Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jurus Indonesia Pasarkan Kuliner Lewat Gastrodiplomasi
Festival Indonesia Spice Up Oslo 2024. (dok. KBRI Oslo)

Jakarta, IDN Times - Diplomasi Indonesia tak hanya soal politik atau ekonomi. Saat ini, Indonesia tengah gencar mempromosikan makanan khas Nusantara ke berbagai belahan dunia.

Kementerian Luar Negeri RI kini memiliki sebuah jurus untuk memperkenalkan keragaman makanan Nusantara, yang merupakan aset dari soft power diplomacy.

Direktur Diplomasi Publik Kemlu RI, Ani Nigeriawati menuturkan bahwa gastrodiplomasi (diplomasi lewat makanan) ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diplomasi publik Indonesia.

“Awalnya memang dari Kemenkomarves yang mencoba untuk merancang sebuah strategi dengan tujuan untuk membuat makanan Indonesia go global. Menginternasional-kan makanan Indonesia. Lalu ada target juga untuk membangun perluasan dari jumlah restoran Indonesia di luar negeri dengan target 4 ribu restoran,” kata Ani, kepada IDN Times, akhir Agustus 2024 lalu.

Selain itu, diupayakan juga penetrasi produk-produk ekspor Indonesia, makanan, serta rempah-rempah Indonesia untuk bisa lebih mendunia lagi, masuk ke pasar-pasar internasional. Ani pun mengakui bahwa makanan Indonesia selalu dibanding-bandingkan dengan beberapa negara lain di kawasan yakni Thailand dan Vietnam.

“Tapi keberagaman makanan Indonesia ini jadi tantangan sendiri. Bagaimana kita bisa membangun sebuah standarisasi. Contoh kalau Tom Yum ya Tom Yum aja. Kalau di Indonesia, soto itu ada macam-macam, ada soto betawi, soto lamongan, soto padang, dan lain-lain,” ungkap Ani.

1. Slogan Indonesia Spice Up dan mengayomi para diaspora di luar negeri

Festival Indonesia Spice Up Oslo 2024. (dok. KBRI Oslo)

Ani mengungkapkan, kini Indonesia juga memiliki slogan Indonesia Spice Up yang bisa dipakai untuk seluruh perwakilan Indonesia di luar negeri, dalam mempromosikan kuliner tanah air. Para perwakilan bisa menggunakan slogan Indonesia Spice Up, dengan menyesuaikan karakteristik setempat.

“Contoh yang terakhir di Oslo, Norway, Indonesia Spice Up Oslo. Tagline Indonesia Spice Up the World ini, kita viralkan, kita kirim virus-virusnya ke semua perwakilan RI yang menyelenggarakan festival-festival makanan Indonesia agar menggunakan tagline Indonesia Spice Up negara tersebut. Misalnya, Indonesia Spice Up Australia, Indonesia Spice Up Denmark, Indonesia Spice Up US, dan seterusnya,” ujar Ani.

Selain itu, Kemlu juga bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk memberikan capacity building kepada restoran-restoran Indonesia, khususnya yang digerakkan oleh para diaspora di luar negeri.

“Capacity building-nya ini soal produk-produk makanan yang mereka jual, standar oleh market setempat. Kita arahkan supaya pantas dijual dan dipresentasikan. Kita juga memberikan capacity building agar mereka bisa mendapatkan akses pendanaan,” ucap Ani. 

Pasalnya, restoran-restoran Indonesia di luar negeri yang dimiliki oleh diaspora umumnya tidak memiliki dana yang besar untuk mengembangkan usahanya.

“Kita coba memfasilitasi lewat program crowdfunding dari Kemenparekraf. Dengan menarik bank-bank Himbara kemudian ada perusahaan lain membantu juga. Nanti mereka presentasi seperti apa restorannya, menunya apa, target omset dan lain-lain agar bisa mendapatkan pendanaan,” tutur Ani.

2. Kemlu sasar beberapa negara untuk memasarkan kuliner Indonesia

Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Ani Nigeriawati. (IDN Times/Sonya Michaella)

Ani juga memaparkan bahwa penetrasi pemasaran kuliner Indonesia ini tidak bisa serempak di seluruh negara, di mana ada perwakilan Indonesia di situ, melainkan diawali dengan beberapa negara yang sudah familiar dengan makanan Indonesia.

“Fokus kita saat ini adalah Australia, Belanda dan Arab Saudi, lalu Uni Emirat Arab. Kenapa? Ini basis masyarakat Indonesia-nya juga banyak. Lalu kalau Arab Saudi banyak jemaah umrah dan haji, sudah pasti. Kalau UEA, market di sana cukup besar,” katanya.

Ani mencontohkan di Arab Saudi bahwa kini sedang ada pengembangan restoran Indonesia. Ada dua perusahaan yang bergerak di bidang makanan cukup besar di tanah air, yang ingin buka cabang di Arab Saudi. Ani menyebutkan, jenis makanannya adalah masakan padang dan ayam goreng.

“Kita fasilitasi untuk memperoleh semua informasi yang dibutuhkan tentang bagaimana investasi di negara tersebut. Prosedur mendirikan usaha sepert apa, lalu kita juga kerja sama dengan perwakilan kita di sana untuk membantu memfasilitasi,” ujar Ani.

Di sisi lain, Ani menjelaskan bahwa di empat negara yang ia sebutkan tadi, hampir dipastikan restoran Indonesia pasti laku keras dan diminati.

3. Indonesia Gastrodiplomacy Series

Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) di Labuan Bajo. (dok. Kemlu RI)

Jurus lain yang dikeluarkan Kemlu adalah Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS). Sudah tiga kali IGS ini digelar dan dalam waktu dekat akan dilaksanakan edisi ke-4.

“Edisi pertama itu kita undang para duta besar asing yang perempuan untuk untuk memasak makanan Indonesia. Yang simpel-simpel aja seperti pepes, brongkos ayam. Yang kedua, kita mengundang para dubes asing di sini untuk menjamu mereka dalam tema rekonstruksi makanan Indonesia dari relief Candi Borobudur. Di relief Candi Borobudur itu kan ada beberapa makanan yang dipersembahkan untuk raja. Nah itu kita coba rekonstruksi,” ungkap Ani.

“Yang ketiga, IGS mengajak dubes-dubes asing untuk kunjungan ke Labuan Bako. Sekalian promosi Labuan Bajo juga. Karena kalau kita bicara makanan daerah, wilayahnya pun akan ikut dipromosikan, kan. Jadi yang edisi ke-3 ini ada potensi ekonominya juga, potensi investasinya. Kita ajak mereka untuk melihat investasi di Parapuar,” lanjutnya.

Menurut Ani, lewat IGS ini, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui lantaran tidak hanya mempromosikan makanan Nusantara saja, namun juga daerah-daerah Indonesia serta budayanya.

“Nah untuk edisi ke-4, rencananya kita akan mengajak para dubes ke Mandalika. Ini jadi salah satu cara untuk mempromosikan destinasi wisata juga yang sudah menjadi prioritas pemerintah. Kita juga bekerja sama dengan kementerian lain, pihak-pihak lain karena ketika kita bicara soal diplomasi publik, pelaksana utamanya itu mencakup semuanya,” ucap Ani.

4. Ekspansi 4 ribu restoran Indonesia di seluruh dunia

Suasana Toba, restoran makanan Indonesia di London, Inggris, yang didirikan diaspora Indonesia. (dok. KBRI London)

Ambisi Indonesia sendiri dalam giat promosi kuliner Nusantara ini adalah memiliki 4 ribu restoran Indonesia di seluruh dunia. Menurut data Kemlu terakhir pada 2021, terhitung ada 1.117 restoran di Indonesia yang tersebar di penjuru dunia.

“Jumlahnya masih segitu, berarti apa? Perwakilan RI kita harus memfasilitasi berbagai informasi yang dibutuhkan di sini. Bagaimana buka izin usaha di sana, bagaimana kira-kira target market di sana, ya kan. Kemudian produk rempah-rempah Indonesia, proses masuk ke sananya mudah atau tidak sih, gitu,” tuturnya.

Selain itu, melalui festival makanan dan budaya yang digelar oleh perwakilan Indonesia di luar negeri, serta membawa slogan Indonesia Spice Up tersebut, juga menjadi cara untuk memperkenalkan makanan serta budaya Nusantara.

5. Tantangan dalam memasarkan makanan Indonesia

Perayaan HUT RI ke-79 di Perth, Australia. (dok. KJRI Perth)

Ani juga mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi dalam memasarkan makanan Indonesia di luar negeri, maupun bahan-bahan yang berasal dari Indonesia.

“Tantangannya adalah pertama terkait dengan market penetration ya. Kami mendorong perwakilan RI melalui market intelligence yang mereka selalu sampaikan ke pusat setiap tahunnya. Misalnya di Australia ini loh kira-kira challenge-nya produk makanannya harus memenuhi misalnya regulasi A sampai D. Jadi produk-produk rempah yang bisa masuk di pasar tersebut adalah produk-produk yang misalnya tidak mengandung MSG. Jadi market intelligence yang dibuat oleh perwakilan ini bisa benar-benar efektif membantu upaya untuk pembukaan market di situ,” tuturnya.

Selain itu, keinginan dari para pembeli untuk membeli bahan-bahan makanan juga dihadapkan dengan banyak pilihan yang hampir sama asalnya, yaitu dari Indonesia, Thailand, Vietnam.

“Sebetulnya seperti Belanda dengan Australia, dari pembicaraan saya dengan beberapa pengusaha restoran di sana, produk Indonesia tuh udah mulai mudah diperoleh. Cuma kadang mereka suka milih, contoh nih misalnya daun pisang, milih daun pisangnya belinya dari Vietnam dari pada Indonesia,” ucap Ani.

“Kenapa? Yang made in Indonesia harganya lebih mahal dari made in Vietnam. Kenapa bisa lebih mahal? Karena supply-nya yang Vietnam lebih banyak, distributornya juga lebih banyak. Nah sementara kita distributornya masih sedikit,” sambungnya.

Dengan tantangan-tantangan yang ada di depan ini, Ani menegaskan bahwa pemerintah selalu siap sedia untuk bekerja sama dengan para diaspora serta para pemilik restoran Indonesia di luar negeri untuk memajukan pemasaran masakan Nusantara di dunia.

Editorial Team

Related Article