Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem (Sebastian Baryli from Wien, Österreich, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
Pejabat Israel dan Lebanon dijadwalkan melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang di Washington, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (14/4/2026). Namun, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mendesak pemerintah Lebanon untuk menarik diri dari perundingan tersebut, dengan menyebut upaya itu tidak berguna.
Dalam pidatonya yang disiarkan pada Senin, Qassem mengatakan bahwa perundingan tersebut merupakan taktik untuk menekan Hizbullah agar meletakkan senjatanya.
"Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan perundingan ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Jadi, bagaimana Anda bisa melakukan perundingan yang tujuannya sudah jelas?" kata Qassem, dikutip dari Al Jazeera.
Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah setelah Hizbullah menembakkan roket ke Israel pada awal Maret 2026, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Israel membalas dengan melancarkan serangan besar-besaran dan invasi darat.
Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang dan melukai lebih dari 6.500 lainnya. Sekitar 1,2 juta orang juga terpaksa mengungsi.