Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

IDF Klaim Tewaskan Lebih dari 150 Anggota Hizbullah di Lebanon

IDF Klaim Tewaskan Lebih dari 150 Anggota Hizbullah di Lebanon
potret pasukan militer Israel (IDF) (commons.wikimedia.org/IDF Spokesperson's Unit)
Intinya Sih
  • IDF mengklaim telah menewaskan lebih dari 150 anggota Hizbullah dan menghancurkan sekitar 300 fasilitas militer sejak serangan ke Lebanon dimulai pada 2 Maret 2026.
  • Israel dan Lebanon menyepakati gencatan senjata sepuluh hari yang dimediasi Amerika Serikat, disambut positif oleh beberapa negara Timur Tengah sebagai langkah meredam konflik.
  • Hizbullah menolak negosiasi damai dengan Israel, namun Presiden Lebanon Joseph Aoun tetap melanjutkan perundingan demi menghentikan serangan yang telah menewaskan ribuan warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pasukan militer Israel (IDF) mengklaim berhasil membunuh lebih dari 150 anggota Hizbullah sejak mulai menyerang Lebanon pada 2 Maret 2026. Klaim tersebut tertuang dalam pernyataan resmi IDF pada Minggu (19/4/2026) yang dikutip Jerusalem Post, Kamis (23/4/2026). 

Salah satu anggota Hizbullah yang berhasil dibunuh IDF adalah Ali Rezza Abbas. Abbas merupakan salah satu tokoh penting yang menjabat sebagai Komando pasukan Hizbullah yang bertugas di Bint Jbeil. Ia berperan penting dalam membantu Hizbullah untuk melakukan serangan balasan ke Israel.

Dalam pernyataannya, IDF juga mengklaim berhasil menghancurkan sekitar 300 fasilitas teknis yang biasa digunakan Hizbullah untuk menyerang mereka. Beberapa di antaranya, seperti mesin peluncur rudal, pusat komando militer, dan gudang senjata.

1. Israel dan Lebanon sudah menyepakati gencatan senjata

Gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata (commons.wikimedia.org/Kidfly182)

Israel dan Lebanon sendiri sudah menyetujui gencatan senjata selama sepuluh hari pada Kamis (16/4/2026) pekan lalu. Kesepakatan itu diraih saat Israel dan Lebanon melakukan negosiasi perdamaian yang dimediasi oleh Amerika Serikat.

Usai gencatan senjata diumumkan, ratusan warga Lebanon di Ibu Kota Beirut ramai-ramai turun ke jalan. Mereka merayakan perdamaian dengan Israel meski hanya akan berjalan selama sepuluh hari. Hal ini karena warga Lebanon sudah lama menunggu gencatan senjata agar tidak terus terdampak serangan Israel.  

Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon ini disambut baik oleh empat negara di Kawasan Timur Tengah, yakni Arab Saudi, Suriah, Yordania, dan Oman. Mereka menyebut gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sebagai langkah tepat untuk meredam konflik di Timur Tengah yang belakangan makin panas. 

2. Israel dan Lebanon akan menggelar negosiasi damai tahap dua

Negosiasi damai.
ilustrasi negosiasi damai (pexels.com/Markus Winkler)

Agar gencatan senjata bisa berubah menjadi kesepakatan perdamaian, Israel dan Lebanon akan menggelar negosiasi tahap kedua. Negosiasi lanjutan tersebut dikabarkan bakal kembali dihelat di AS pada Kamis (23/4/2026) waktu AS atau Jumat (24/4/2026) waktu Indonesia pekan ini. 

“Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan produktif yang dimulai pada 14 April. Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung (antara Israel dan Lebanon) dengan itikad baik antara kedua pemerintah,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS yang tidak disebut namanya pada Senin (20/4/2026) kepada Al Jazeera.

3. Hizbullah menolak Lebanon bernegosiasi dengan Israel

Pasukan milisi Hizbullah sedang berlatih.
potret pasukan milisi Hizbullah (tasnimnews.ir/Tasnim News Agency reporter via commons.wikimedia.org/Tasnim News Agency reporter)

Negosiasi perdamaian yang dilakukan Lebanon dengan Israel ini sempat menuai penolakan dari Hizbullah. Sebab, mereka menilai negosiasi tersebut sama saja menunjukkan bahwa Lebanon menyerah terhadap Israel. 

“Kami menolak negosiasi dengan entitas pendudukan Israel. Negosiasi ini sia-sia. Negosiasi ini membutuhkan konsensus Lebanon untuk mengubah arah,” kata Ketua Hizbullah, Naim Qassem, pada pekan lalu.

Kendati begitu, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan akan tetap melakukan negosiasi perdamaian dengan Israel. Langkah ini bertujuan agar serangan Israel di Lebanon bisa berhenti secara permanen. Terlebih, serangan Israel di Lebanon yang dilakukan sejak 2 Maret lalu sudah menewaskan 2.294 orang, sedangkan 7.544 lainnya mengalami luka-luka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More