Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi kapal (unsplash.com/Paddy Pohlod)
ilustrasi kapal (unsplash.com/Paddy Pohlod)

Intinya sih...

  • Operasi pencarian korban hilang masih terus berlangsung, dengan seluruh tim pertahanan sipil dikerahkan untuk mencari korban.

  • Standar keselamatan transportasi sungai di Sudan masih lemah, menyoroti rapuhnya transportasi sungai dan lambatnya respons otoritas setempat.

  • Pada 2018, 23 orang tewas dalam kecelakaan serupa di Sungai Nil, yang menyoroti penggunaan perahu tradisional karena jumlah jembatan yang terbatas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebuah kapal feri penumpang tenggelam di negara bagian Sungai Nil, Sudan utara, pada Rabu (11/2/2026) malam. Sedikitnya 21 orang dilaporkan tewas, sementara beberapa lainnya masih hilang.

Dilansir dari Al Jazeera, Mayor Jenderal Polisi Qurashi Hussein, asisten direktur jenderal pertahanan sipil Sudan, mengatakan kapal berbahan kayu itu membawa 30–35 penumpang saat berlayar antara desa Tayba al-Khawad dan Deim al-Qarai. Di antara para penumpang terdapat perempuan, anak-anak dan lansia.

Saksi mata mengatakan kapal tersebut terbalik akibat gelombang tinggi. Sejauh ini, enam atau tujuh orang berhasil diselamatkan, sementara 21 jenazah telah ditemukan.

1. Operasi pencarian korban hilang masih terus berlangsung

ilustrasi kapal (unsplash.com/freestocks)

Hussein mengungkapkan bahwa seluruh tim pertahanan sipil di negara bagian Sungai Nil telah dikerahkan untuk mencari korban hilang. Pihak berwenang juga telah mengirimkan tim dari Khartoum, ibu kota Sudan, untuk membantu operasi tersebut.

“Tim kami masih mencari jenazah korban tenggelam di Sungai Nil,” ujarnya.

Dewan Kedaulatan Sudan mengeluarkan pernyataan pers yang menyampaikan duka cita atas kematian 21 orang tersebut. Korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak.

2. Standar keselamatan transportasi sungai di Sudan masih lemah

kapal feri (unsplash.com/Kat van der Linden)

Dalam pernyataan di X, Jaringan Dokter Sudan, sebuah asosiasi tenaga medis di negara itu, mengatakan bahwa tragedi tersebut menyoroti rapuhnya transportasi sungai di negara tersebut dan ketiadaan persyaratan keselamatan dasar.

Selain itu, lambatnya respons otoritas setempat dan tim pertahanan sipil pada jam-jam krusial setelah kapal tenggelam dinilai turut memperparah skala bencana.

Kelompok itu pun menyerukan kepada pihak berwenang untuk segera mengambil langkah-langkah guna menjamin keselamatan transportasi sungai dan mencegah terulangnya bencana serupa.

3. 23 orang tewas akibat kecelakaan serupa pada 2018

gambar peta Sudan (unsplash.com/Lara Jameson)

Insiden tenggelamnya kapal pada Rabu bukanlah tragedi pertama yang terjadi di sungai di wilayah tersebut. Pada 2018, sedikitnya 23 orang, sebagian besar anak-anak, tewas ketika perahu yang mereka tumpangi tenggelam di Sungai Nil saat dalam perjalanan ke sekolah.

Dilansir dari BBC, perahu tradisional masih umum digunakan untuk menyeberangi Sungai Nil karena jumlah jembatan yang masih terbatas, terutama di daerah pedesaan.

Sudan telah dilanda konflik sejak April 2023, ketika pertempuran pecah antara miliiter Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF). Perang tersebut telah menghancurkan sebagian besar wilayah negara itu, khususnya Khartoum dan daerah seperti Darfur. Ratusan ribu orang dilaporkan tewas dan jutaan lainnya mengungsi akibat konflik tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team