Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi bendera Jepang. (twitter.com/iaeaorg)
Ilustrasi bendera Jepang. (twitter.com/iaeaorg)

Intinya sih...

  • Pihak Jepang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penangkapan kapten kapal China di ZEE Jepang.

  • Jepang memerangi penangkapan ikan ilegal di perairannya dengan menyita kapal nelayan China, yang merupakan tindakan pertama sejak 2022.

  • Insiden penangkapan kapten kapal China terjadi di tengah ketegangan hubungan Tokyo-Beijing yang sedang berada di titik terendah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang Jepang membebaskan seorang kapten kapal nelayan asal China berusia 47 tahun, Zheng Nianli, pada 13 Februari 2026. Keputusan ini diambil setelah insiden penahan karena melanggar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Jepang.

Pembebasan dilakukan sebelum pukul 20:00 waktu setempat, setelah Beijing menyerahkan dokumentasi yang memastikan pembayaran uang jaminan, dilansir NHK News pada Sabtu (14/2/2026).

Kronologi penangkapan bermula pada Kamis (12/2/2026), ketika kapal patroli Jepang mencegat kapal China di 165 km barat daya Pulau Meshima, Prefektur Nagasaki, wilayah yang dipastikan berada di dalam ZEE Jepang dan bukan merupakan wilayah sengketa. Zheng ditangkap setelah mengabaikan perintah berhenti untuk inspeksi.

1. Pihak Jepang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut

Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara mengatakan dalam konferensi pers rutin pada Jumat bahwa sementara penyelidikan kasus tersebut berlanjut, negaranya akan bertindak dengan tegas melalui kegiatan penegakan hukum untuk mencegah dan menghalau operasi ilegal oleh kapal penangkapan ikan asing.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan pemerintah China mewajibkan para nelayan negara itu untuk beroperasi sesuai dengan hukum.

"Kami berharap Jepang akan mematuhi sepenuhnya Perjanjian Perikanan China-Jepang, menegakkan hukum secara adil, dan melindungi keselamatan serta hak dan kepentingan sah para awak kapal China," katan Lin, dikutip dari Kyodo News.

2. Jepang memerangi penangkapan ikan ilegal di perairannya

Ilustrasi penangkapan ikan. (unsplash.com/Duangphorn Wiriya)

Tindakan penyitaan kapal nelayan China tersebut merupakan yang pertama dilakukan oleh Badan Perikanan Jepang sejak 2022. Meski kapal tersebut berkapasitas besar, petugas tidak menemukan hasil tangkapan di atas kapal yang berawak 11 orang tersebut.

Badan tersebut melakukan inspeksi di atas kapal dan operasi lainnya, guna memerangi penangkapan ikan ilegal di perairan Jepang. Tahun lalu, mereka menyita dua kapal penangkap ikan asing, dari Taiwan dan Korea Selatan.

Menurut laporan tahunannya, pada 2024 lembaga tersebut melakukan 7 inspeksi di atas kapal. Pihaknya menyita sebuah kapal penangkap ikan Taiwan dan menyita alat penangkap ikan ilegal dalam 18 kasus.

3. Insiden penangkapan kapten kapal China terjadi di tengah ketegangan hubungan Tokyo-Beijing

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi (kiri) saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC 2025 di Korsel (31/10/2025). (Dok. laman resmi Kemlu China/www.fmprc.gov.cn)

Meski kapten kapal telah dibebaskan, insiden ini membangkitkan ingatan atas peristiwa serupa di Laut China Timur pada 2010, yang menjadi insiden diplomatik besar antar kedua negara.

Dilansir The Japan Times, insiden penangkapan baru-baru ini juga terjadi di tengah hubungan Tokyo-Beijing yang sedang berada di titik terendah. Ketegangan meningkat sejak Perdana Menteri Sanae Takaichi menjabat dan menyatakan kesiapan militer Jepang untuk melakukan intervensi, jika China menyerang Taiwan.

Sebagai balasan atas pernyataan Takaichi, Beijing sebelumnya telah melakukan latihan militer udara bersama Rusia dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warga negara China ke Jepang. Beijing juga memperketat kontrol ekspor ke Jepang untuk barang-barang yang berpotensi memiliki kegunaan militer, yang memicu kekhawatiran bahwa China dapat menyiksa pasokan mineral langka yang vital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team