Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
JD Vance Bela Foto AI Trump, Desak Vatikan Jangan Campuri Politik AS
Wakil Presiden JD Vance menjadi pembawa acara The Charlie Kirk Show (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

  • Hubungan diplomatik AS–Vatikan memanas setelah JD Vance membela Donald Trump terkait unggahan foto AI bergaya religius yang menuai kecaman dan akhirnya dihapus.
  • JD Vance menegaskan foto tersebut hanya humor, serta mendesak Vatikan untuk tidak mencampuri kebijakan luar negeri AS dan fokus pada isu moralitas.
  • Paus Leo XIV menolak tekanan politik dari pemerintahan Trump, menegaskan seruan perdamaian sebagai mandat Injil meski ketegangan diplomatik terus berlanjut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Hubungan diplomatik antara Gedung Putih dan Vatikan mencapai titik terendah baru setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengeluarkan pernyataan keras yang membela Donald Trump. Ketegangan ini dipicu oleh unggahan foto hasil kecerdasan buatan (AI) yang kontroversial serta kritik tajam dari Paus Leo XIV terkait kebijakan luar negeri AS.

Klarifikasi penghapusan foto AI mirip Yesus

Presiden Donald Trump mengunggah ke Truth Social pada hari Minggu sebuah gambar yang tampaknya dihasilkan oleh AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus. (RealDonaldTrump/Truth Social)

Kontroversi bermula ketika Donald Trump mengunggah gambar AI di platform Truth Social yang menampilkan dirinya dengan ikonografi religius menyerupai sosok Yesus. Meski unggahan tersebut memicu kecaman luas dan akhirnya dihapus dari akun resminya, JD Vance menegaskan bahwa hal tersebut hanyalah sebuah humor.

Melansir The Times of Israel, Vance menyebut bahwa Trump adalah sosok yang apa adanya di media sosial. Ia membantah bahwa penghapusan foto tersebut merupakan bentuk permintaan maaf, melainkan karena publik dianggap gagal memahami selera humor Trump yang khas.

JD Vance desak Vatikan untuk fokus pada urusan moralitas saja

Wakil Presiden Amerika Serikat J. D. Vance berbicara dengan para peserta di AmericaFest 2025 di Phoenix Convention Center di Phoenix, Arizona. (Gage Skidmore from Surprise, AZ, United States of America, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Perseteruan ini semakin meruncing setelah Paus Leo XIV secara terbuka mengkritik kebijakan militer AS di Selat Hormuz sebagai tindakan yang berakar pada "delusi kemahakuasaan." Menanggapi kritik tersebut, JD Vance meminta pihak Takhta Suci untuk membatasi diri dan tidak mencampuri urusan publik maupun kebijakan nasional Amerika Serikat.

Dikutip dari The Washington Examiner, Vance menyatakan bahwa sebaiknya Vatikan "tetap berpegang pada masalah moralitas" dan menyerahkan keputusan strategis negara kepada Presiden. Pernyataan ini menegaskan posisi administrasi Trump yang menolak intervensi religius dalam urusan geopolitik global.

Respons Paus Leo XIV terhadap tekanan administrasi

Paus Leo XIV saat audiensi dengan media (12 Mei 2025) (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Di sisi lain, Paus Leo XIV memberikan tanggapan balik yang menegaskan posisinya. Pemimpin umat Katolik dunia tersebut menyatakan tidak takut pada tekanan politik dari pemerintahan Trump. Paus menekankan bahwa seruan perdamaian yang ia sampaikan adalah mandat dari Injil dan ia akan terus berbicara menentang peperangan, terlepas dari ketegangan diplomatik yang terjadi.

Hingga saat ini, perselisihan verbal antara kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda mereda, di tengah situasi Selat Hormuz yang masih menjadi fokus utama ketegangan militer internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team