Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Israel-Hizbullah Saling Tuduh Langgar Gencatan Senjata
ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Omar Ramadan)
  • Israel dan Hizbullah saling tuduh melanggar gencatan senjata setelah keduanya melakukan serangan pada 26 April 2026 di wilayah Lebanon selatan.
  • Gencatan senjata Israel-Lebanon awalnya disepakati pada 16 April 2026 berkat mediasi Amerika Serikat, setelah konflik menewaskan ribuan warga Lebanon.
  • Lebanon mengusulkan perpanjangan gencatan senjata selama satu bulan, namun Israel hanya menyetujui tambahan tiga pekan melalui kesepakatan yang dimediasi AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon makin panas. Sebab, Israel dan Hizbullah kini saling tuduh melanggar gencatan senjata yang sudah disepakati dengan Lebanon. Hal ini karena keduanya sama-sama melakukan serangan pada Minggu (26/4/2026).

Saat ini, Israel masih melakukan serangan ke Lebanon selatan. Sebab, mereka ingin membasmi seluruh anggota Hizbullah yang ada di wilayah tersebut. Sebagai balasan, Hizbullah akhirnya juga melakukan serangan balasan ke Israel. 

Menurut Israel, Lebanon selatan tidak dimasukkan ke dalam gencatan senjata yang sudah disepakati dengan Lebanon. Oleh karena itu, Israel dan pasukannya berdalih bahwa serangan ke wilayah tersebut tidak melanggar gencatan senjata. Namun, Hizbullah mengatakan serangan tersebut telah melanggar gencatan senjata. 

1. Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata berkat mediasi Amerika Serikat

potret bendera Amerika Serikat (unsplash.com/chris robert)

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyepakati gencatan senjata selama sepuluh hari pada 16 April 2026 lalu. Kesepakatan tersebut diraih berkat negosiasi damai yang digelar Israel dan Lebanon pada 14 April. Negosiasi tersebut digelar di Amerika Serikat yang berperan sebagai mediator. 

Gencatan senjata ini membuat Lebanon kini bisa bernapas lega. Sebab, mereka sudah berulang kali diserang Israel yang ingin membasmi milisi Hizbullah sejak 2 Maret lalu. Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.509 orang, sedangkan 7.755 lainnya mengalami luka-luka.

Usai gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Lebanon di Ibu Kota Beirut ramai-ramai turun ke jalan untuk merayakan perdamaian dengan Israel. Hal ini karena warga Lebanon sudah lama menunggu gencatan senjata agar tidak terus terdampak serangan Israel.

2. Gencatan senjata Israel dan Lebanon diperpanjang tiga pekan

potret bendera Israel (kanan) dan Lebanon (kiri) (commons.wikimedia.org/Danielrosehill)

Saat ini, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sudah diperpanjang selama tiga pekan. Kesepakatan tersebut diraih usai delegasi Israel dan Lebanon menggelar pertemuan yang dimediasi oleh AS di Washington DC pada Kamis (23/4/2026) waktu AS atau Jumat (24/4/2026) waktu Indonesia pekan lalu.

“Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga minggu,” tulis Presiden AS, Donald Trump, di Truth Social, seperti dilansir CNBC.

Oleh karena itu, Trump meminta Hizbullah untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah disepakati Israel dan Lebanon. Ia juga berjanji akan melindungi Lebanon dari ancaman Hizbullah yang kerap kali membuat onar.  

3. Lebanon ingin gencatan senjata diperpanjang sebulan

potret bendera Lebanon (pexels.com/Mohamad Mekawi)

Sebetulnya, Lebanon ingin gencatan senjata dengan Israel diperpanjang selama 1 bulan. Sebab, gencatan senjata antara kedua pihak awalnya akan berakhir pada Minggu (26/4/2026).

“Lebanon akan meminta perpanjangan gencatan senjata selama 1 bulan, penghentian pemboman, penghancuran Israel di daerah-daerah tempat Israel berada, dan komitmen terhadap gencatan senjata,” ujar seorang pejabat Lebanon yang enggan disebut namanya kepada AFP, seperti dilansir Times of Israel pada Rabu (22/4/2026). 

Sayangnya, Israel tidak menyetujui usulan tersebut. Oleh karena, dalam pertemuan yang digelar pekan lalu, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon hanya diperpanjang selama tiga pekan. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team