (Israel) akan terkejut di medan perang. Ini adalah pertempuran eksistensial, bukan pertempuran yang terbatas atau sederhana," kata Qassem.
3. Prancis tawarkan diri untuk mediasi konflik Israel-Hizbullah

Dalam unggahannya di X, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menawarkan diri untuk memediasi gencatan senjata. Ia mengatakan bahwa pemerintah Lebanon terbuka untuk melakukan diskusi langsung dengan Israel dan meminta Tel Aviv memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memulai pembicaraan mengenai penyelesaian konflik.
“Segala sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan Lebanon agar tidak jatuh ke dalam kekacauan,” tulis Macron.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, juga telah mendesak Israel dan Hizbullah untuk mengakhiri perang. Dalam kunjungannya ke Lebanon, ia bertemu dengan kepala staf angkatan bersenjata, Rodolphe Haykal, untuk membahas pentingnya mematuhi gencatan senjata 2024 antara Israel dan Hizbullah, serta perlunya angkatan bersenjata melaksanakan rencananya untuk melucuti senjata sekutu Iran tersebut, dilansir dari France24.















