Lebanon Tegaskan Ogah Cari Ribut dengan Hizbullah, Tapi Ada Syaratnya!

- Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menegaskan keinginan damai dengan Hizbullah asalkan kelompok itu berhenti menyerang Israel dan tidak mengganggu negosiasi perdamaian tahap kedua.
- Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal ke Israel sebagai balasan atas dugaan lebih dari 200 pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan militer Israel (IDF).
- Konflik antara Hizbullah dan Israel kembali menyeret Lebanon ke situasi perang, menewaskan ribuan warga sipil serta memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi akibat serangan udara Israel.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Lebanon menegaskan tidak ingin mencari masalah dengan Hizbullah meski mereka kerap mengganggu gencatan senjata yang sudah disepakati dengan Israel. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, pada Selasa (21/4/2026).
Salam mengatakan, pihaknya justru ingin mencari damai dengan Hizbullah agar konflik tidak semakin runyam. Kendati begitu, Salam meminta Hizbullah untuk bersikap kooperatif dengan tidak menyerang Israel di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Selain itu, Salam juga meminta Hizbullah untuk tidak mengganggu proses negosiasi perdamaian tahap kedua antara Lebanon dan Israel. Ini bertujuan agar proses negosiasi berjalan lancar sehingga bisa menghasilkan kesepakatan perdamaian jangka panjang.
1. Lebanon dan Israel akan melakukan negosiasi damai tahap dua pekan ini

Lebanon dan Israel sendiri akan menggelar negosiasi damai tahap kedua. Negosiasi tersebut dikabarkan bakal kembali dihelat di Amerika Serikat pada Kamis (23/4/2026) waktu AS atau Jumat (24/4/2026) waktu Indonesia pekan ini.
“Amerika Serikat menyambut baik keterlibatan produktif yang dimulai pada 14 April. Kami akan terus memfasilitasi diskusi langsung (antara Israel dan Lebanon) dengan itikad baik antara kedua pemerintah,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS yang tidak disebut namanya pada Senin (20/4/2026) kepada Al Jazeera.
Sayangnya, di tengah persiapan negosiasi tahap dua dengan Israel, Hizbullah dikabarkan melanggar gencatan senjata. Sebab, mereka melakukan serangan rudal ke pasukan militer Israel (IDF) di Lebanon selatan dan ke wilayah Israel. Serangan tersebut dilakukan pada Selasa.
2. Hizbullah mengaku telah melakukan serangan ke Israel

Dalam pernyataannya, Hizbullah mengakui bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan rudal di Lebanon selatan dan Israel. Selain itu, mereka juga mengaku telah melakukan serangan ke pasukan Israel yang ada di Lebanon utara, tepatnya di wilayah perbatasan Kfar Giladi.
Hizbullah mengatakan, semua serangan yang mereka lakukan merupakan balasan atas serangan pasukan militer Israel (IDF). Sebab, menurut Hizbullah, IDF sudah lebih dahulu melanggar gencatan senjata karena telah menyerang mereka.
Menurut Hizbullah, IDF telah melakukan lebih dari 200 pelanggaran gencatan senjata. Sebab, sejak gencatan senjata disepakati pada pekan lalu, IDF masih kerap melakukan serangan. Oleh karena itu, Hizbullah menyebut serangan yang dilakukan terhadap IDF merupakan cara mereka untuk membela dan mempertahankan diri dari ancaman Israel.
3. Hizbullah kerap menarik Lebanon ke dalam perang dengan Israel

Sebagai informasi, Hizbullah memang kerap menarik Lebanon ke dalam perang melawan Israel. Pada 2024 lalu, misalnya, Hizbullah menyerang Israel sebagai balasan atas dugaan penyadapan yang dilakukan terhadap anggota mereka. Serangan ini lantas memicu serangan balasan Israel ke Lebanon.
Pada 2026 ini, Hizbullah kembali menarik Lebanon ke dalam peperangan dengan Israel. Sebab, milisi tersebut membantu Iran untuk berperang melawan AS dan Israel. Langkah ini membuat Israel menyerang Lebanon pada 2 Maret lalu. Serangan ini bertujuan untuk membasmi Hizbullah.
Sayangnya, meski murni ditujukan ke Hizbullah, serangan yang dilakukan Israel juga memberi dampak negatif kepada warga Lebanon. Sebab, serangan Israel juga menghantam rumah warga dan banyak fasilitas publik yang ada di sana.
Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 2.294 orang. Sementara itu, 7.544 orang lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta orang di Lebanon juga terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.


















